Lonely in a Crowd: Tantangan Kesehatan Mental dalam Dunia Overconnected -->

Header Menu

Lonely in a Crowd: Tantangan Kesehatan Mental dalam Dunia Overconnected

Jurnalkitaplus
12/02/26

Di era digital tahun 2026 ini, kita hidup dalam paradoks yang aneh. Secara teknis, kita adalah generasi yang paling "terhubung" dalam sejarah manusia. Kita bisa mengirim pesan ke belahan dunia lain dalam hitungan detik, melihat apa yang dimakan teman lama kita di Instagram, hingga menghadiri rapat virtual tanpa meninggalkan tempat tidur.

Namun, di balik layar yang menyala terang, ada sebuah epidemi sunyi yang menyebar: kesepian di tengah keramaian (lonely in a crowd). Ilusi Koneksi vs. Kedekatan Emosional

Masalah utamanya bukan kurangnya interaksi, melainkan kualitas dari interaksi tersebut. Media sosial seringkali hanya memberikan "remah-remah" koneksi sosial.

  1. Koneksi Dangkal: Kita memiliki ratusan "teman" atau "pengikut", tetapi sedikit sekali yang benar-benar bisa kita hubungi saat mengalami krisis emosional.

  2. Kurasi Kehidupan: Kita cenderung hanya menampilkan sisi terbaik kita secara online. Hal ini menciptakan jarak emosional karena kita merasa tidak bisa menjadi diri yang rapuh atau apa adanya di ruang digital.

mekanisme psikologis alasan mengapa overconnected justru membuat kesepian?

Secara neurologis, otak kita dirancang untuk interaksi tatap muka yang melibatkan kontak mata, bahasa tubuh, dan nada suara. Ketika elemen-elemen ini hilang dan digantikan oleh teks atau emoji, otak tidak mendapatkan "nutrisi sosial" yang cukup.

Fenomena Perbandingan Sosial: Terus-menerus melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna memicu perasaan tidak mampu dan isolasi. Kita merasa tertinggal (FOMO), yang secara ironis membuat kita semakin menarik diri dari interaksi nyata.

dampak pada kesehatan mental 

Kesepian kronis dalam dunia yang overconnected bukan sekadar masalah perasaan sedih. Ini memiliki dampak fisik dan mental yang nyata:

  1. Kecemasan Sosial: Ketakutan akan dihakimi secara online membuat orang semakin cemas saat harus berinteraksi langsung.

  2. Depresi: Rasa terasing di tengah lautan informasi dapat memicu hilangnya makna hidup.

  3. Kelelahan Digital (Digital Burnout): Otak yang terus-menerus dipaksa memproses informasi sosial tanpa henti akan mengalami kelelahan ekstrem.

strategi menghadapi digital loneliness 

Untuk keluar dari jebakan ini, kita perlu melakukan kalibrasi ulang terhadap cara kita berinteraksi dengan teknologi:

  1. Prioritaskan Kedalaman, Bukan Keluasan: Lebih baik memiliki 3 teman bicara yang berkualitas daripada 3.000 pengikut yang anonim.

  2. Jadwalkan Detoks Digital: Berikan ruang bagi otak untuk merasa "sepi" yang sehat (solitude) tanpa gangguan notifikasi.

  3. Gunakan Teknologi sebagai Jembatan, Bukan Tujuan: Gunakan media sosial hanya untuk merencanakan pertemuan di dunia nyata, bukan sebagai penggantinya.

FAI-32 

sumber referensi : 

world health organization (WHO)

Journal of cyberpsychology 

Pew Research Center 

Harvard Study od Adult Develpoment