Hujan dan Suasana Hati: Kebetulan atau Ada Penjelasannya? -->

Header Menu

Hujan dan Suasana Hati: Kebetulan atau Ada Penjelasannya?

Jurnalkitaplus
21/02/26




Jurnalkitaplus - Hujan sering kali menghadirkan suasana berbeda. Ada yang merasa tenang dan nyaman, tetapi tak sedikit juga yang merasa melankolis atau sedih tiba-tiba ketika tetesan hujan jatuh dari langit. Mengapa hujan bisa memengaruhi suasana hati kita? Ternyata, ada beberapa faktor psikologis dan biologis yang menjelaskan fenomena ini, bukan sekadar perasaan semata.

Cahaya Matahari yang Berkurang dan "Mood Chemistry"

Salah satu alasan utama hujan dapat memengaruhi suasana hati berkaitan dengan paparan cahaya matahari. Saat hujan turun, langit cenderung gelap dan sinar matahari yang masuk ke tubuh kita jauh lebih sedikit. Menurut psikolog klinis dari Universitas Indonesia, A. Kasandra Putranto, kondisi ini membuat produksi serotonin, yaitu neurotransmitter yang berhubungan dengan perasaan bahagia, jadi menurun. Kondisi inilah yang bisa menyebabkan perasaan terasa lebih "gelap", melankolis, atau bahkan galau ketika hujan turun. 

Ini juga yang sering dibahas dalam konteks ilmiah cuaca dan suasana hati: ketika kurang sinar matahari, tubuh memproduksi lebih banyak melatonin (hormon yang membuat kita mengantuk) dan lebih sedikit serotonin, sehingga suasana hati bisa berubah dan energi terasa turun. 

Perubahan Aktivitas dan Sosialisasi

Alasan lain yang disebutkan dalam penjelasan media di Indonesia adalah bahwa hujan sering membatasi aktivitas luar ruangan. Ketika hujan deras, kita cenderung tinggal di dalam rumah, berkurang kesempatan bersosialisasi atau bergerak. Kurangnya aktivitas fisik dan interaksi sosial juga dapat membuat suasana hati terasa lebih berat atau monoton, terutama bagi mereka yang sehari-harinya aktif. 

Selain itu, hujan dan cuaca buruk sering membuat jadwal kegiatan berubah, pekerjaan atau rencana dengan teman mungkin tertunda dan hal ini juga berkontribusi pada perubahan mood yang kita rasakan.

Hujan Bisa Juga Menenangkan

Bukan berarti hujan selalu membuat suasana hati jadi sedih. Ada juga sisi positifnya. Hujan sering membawa rasa nyaman, suara tetesan air, dan udara yang lebih segar. Sensasi suara hujan yang jatuh dikenal sebagai "white noise" alami yang dapat membantu otak kita rileks karena ritme suara yang konsisten. Banyak orang merasa tenang atau terlepas dari stres ketika mendengar suara hujan, sehingga hujan bisa menjadi teman untuk fokus, relaksasi, atau bahkan tidur yang lebih nyenyak. 

Ini menunjukkan bahwa hujan tidak selalu berdampak negatif. Cara kita merasakan hujan sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita merespons situasi itu secara pribadi, apakah kita menikmati suasana senyap, atau merasa terganggu karena energi kita turun.

Gabungan Biologi dan Pengalaman Pribadi

Jika dilihat secara ilmiah, reaksi emosional terhadap hujan berasal dari dua hal utama:

1. Biologi tubuh, yaitu hubungan antara cahaya matahari dengan hormon yang memengaruhi mood.

2. Pengalaman dan kebiasaan sehari-hari, seperti bagaimana kita biasanya menghabiskan waktu saat hujan, serta kenangan atau asosiasi yang terbangun dari pengalaman hujan sebelumnya.

Faktor-faktor ini tidak sama bagi setiap orang, sehingga respons setiap orang terhadap hujan bisa berbeda. Ada yang merasa sedih, ada yang merasa rileks, ada juga yang justru merasa kreatif dan produktif saat hujan turun.

Hujan bukan sekadar fenomena cuaca. Ia juga menyentuh pengalaman emosional kita karena kombinasi kurangnya cahaya matahari, perubahan aktivitas sosial, serta persepsi pribadi terhadap suasana sekitar. Itulah sebabnya hujan bisa terasa tenang bagi sebagian orang, namun terasa galau bagi yang lain.

Jadi, ketika hujan turun dan suasana hatimu ikut berubah, itu bukan sekadar kebetulan, tubuh dan pikiranmu sedang berinteraksi langsung dengan alam. *(NM)



Referensi: