Jurnalkitaplus - Pernahkah Anda merasa beban pekerjaan begitu berat, lalu memutuskan untuk "menghilang" selama dua jam ke dalam film aksi atau novel fantasi? Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai eskapisme.
Seringkali eskapisme dianggap sebagai bentuk pengabaian tanggung jawab. Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa melarikan diri ke dunia fiksi bukan sekadar cara untuk "kabur", melainkan mekanisme pertahanan mental yang canggih untuk memulihkan energi emosional.
mengapa otak kita mencintai dunia lain?
Secara biologis, otak manusia tidak selalu bisa membedakan antara ancaman nyata dan stres emosional. Ketika kita terus-menerus terpapar berita buruk atau tekanan hidup, sistem saraf kita berada dalam mode fight-or-flight yang melelahkan.
Fiksi menawarkan apa yang disebut sebagai "Ruang Aman Psikologis". Berikut adalah alasan mengapa media hiburan sangat efektif meredam stres:
Regulasi Emosi Melalui Katarsis: Saat menonton drama yang menyedihkan, kita menangis untuk karakter tersebut. Namun secara tidak sadar, kita juga melepaskan emosi terpendam milik kita sendiri.
Rasa Kendali: Di dunia nyata, banyak hal terjadi di luar kendali kita. Dalam fiksi, terdapat struktur yang jelas: awal, konflik, dan penyelesaian. Ini memberikan rasa kepuasan mental bahwa "semua akan berakhir baik-baik saja."
Restorasi Kognitif: Mengikuti alur cerita yang menarik mengalihkan otak dari siklus pikiran negatif (rumination), memberikan waktu bagi mental untuk beristirahat dan mengisi daya.
Tidak semua pelarian diciptakan sama. Para ahli membagi eskapisme menjadi dua kategori utama:
Self-Expansion (Pengembangan Diri): Menggunakan fiksi untuk mendapatkan perspektif baru, inspirasi, atau empati. Ini adalah bentuk eskapisme sehat yang membuat seseorang kembali ke dunia nyata dengan semangat baru.
Self-Suppression (Penekanan Diri): Menggunakan hiburan secara berlebihan untuk menghindari masalah yang seharusnya diselesaikan. Jika dilakukan terus-menerus, ini justru bisa meningkatkan kecemasan jangka panjang.
Catatan Penting: Kuncinya bukan pada apa yang Anda tonton atau baca, melainkan mengapa Anda melakukannya. Apakah untuk beristirahat sejenak, atau untuk selamanya lari dari kenyataan?
Media hiburan bukan sekadar "pembunuh waktu". Ia adalah alat bantu pernapasan mental di tengah polusi stres modern. Selama kita tetap sadar akan batasan antara dunia imajinasi dan tanggung jawab nyata, menonton serial favorit atau membaca buku bisa menjadi terapi mandiri yang paling murah dan efektif.
FAI-32
sumber referensi :
Journal of Media Psychology (2024)
American Psychological Association (APA)
The Oxford Handbook of Entertainment Theory
Neuroscience News (Januari 2026)
