Sisi Positif Drama Bulgasal: Immortal Souls -->

Header Menu

Sisi Positif Drama Bulgasal: Immortal Souls

Jurnalkitaplus
22/02/26

Drama Bulgasal: Immortal Souls mengajarkan saya satu hal penting: bahwa hidup bukan hanya tentang membalas, tapi tentang melepaskan.

Di permukaannya, Bulgasal terlihat seperti drama fantasi penuh dendam. Tentang seorang pria bernama Dan Hwal yang menjadi manusia abadi—sebuah makhluk yang dibenci, dijauhi, dianggap monster, bahkan keluarganya sendiri mati karena keberadaannya. Ia hidup ratusan tahun hanya dengan satu tujuan: menunggu seorang perempuan yang telah mencuri jiwanya dan membuatnya menjadi Bulgasal.

Perempuan itu terlahir kembali setelah seratus atau dua ratus tahun kemudian. Dan ketika akhirnya Hwal menemukannya, ia sadar bahwa perempuan yang ia benci itu juga diburu, dimangsa, dan dikejar oleh banyak orang. Seolah takdir tidak hanya memberinya penderitaan di masa lalu, tapi juga mengutuknya di kehidupan berikutnya.

Di titik ini, saya mulai merasa bahwa Bulgasal bukan lagi sekadar cerita balas dendam. Ia berubah menjadi refleksi tentang kehidupan, ingatan, dan identitas.

Bagaimana kalau ternyata kita pernah hidup sebelumnya?

Bagaimana kalau di kehidupan itu kita bukan orang baik?

Bagaimana kalau kita pernah melukai, menyakiti, bahkan menghancurkan hidup orang lain—tapi sekarang kita terlahir kembali tanpa ingatan apa pun?

Drama ini seperti mengajak saya berpikir: bisa jadi kita sekarang hidup sebagai "versi baru" dari diri kita, tanpa tahu dosa masa lalu, tanpa tahu siapa yang pernah kita sakiti. Kita merasa diri kita korban, padahal mungkin dulu kita adalah pelaku. Dan ironisnya, kita menuntut keadilan atas sesuatu yang bahkan kita sendiri sudah lupa.

Yang paling menyentuh dari Bulgasal adalah satu hal: dendam tidak pernah benar-benar memuaskan. Hwal menghabiskan ratusan tahun untuk membenci satu orang. Ia membangun seluruh hidupnya di atas luka. Tapi ketika ia akhirnya berhadapan langsung dengan sumber dendam itu, tidak ada rasa lega. Tidak ada kemenangan. Yang ada hanya kehampaan.

Saya merasa di situ letak pesan terdalamnya.

Bahwa dendam seringkali bukan lahir karena luka besar, tapi karena luka yang terlalu lama kita pendam. Kita menutupinya, menumpuknya, sampai suatu hari kebencian itu menjadi satu-satunya identitas kita. Fokus hidup kita menyempit: hanya ingin membalas.

Padahal, mungkin tanpa sadar, kita melewatkan hal-hal kecil yang sebenarnya kita dambakan sejak awal—ketenangan, penerimaan, rasa dicintai, hidup sederhana tanpa beban masa lalu.

Bulgasal mengajarkan saya bahwa menurunkan ego bukan berarti kalah. Melepaskan dendam bukan berarti menghapus luka. Tapi itu adalah cara paling jujur untuk berhenti menyiksa diri sendiri.

Karena terkadang, yang kita kejar seumur hidup bukanlah keadilan… melainkan pengakuan bahwa kita pernah disakiti.

Dan yang kita butuhkan bukan balas dendam, tapi keberanian untuk memaafkan—termasuk memaafkan diri kita sendiri.

Mungkin itulah makna sebenarnya dari keabadian dalam Bulgasal.

Bukan hidup selamanya dalam tubuh yang sama, tapi mengulang pola yang sama jika kita tidak pernah belajar melepaskan.

Dan bisa jadi, kehidupan ini adalah kesempatan kita—entah yang pertama, kedua, atau keseratus—untuk memilih: terus hidup sebagai korban masa lalu, atau menjadi manusia yang akhirnya berdamai.

FAI-32