Jurnalkitaplus - Dunia media hari ini bukan lagi soal siapa yang paling cepat mencetak kertas, melainkan siapa yang paling lincah menggulirkan strategi di layar gawai. Disrupsi digital yang kita bicarakan bertahun-tahun lalu bukan lagi "ancaman masa depan", ia adalah realitas yang hari ini sedang mengunyah pendapatan iklan dan mengacak-acak pola konsumsi informasi kita.
Dalam diskusi Outlook Media 2026 di Jakarta baru-baru ini, sebuah pesan kuat mengemuka: Kreativitas dan kredibilitas adalah dua hal yang tidak bisa disubstitusi oleh kecerdasan buatan (AI) sekalipun.
Kreativitas vs Kalkulasi AI
Direktur Utama Emtek Media, Sutanto Hartono, benar ketika menyebut AI hanyalah fasilitator. AI bisa menulis laporan cuaca atau hasil pertandingan bola dalam hitungan detik, tetapi AI tidak memiliki "ruh" kreativitas dan empati manusia untuk merajut narasi yang menggetarkan nurani.
Namun, kreativitas saja tidak cukup jika industri media terus "berdarah-darah" menghadapi platform global. Saat ini, kue iklan berpindah ke tangan influencer dan buzzer. Arus informasi tak lagi dikendalikan oleh meja redaksi yang ketat, melainkan oleh algoritma media sosial yang seringkali bias dan berisik. Jika media arus utama mencoba melawan mereka secara head-on dengan mengikuti gaya hidup "kejar tayang" tanpa verifikasi, maka media tersebut sedang menggali kuburnya sendiri.
Peluang di Balik Rendahnya Kepercayaan Medsos
Data menarik diungkapkan oleh Burhanuddin Muhtadi. Meski anak muda (Gen Z) lebih banyak menghabiskan waktu di TikTok, mereka ternyata tidak serta-merta menelan informasi di sana mentah-mentah. Menariknya, mereka masih menoleh ke media arus utama—seperti televisi dan portal berita terverifikasi—untuk mencari kebenaran.
Ini adalah celah sempit namun krusial. Ada defisit kepercayaan di media sosial yang seharusnya menjadi surplus peluang bagi media massa. Media tidak boleh larut dalam "logika media sosial" yang hanya memuja kecepatan dan klik. Jika pers hanya mengejar clickbait dan mengabaikan etika, lantas apa bedanya media profesional dengan unggahan anonim di grup WhatsApp?
Sinergi, Bukan Kendali
Di sisi lain, komitmen pemerintah yang disampaikan melalui Fifi Aleyda Yahya untuk menjaga pers sebagai pilar keempat demokrasi patut kita kawal. Kolaborasi antara pemerintah, industri pers, dan platform digital memang mutlak diperlukan, terutama dalam memerangi hoaks. Namun, kolaborasi ini jangan sampai berubah menjadi upaya pengendalian informasi yang memberangus daya kritis.
Pers yang sehat adalah pers yang tetap mampu menjadi pengawas kekuasaan yang berintegritas. Seperti yang ditegaskan Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, pers harus memberikan ruang bagi suara yang tak terdengar, bukan sekadar menjadi pemandu sorak dalam konflik kepentingan.
Transformasi adalah harga mati. Media massa harus melakukan "peremajaan" konten agar relevan dengan demografi muda, namun tanpa menumbalkan prinsip jurnalistik. Pada akhirnya, di era hiperkonektivitas ini, hanya media yang menjaga kepercayaan publiklah yang akan tetap berdiri tegak saat debu disrupsi mulai mereda. Kertas boleh hilang, layar boleh berganti, tapi kebenaran tidak boleh mati.
Selamat Hari Pers Nasional

