Sinyal Dua Periode di Balik Angka 80 Persen -->

Header Menu

Sinyal Dua Periode di Balik Angka 80 Persen

Jurnalkitaplus
10/02/26


Jurnalkitaplus – Angka 79,9 persen bukan sekadar statistik. Bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, hasil survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis baru-baru ini adalah "angin segar" sekaligus "alarm" yang berbunyi nyaring. Di satu sisi, angka ini menjadi legitimasi kuat atas kebijakan awal masa jabatan; di sisi lain, ia memicu syahwat politik koalisi untuk mulai menggulirkan narasi dua periode.


Legitimasi "Makan Bergizi" dan Ketegasan


Tingginya approval rating yang menyentuh angka 80 persen ini faktanya melampaui capaian awal periode SBY maupun Jokowi. Dukungan publik tampaknya berakar pada langkah-langkah populis namun strategis, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), penyaluran bansos, hingga citra ketegasan dalam pemberantasan korupsi. Masyarakat, setidaknya untuk saat ini, merasa optimis bahwa "perang" melawan kemiskinan yang didengungkan Istana bukan sekadar retorika.


Wajar jika partai koalisi seperti Nasdem, PKB, PAN, dan Golkar langsung "tancap gas". Bagi mereka, kepuasan publik adalah komoditas politik yang mahal harganya. Deklarasi dukungan dua periode yang muncul begitu dini—bahkan saat periode pertama belum genap berjalan dua tahun—menunjukkan ambisi untuk menjaga stabilitas politik sekaligus memastikan program-program strategis tidak terputus di tengah jalan.


Peringatan dari Balik Angka 17 Persen


Namun, di balik euforia angka 80 persen, ada realitas 17,1 persen masyarakat yang mengaku tidak puas. PDI Perjuangan dengan jeli mengingatkan bahwa survei hanyalah potret sesaat (snapshot) yang bersifat dinamis.


Kritik yang muncul dari kelompok tidak puas ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Isu klasik seperti ekonomi makro, lapangan kerja, dan kenaikan harga kebutuhan pokok tetap menjadi "bom waktu" jika tidak dikelola dengan hati-hati. Masyarakat yang tidak puas menyoroti persoalan fundamental: distribusi bantuan yang belum merata dan efektivitas program yang belum dirasakan semua lapisan.


Antara Introspeksi dan Hiburan Politik


Sikap rendah hati yang ditunjukkan Ketua Harian Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, patut diapresiasi secara politik. Dengan menyebut wacana dua periode sebagai "hiburan rakyat" dan lebih menekankan pada evaluasi, Gerindra tampak berusaha menjaga agar pemerintah tidak terbuai oleh angka-angka indah.


Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi juga menegaskan bahwa fokus pemerintah adalah "bekerja keras", bukan mengejar hasil survei. Ini adalah posisi yang aman sekaligus strategis. Sebab, musuh terbesar dari approval rating yang tinggi adalah ekspektasi publik yang juga semakin meninggi.


Tiket Periode Kedua


Dukungan dua periode adalah hak politik partai-partai koalisi, namun menjadikan survei kepuasan sebagai satu-satunya tiket menuju periode kedua adalah langkah yang prematur. Rakyat Indonesia terkenal cair dalam memberikan dukungan.


Keberhasilan Presiden Prabowo tidak akan diukur dari seberapa sering namanya muncul di puncak survei hari ini, melainkan pada seberapa konsisten ia mampu menjaga harga beras tetap terjangkau dan menciptakan lapangan kerja bagi jutaan orang yang saat ini masih menonton dari pinggir lapangan ekonomi.


Angka 80 persen adalah modal besar, tetapi tanpa pemerataan dan kinerja nyata yang menyentuh akar rumput, angka tersebut bisa meluap secepat ia datang. (FG12)