Dulu pergi ke psikolog adalah sebuah rahasia besar yang disimpan rapat di balik pintu kamar. Ada stigma berat yang melekat: jika Anda mencari bantuan profesional, berarti Anda "sakit" atau "lemah". Namun, saat ini, pemandangan tersebut berubah total. Di tangan Generasi Z terapi bukan lagi sebuah aib, melainkan sebuah bentuk investasi diri—layaknya pergi ke pusat kebugaran untuk kesehatan fisik.
Mengapa pergeseran paradigma ini terjadi begitu masif pada generasi ini?
Runtuhnya dinding stigma melalui digitalisasi
Gen Z adalah generasi digital native pertama. Mereka tidak hanya mengonsumsi konten, tetapi membangun komunitas berbasis kejujuran emosional.
Koneksi media sosial : Melalui platform seperti TikTok dan Instagram, istilah-istilah psikologi seperti gaslighting, boundaries, dan burnout menjadi kosakata sehari-hari.
Efek selebriti dan influencer: Ketika figur publik membicarakan sesi terapi mereka secara terbuka, hal itu memberikan "izin sosial" bagi pengikutnya untuk melakukan hal yang sama.
Beban eksistensial yang unik
Gen Z tumbuh di tengah ketidakpastian global yang intens. Tekanan ini memaksa mereka mencari mekanisme pertahanan diri yang lebih sehat melalui bantuan profesional.
Climate Anxiety: Kecemasan akan masa depan planet.
Hyper-competitiveness: Tekanan untuk sukses di usia muda yang diperparah oleh kurasi kehidupan di media sosial.
Krisis Ekonomi: Biaya hidup yang melonjak membuat kesehatan mental menjadi satu-satunya aset yang bisa mereka kendalikan sepenuhnya.
Pergeseran dari bertahan ke bertumbuh
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung menerapkan pola stoicism (memendam perasaan demi ketangguhan), Gen Z melihat emosi sebagai data yang perlu diolah. "Bagi Gen Z, terapi bukan sekadar membenarkan yang rusak, tapi mengoptimalkan yang sudah ada."
Tujuan terapi : Pandangan Lama (krisisi atau gangguan jiwa berat) Pandangan baru (Pertumbuhan diri)
Status sosial : Pandangan Lama (Rahasia atau justru memalukan) Pandangan baru (Simbol dari kepedulian diri)
Akses : Pandangan Lama (secara tatap muka atau formal) Pandangan baru (fleksibel)
Faktor pendukung dari segi aksesibilitas teknologi
Revolusi ini tidak akan terjadi tanpa kemudahan akses. Munculnya layanan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dan aplikasi konseling daring memangkas hambatan geografis dan finansial yang selama ini menjadi tembok penghalang bagi anak muda untuk mencari bantuan.
Tantangan di balik normalisasi
Meskipun normalisasi ini positif, terdapat risiko diagnosis kondisi kesehatan mental dan fisik yang dilakukan sendiri tanpa berkonsultasi pada dokter. Karena informasi psikologi sangat mudah didapat, banyak individu yang mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan konten singkat tanpa validasi ahli. Inilah mengapa Gen Z sangat mendorong penggunaan jasa profesional resmi daripada sekadar mengandalkan tips dari internet.
Normalisasi terapi oleh Gen Z adalah sebuah revolusi budaya. Mereka sedang mendefinisikan ulang arti "ketangguhan"—bukan lagi tentang seberapa banyak beban yang bisa dipendam, melainkan seberapa berani seseorang menghadapi trauma dan emosinya sendiri. Dengan membawa terapi ke ruang publik, mereka memastikan bahwa generasi mendatang tidak perlu menderita dalam diam.
FAI-32
sumber referensi
American Psychological Association (APA)
Deloitte Global 2024 Gen Z and Millennial Survey
Journal of Adolescent Health
McKinsey Health Institute
