Pernah nggak sih, saat membaca buku kita keasikan sampai merasa masuk ke dunianya? Ada momen ketika kita berpikir, "Kok ceritanya relate banget sama hidupku, ya?" atau "Tokohnya kayak lagi mewakili aku. Aku banget sih ini." Hal yang sama juga sering terjadi saat menonton film. Tokoh yang digambarkan rasanya punya sifat, cara berpikir, atau luka yang mirip dengan diri sendiri. Membaca dan menonton pun jadi terasa lebih hidup, karena kita bisa membayangkan apa yang sedang dijalani tokoh tersebut. Kadang, tanpa sadar, dari sanalah kita justru mulai mengenal diri sendiri yaitu lewat sosok fiksi yang terasa terlalu nyata.
Kedekatan penikmat karya dengan tokoh fiksi sering kali tidak lahir dari cerita yang besar atau konflik yang dramatis. Justru emosi-emosi sederhana yang ditampilkan secara jujur, seperti ragu, takut gagal, merasa tidak cukup, atau ingin dipahami, menjadi pintu awal munculnya keterhubungan itu. Emosi-emosi ini terasa dekat karena merupakan bagian dari pengalaman manusia sehari-hari. Dalam konteks ini, pembaca atau pun penonton tidak sedang menilai benar atau salah, melainkan memberi ruang untuk mengamati perasaan yang mungkin pernah, sedang, atau akan dialami.
Pada titik ini, tokoh fiksi berfungsi sebagai cermin. Bukan untuk menunjukkan bagaimana seharusnya seseorang menjalani hidup, melainkan memperlihatkan pengalaman batin manusia apa adanya. Melalui cerita orang lain, penikmat karya dapat mengenali lapisan-lapisan emosi yang mungkin selama ini sulit disadari dalam dirinya sendiri. Ada jarak yang aman antara penikmat karya dan tokoh fiksi, sehingga proses memahami diri berlangsung secara perlahan, tanpa tekanan.
Dalam banyak karya fiksi, tokoh-tokohnya digambarkan menghadapi pergulatan batin yang menuntut pilihan dan sikap tertentu. Kebahagiaan yang sederhana, kesedihan, kegelisahan, serta keraguan yang mereka alami membuka ruang bagi penikmat karya untuk merefleksikan pengalaman hidupnya sendiri. Dari proses ini, mereka tidak hanya menemukan kemiripan emosi, tetapi juga memperoleh kemungkinan sudut pandang baru dalam menyikapi situasi yang dihadapi. Dengan demikian, tokoh fiksi dapat memperluas pemahaman penikmat karya terhadap dirinya sendiri dan terhadap pengalaman hidup secara lebih luas.
Pada akhirnya, keterlibatan penikmat karya dengan tokoh fiksi bukan sekadar soal menikmati cerita. Ada proses diam-diam yang terjadi ketika emosi, konflik, dan pilihan hidup tokoh tersebut membuka ruang refleksi bagi pembacanya. Dari sana, memahami diri tidak selalu dimulai dari pertanyaan besar tentang siapa diri ini, melainkan dari pengakuan sederhana bahwa apa yang dirasakan tokoh fiksi itu terasa dekat bagai cermin yang memantulkan bayangan. Karena dalam banyak karya, tokoh fiksi tidak hanya diciptakan untuk diceritakan, tetapi juga untuk membantu penikmatnya pulang pada dirinya sendiri. *(NM)
