Jurnalkitaplus - Momen Ramadan dan Idul Fitri bukan sekadar ritual ibadah, melainkan "napas buatan" bagi mesin ekonomi nasional. Di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi awal tahun 2026, pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara gamblang menyatakan bahwa daya beli masyarakat tetap menjadi tumpuan utama pertumbuhan ekonomi di triwulan pertama tahun ini.
Langkah ini adalah strategi yang realistis sekaligus krusial. Ketika investasi fisik butuh waktu untuk mencair, konsumsi rumah tangga adalah motor penggerak tercepat yang bisa langsung dirasakan dampaknya oleh pasar.
Strategi Tanpa Beban: Pajak Tetap, Belanja Cepat
Ada dua poin menarik dari pernyataan Menkeu yang patut kita kawal realisasinya:
- Moratorium Kenaikan Pajak: Janji pemerintah untuk tidak menaikkan pajak di tengah momen puncak konsumsi adalah angin segar. Menambah beban pajak saat rakyat bersiap menghadapi kenaikan harga pangan musiman hanya akan mencekik daya beli.
- Akselerasi Belanja Negara: Penekanan agar kementerian dan lembaga (K/L) segera membelanjakan anggaran adalah langkah "jemput bola". Uang negara yang mengalir lebih awal ke proyek-proyek dan program bantuan akan menambah peredaran likuiditas di tengah masyarakat.
Tantangan di Lapangan
Namun, menjaga daya beli tidak cukup hanya dengan memastikan "uang di sistem itu cukup". Tantangan nyata yang selalu berulang setiap tahun adalah inflasi pangan. Percuma masyarakat punya uang jika harga beras, telur, dan daging melonjak melampaui kemampuan dompet mereka.
Sinergi dengan Bank Sentral untuk menjaga stabilitas moneter memang penting, namun koordinasi dengan kementerian sektor riil (seperti Pertanian dan Perdagangan) untuk memastikan pasokan barang aman jauh lebih mendesak.
Optimisme pemerintah bahwa momen Ramadan-Lebaran tidak akan menambah tekanan ekonomi adalah sinyal positif bagi pelaku usaha. Namun, keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada seberapa cepat birokrasi mencairkan anggaran dan seberapa efektif pemerintah meredam spekulan harga di pasar.
Jika pemerintah berhasil menjaga stabilitas harga dan konsistensi kebijakan pajak, maka Ramadan 2026 bukan hanya menjadi berkah spiritual, tetapi juga menjadi fondasi kokoh bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun.

