Banyak orang mengira growth mindset hanyalah soal "berpikir positif". Padahal, di tengah tekanan hidup yang nyata—deadline pekerjaan, masalah finansial, atau kegagalan pribadi—sekadar menyuruh diri sendiri untuk "tetap positif" seringkali justru terasa seperti racun (toxic positivity).
Growth mindset yang sesungguhnya bukan tentang mengabaikan stres, melainkan tentang bagaimana kita mengolah beban menjadi bahan bakar.
Memahami otak yang bisa melar
Langkah pertama mengadopsi pola pikir ini adalah memahami bahwa otak kita tidak statis. Secara biologis, otak manusia memiliki kemampuan bernama neuroplastisitas.
Bayangkan otak Anda seperti hutan belantara. Setiap kali Anda mencoba tantangan baru di tengah tekanan, Anda sedang menebas semak belukar untuk membuat jalan setapak baru. Semakin sering Anda menghadapinya dengan cara yang berbeda, jalan setapak itu akan menjadi jalan tol yang kokoh.
Intinya: Kecerdasan dan ketangguhan Anda bukanlah "bawaan lahir", melainkan otot yang bisa dilatih.
Mengubah tekanan menjadi tantangan
Di bawah tekanan, sistem saraf kita seringkali masuk ke mode fight or flight (lawan atau lari). Orang dengan growth mindset belajar melakukan teknik cognitive reappraisal atau penilaian ulang kognitif.
Gagal proyek: pola pikir tetap (saya memang tidak berbakat di sini) pola pikir bertumbuh (strategi ini tidak berhasil, apa yang bisa saya ubah?)
Kritik tajam: pola pikir tetap (dia membenciku secara pribadi) pola pikir bertumbuh (informasi apa yang bisa saya ambil untuk bisa lebih hebat?)
beban kerja tinggi: pola pikir tetap (ini akan menghancurkan saya) pola pikir bertumbuh (ini adalah latihan untuk meningkatkan kapasitas daya tahan saya)
Kekuatan kata belum
carol dweck, pionir riset ini, yang menekankan satu kata kunci "Belum"
saya tidak bisa melakukannya (mati)
saya belum bisa melakukannya (peluang)
Kata "belum" memberikan ruang bagi waktu dan usaha. Ia mengakui bahwa ada jarak antara posisi Anda sekarang dan tujuan Anda, namun jarak itu bisa ditempuh.
Strategi praktis di tengah badai
bagaimana cara menerapkannya saat kamu sedang merasa terpuruk?
Rayakan proses, bukan hasil: Jika Anda gagal mencapai target tapi telah mencoba metode baru yang jenius, apresiasi keberanian Anda mencoba metode tersebut.
Cari teman berpikir : Lingkari diri Anda dengan orang-orang yang tidak hanya memuji, tapi juga memberi tantangan yang membangun.
Istirahat sebagai strategi : Growth mindset bukan berarti bekerja sampai tumbang. Mengakui bahwa Anda butuh istirahat untuk memulihkan kognisi adalah bagian dari pola pikir cerdas.
Mengadopsi growth mindset di tengah tekanan bukan berarti Anda tidak akan merasa lelah atau sedih. Itu berarti Anda sadar bahwa rasa lelah dan kesedihan tersebut adalah bagian dari proses "penskalaan" diri Anda ke level yang lebih tinggi. Tekanan adalah amplas yang menghaluskan karakter, bukan beban yang menghancurkan impian.
FAI-32
sumber referensi :
Dweck, C. S. (2006)
Huberman Lab Podcast (2023)
Harvard Business Review (2016)
American Psychological Association (APA)
