Menitipkan Masa Depan Iklim pada Kepak Sayap 'Sang Arsitek' Papua -->

Header Menu

Menitipkan Masa Depan Iklim pada Kepak Sayap 'Sang Arsitek' Papua

Jurnalkitaplus
12/02/26


Jurnalkitaplus - Selama ini, kita sering memandang hutan hujan Papua hanya sebagai hamparan hijau yang statis—sebuah gudang karbon raksasa yang diam di ujung timur Indonesia. Namun, sebuah fakta ekologis yang menakjubkan mengingatkan kita bahwa hutan seluas itu tidak tumbuh dengan sendirinya. Ia adalah hasil kerja keras tanpa henti dari para "arsitek bersayap": Kasuari, Cenderawasih, dan Julang Papua.


Tanpa kehadiran mereka, hutan Papua yang kita kenal sebagai benteng iklim terakhir dunia mungkin akan runtuh dalam kesunyian.


Pembagian Tugas yang Sempurna


Alam Papua telah merancang sistem manajemen hutan yang sangat efisien melalui tiga lapisan tajuk. Di lantai hutan, Kasuari bekerja sebagai tenaga pengangkut berat. Dengan kemampuannya menelan buah-buah besar yang tak sanggup dimakan satwa lain, ia menyemai bibit pohon raksasa hingga puluhan kilometer jauhnya. Tanpa Kasuari, regenerasi pohon-pohon besar di Papua akan terhenti.


Naik ke lapisan tengah, Cenderawasih bukan sekadar "Burung Surga" yang pamer keindahan. Mereka adalah desainer interior ekosistem yang teliti, menyebarkan biji-biji tanaman spesifik seperti pala hutan yang menjadi penopang kehidupan Masyarakat Adat. Sementara itu, di atap langit, Julang Papua berperan sebagai petani udara. Kepak sayapnya menghubungkan fragmen-fragmen hutan yang terpisah, menjaga aliran genetik pepohonan agar tetap kuat dan tahan banting.


Ancaman di Balik Rimbunnya Kanopi


Ironisnya, saat dunia bergantung pada hutan Papua untuk menyerap emisi karbon, para penjaganya justru berada dalam kepungan ancaman. Perburuan liar, konversi lahan menjadi perkebunan monokultur, dan krisis iklim yang mengacaukan musim berbuah adalah kombinasi maut yang sedang mengintai.


Ketika satu spesies burung ini hilang, dampaknya bukan sekadar hilangnya satu jenis satwa, melainkan berhentinya "mesin" restorasi alami. Kita tidak bisa menggantikan peran Julang atau Kasuari dengan teknologi manusia secanggih apa pun. Restorasi hutan manual oleh pemerintah tidak akan pernah seefektif dan seefisien kerja sukarela para burung ini.


Melindungi Burung, Menjaga Napas Dunia


Sudah saatnya kebijakan konservasi di Papua tidak lagi hanya fokus pada angka luasan hutan secara administratif, tetapi juga pada keselamatan penghuninya. Menjaga habitat Kasuari, Cenderawasih, dan Julang adalah investasi termurah untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global.


Hutan Papua tidak hanya dihuni oleh burung; ia dibangun oleh mereka. Jika kita membiarkan kepak sayap itu berhenti, maka kita sebenarnya sedang membiarkan napas dunia perlahan terhenti. Melindungi mereka bukan lagi sekadar pilihan etis, melainkan kewajiban mutlak demi kelangsungan hidup manusia. (FG12)


sumber : Mongabay