Ketika Raja Afrika Senggol Ekonomi Negara Lain Hanya Pakai Uang Jajan -->

Header Menu

Ketika Raja Afrika Senggol Ekonomi Negara Lain Hanya Pakai Uang Jajan

Jurnalkitaplus
10/02/26



Ted-Ed 

Jurnalkitaplus - Jika seseorang bertanya kepada Sobat siapa orang terkaya dalam sejarah, mengkin kamu menjawab seorang bankir miliarder atau petinggi perusahaan seperti Bill Gates atau John D. Rockefeller. 

Padahal sepanjang sejarah ada Raja Afrika, Musa Keita I.

Memerintah Kekaisaran Mali pada abad ke-14 Masehi, Mansa Musa atau "Raja dari Segala Raja" ini mengumpulkan kekayaan yang bisa disebut salah satu orang terkaya yang pernah hidup. 

Ketika Raja Musa berkuasa pada tahun 1312 sebagian besar Eropa sedang dilanda kelaparan dan perang saudara. Sedangkan di saat yang sama banyak kerajaan Afrika dan dunia Islam sedang berkembang pesat. 

Raja Musa berperan besar membawa hasil perkembangan itu ke kekaisarannya. 

Menguasai kota Timbuktu secara strategis dan membangun kembali kekuatan kota Gao, ia memperoleh kendali atas rute perdagangan penting antara Mediterania dan Pantai Afrika Barat, melanjutkan ekspansi memperluas wilayah Mali. 


Ted-Ed

Wilayah Kekaisaran Mali kaya akan sumber daya alam, seperti emas dan garam. 

Dunia pertama kali menyaksikan besarnya kekayaan Mansa Musa pada tahun 1324 ketika ia melakukan perjalanan haji ke Mekah. Bukan tipe orang yang bepergian dengan anggaran hemat, ia membawa rombongan yang membentang sejauh mata memandang. 

Jessica Smith dalam Ted-Ed "Mansa Musa, The Wealthiest people who ever lived" pada 18 Mei 2025 lalu menyebut perjalanan ini sebagian besar berdasarkan kesaksian lisan dan catatan tertulis yang berbeda-beda, sehingga sulit untuk menentukan detail pastinya. Namun, sebagian besar pihak setuju akan besarnya skala perjalanan tersebut. 

Para penulis sejarah menggambarkan rombongan terdiri dari puluhan ribu tentara, warga sipil, dan budak, 500 pembawa pesan yang membawa tongkat emas dan berpakaian sutra halus, serta banyak unta dan kuda yang membawa emas batangan dalam jumlah berlimpah. 

Berhenti di kota-kota seperti Kairo, Mansa Musa dikabarkan menghabiskan emas dalam jumlah besar, memberikannya kepada orang miskin, membeli suvenir, hingga membangun masjid di sepanjang jalan. 


Masjid Agung Djenné, peninggalan Raja Musa yang ikonik, terletak di kota Djenné, Mali, Afrika Barat. (Alkebulan.media)

Rupanya pengeluaran dirinya mengguncang ekonomi regional, menyebabkan inflasi massal. 

Perjalanan ini disebut memakan waktu lebih dari setahun, dan pada saat Mansa Musa kembali, kisah-kisah kekayaannya yang luar biasa telah menyebar ke pelabuhan-pelabuhan Mediterania. 

Mali dan rajanya diangkat ke status hampir legendaris, diperkuat dengan pencantuman mereka dalam Atlas Catalan tahun 1375. Merupakan salah satu peta dunia terpenting dari Eropa Abad Pertengahan, peta itu menggambarkan Sang Raja memegang tongkat kerajaan dan bongkahan emas yang berkilauan. 

Namun kekayaan materi bukan satu-satunya perhatian sang raja. Sebagai seorang Muslim, ia menaruh perhatian khusus pada Timbuktu, yang sudah menjadi pusat agama dan pembelajaran sebelum dianeksasi. 

Sekembalinya dari haji, ia membangun Masjid Agung Djinguereber di sana dengan bantuan seorang arsitek Andalusia. Ia juga mendirikan universitas besar yang semakin meningkatkan reputasi kota tersebut, dan menarik para sarjana serta pelajar dari seluruh dunia Islam. 

Di bawah kepemimpinan Mansa Musa Kekaisaran tersebut menjadi terurbanisasi, sekolah-sekolah dan masjid-masjid di ratusan kota dipadati penduduknya. 

Warisan kaya sang raja bertahan selama turun-temurun dan hingga hari ini, terdapat mausoleum, perpustakaan, dan masjid yang berdiri sebagai bukti masa keemasan sejarah Mali. (ALR-26)