Saat Intelijen "Terciduk" Anies: Pengamanan Tokoh Bangsa atau Sinyal Surveillance Politik? -->

Header Menu

Saat Intelijen "Terciduk" Anies: Pengamanan Tokoh Bangsa atau Sinyal Surveillance Politik?

Jurnalkitaplus
06/02/26


Jurnalkitaplus – Media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh sebuah video berdurasi 45 detik yang memperlihatkan momen unik sekaligus memicu tanya. Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, tampak santai menghampiri tiga pria di sebuah warung soto di Karanganyar, Jawa Tengah. Bukan warga biasa, ketiganya belakangan dikonfirmasi sebagai anggota intelijen dari Korem dan Kodim setempat.


Momen ini menjadi menarik karena gestur Anies yang justru "merangkul" mereka. Daripada membiarkan suasana menjadi kaku, Anies dengan gaya diplomatisnya mengajak mereka berfoto sambil berujar, "Daripada sembunyi-sembunyi, toh? Kita enakan foto bareng, Mas."


Kejujuran di Balik "Makan Siang"


Awalnya, pihak Kodam IV/Diponegoro sempat menyebut ketiga pria tersebut hanyalah "mitra" atau warga sipil. Namun, kejujuran akhirnya muncul. Kolonel Infanteri Andy Soelistyo meralat pernyataan tersebut dan mengonfirmasi bahwa mereka adalah anggota Intel Kodim Karanganyar.


Alasannya klasik: kebetulan. Mereka disebut sedang makan siang setelah rapat pemantauan wilayah dan tak sengaja bertemu Anies. Namun, bagi publik yang skeptis, frekuensi "kebetulan" yang terlalu sering sering kali memicu kecurigaan. Apakah ini murni pengamanan, atau ada instruksi khusus untuk memantau gerak-gerik sang tokoh oposisi?


Antara Stabilitas dan Etika Demokrasi


Peneliti ISESS, Khairul Fahmi, memberikan perspektif yang jernih. Dalam demokrasi modern, tokoh dengan visibilitas politik tinggi dan basis massa besar seperti Anies memang sewajarnya masuk dalam "radar" negara. Tujuannya beragam: mulai dari pemetaan situasi, deteksi risiko keamanan, hingga memastikan keselamatan sang tokoh itu sendiri.


Namun, ada garis tipis yang harus dijaga. Ketika aktivitas intelijen mulai terasa seperti political surveillance (pengawasan politik), maka kesehatan demokrasi kita sedang dipertaruhkan.


"Dalam politik, persepsi sering kali lebih kuat daripada fakta."


Jika aparat negara terus-menerus "terlihat" membayangi tokoh-tokoh yang berseberangan dengan pemerintah, narasi mengenai ketidaknetralan akan tumbuh subur di ekosistem digital. Hal ini tentu merugikan kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Kegagalan Operasi "Senyap"?


Ada satu poin menarik yang perlu digarisbawahi: intelijen seharusnya bekerja dalam diam. Jika identitas mereka dengan mudah terbongkar—bahkan oleh targetnya sendiri—maka ini bisa dianggap sebagai sebuah kegagalan teknis di lapangan


Interaksi terbuka antara Anies dan para petugas tersebut adalah bentuk sindiran halus namun telak. Anies seolah ingin mengirim pesan bahwa ia sadar sedang diawasi, namun ia memilih untuk menghadapinya dengan transparansi, bukan konfrontasi.


Catatan Penutup


Negara memang memiliki kewajiban menjaga keamanan setiap putra terbaik bangsa. Namun, pengamanan jangan sampai berubah menjadi intimidasi terselubung. Di tengah panasnya suhu politik menuju 2029, netralitas aparat adalah harga mati untuk menjaga integritas bangsa.


Jangan sampai warung soto di Karanganyar itu hanya menjadi puncak gunung es dari praktik pengawasan politik yang tak sehat. Sebab, di mata publik, intelijen yang "terciduk" bukan sekadar salah paham, melainkan cermin dari bagaimana negara memandang lawan politiknya. (Jkp)