JURNALKITAPLUS – Langit Timur Tengah kembali mendung oleh bayang-bayang sayap jet tempur. Kehadiran kapal induk USS Gerald R. Ford yang menyusul USS Abraham Lincoln di perairan Arab bukan sekadar rutinitas patroli. Ini adalah pesan darurat yang ditulis dengan tinta baja: Amerika Serikat sedang bersiap untuk skenario terburuk—atau mungkin, skenario yang memang telah mereka rancang.
Keputusan Presiden Donald Trump untuk menumpuk kekuatan militer secara masif menunjukkan bahwa retorika "perubahan rezim" bukan lagi sekadar gertakan di meja makan malam. Dengan lebih dari 75 pesawat tempur dan dukungan sistem peringatan dini E-2 Hawkeye, Washington kini memiliki "pemukul" yang siap dikerahkan kapan saja perintah keluar dari Gedung Putih.
Bukan Sekadar Serangan Tunggal
Jika kita menilik operasi Midnight Hammer pada Juni 2025, serangan saat itu terasa seperti sebuah "peringatan" terhadap fasilitas nuklir. Namun, bocoran dari pejabat AS saat ini mengisyaratkan sesuatu yang jauh lebih kompleks dan destruktif. Targetnya tidak lagi terbatas pada infrastruktur nuklir, melainkan merembet ke fasilitas keamanan dan stabilitas internal Iran.
Washington tampaknya sudah sadar dan "ikhlas" bahwa serangan ini akan memicu efek domino. Mereka sudah menghitung risiko saling serang yang berkelanjutan. Inilah yang membuat situasi saat ini jauh lebih berbahaya dibandingkan dekade-dekade sebelumnya. Ini bukan lagi soal menghambat program nuklir, melainkan upaya sistematis untuk merombak peta politik di Teheran.
Rakyat Iran di Antara Dua Pilihan
Menarik melihat bagaimana narasi "bantuan bagi rakyat Iran" mulai dimainkan. Pernyataan Reza Pahlavi di Konferensi Keamanan Munich yang meminta Trump untuk "membantu mengubur rezim" memberikan justifikasi moral bagi langkah militer AS. Namun, sejarah mencatat bahwa intervensi luar negeri untuk perubahan rezim jarang sekali berakhir dengan karpet merah dan demokrasi yang tenang. Seringkali, yang tersisa justru puing dan ketidakpastian panjang.
Trump sendiri mengakui bahwa alternatif dari diplomasi akan sangat "traumatis". Kalimat ini adalah pedang bermata dua: sebuah ancaman bagi Teheran agar melunak di meja perundingan, sekaligus peringatan bagi dunia bahwa AS tidak keberatan menggunakan kekerasan ekstrem untuk memaksakan kehendaknya.
Titik Penentuan di Geneva
Selasa mendatang, mata dunia akan tertuju ke Geneva. Kehadiran Steve Witkoff dan Jared Kushner dalam tim delegasi AS menunjukkan bahwa Trump mengirim orang-orang kepercayaannya untuk memberikan penawaran terakhir.
Persoalannya klasik: Iran mau bicara nuklir tapi emoh melepas rudal balistiknya. Sementara AS dan Israel melihat rudal Iran sebagai ancaman eksistensial yang tak bisa ditawar. Jika perundingan di Swiss ini buntu, maka kehadiran dua kapal induk di Laut Arab kemungkinan besar tidak akan pulang tanpa melepaskan tembakan.
Dunia kini hanya bisa berharap bahwa "rasa takut" yang disebut Trump sebagai kunci penyelesaian masalah tidak justru menjadi pemicu kebakaran besar yang melahap stabilitas energi dan keamanan global. Diplomasi memang sedang diujung tanduk, dan sayangnya, tanduk tersebut terbuat dari baja kapal induk. (FG12)

