Di film Agak Laen: Menyala Pantiku, saya belajar satu hal yang cukup menampar: ternyata orang biasa bisa berubah jadi orang yang dianggap "gila". Orang yang kelihatannya baik, sederhana, tidak berbahaya—bisa saja melakukan sesuatu yang di luar nalar, bahkan sampai membunuh orang.
Dan yang lebih menakutkan: sering kali, mereka punya alasan.
Empat tokoh utama dalam film ini digambarkan sebagai orang-orang biasa. Bukan pahlawan. Bukan polisi. Bukan orang penting. Mereka terjebak dalam sebuah rangkaian peristiwa absurd, komedi, tapi dibalik kelucuannya, ada satu sosok yang justru paling menyedihkan: seorang bapak tua yang dicari sebagai pembunuh.
Awalnya kita mengira dia adalah penjahat. Tipikal orang "aneh", misterius, mencurigakan. Tapi ketika kebenarannya terungkap, saya justru merasa film ini berubah nada.
Ternyata bapak itu sangat baik. Terlalu baik bahkan. Dan satu-satunya alasan ia melakukan hal ekstrim hanyalah satu: ia ingin keadilan.
Ia ingin orang-orang berkuasa yang melakukan kejahatan besar—yang menghancurkan hidup orang lain—mendapat hukuman yang setimpal. Tapi di dunia yang dihadapi, hukum tidak berdiri di atas kebenaran. Hukum berdiri di atas uang, relasi, dan kekuasaan.
Orang-orang dengan jabatan tinggi bisa menutup kejahatan.
Orang-orang dengan harta berlimpah bisa membeli keheningan.
Orang-orang kecil hanya bisa menunggu—atau putus asa.
Dan di titik itulah saya sadar: film ini sebenarnya tidak sedang bicara tentang pembunuhan. Ia sedang bicara tentang sistem yang gagal.
Tentang bagaimana ketika keadilan tidak lagi bisa dicari lewat jalur resmi, manusia mulai mencari jalannya sendiri. Kadang dengan cara yang salah. Kadang dengan cara yang kejam. Tapi tetap lahir dari satu perasaan yang sama: frustasi karena tidak didengar.
Bapak itu bukan monster. Ia korban yang terlalu lama dipaksa diam.
Yang membuat Agak Laen terasa dekat adalah karena ceritanya tidak terasa asing. Kita hidup di negara yang juga tidak pernah benar-benar "suci" dalam soal hukum. Selalu ada cerita tentang kasus yang menghilang. Pelaku yang bebas karena "orang dalam". Korban yang tidak pernah mendapatkan keadilan karena tidak punya uang, tidak punya kuasa, tidak punya suara.
Dan lama-lama, kita jadi terbiasa.
Kita mulai menganggap ketidakadilan sebagai hal normal.
Kita bilang, "Ya begitulah dunia."
Padahal setiap kali kita membiasakan diri dengan ketidakadilan, kita sedang menormalisasi luka orang lain.
Film ini membuat saya berpikir: mungkin yang paling berbahaya bukanlah orang jahat, tapi sistem yang membuat orang baik terpaksa menjadi jahat.
Karena tidak semua orang yang melakukan hal ekstrim itu kejam sejak awal. Banyak dari mereka hanya terlalu lama disakiti, terlalu lama dipinggirkan, terlalu lama berharap pada sistem yang tidak pernah benar-benar berpihak.
Dan di situ letak tragedinya.
Kadang, yang kita sebut "orang gila" sebenarnya hanya orang waras yang sudah kehabisan pilihan.
Kadang, yang kita sebut "penjahat" sebenarnya hanya korban yang tidak pernah diberi ruang untuk didengar.
Agak Laen mungkin dibungkus dengan komedi dan absurditas, tapi pesan di dalamnya justru sangat pahit: bahwa di dunia yang tidak adil, kebaikan saja tidak selalu cukup untuk bertahan.
Dan yang lebih menyedihkan lagi—kadang, satu-satunya cara agar suara orang kecil terdengar… adalah dengan melakukan sesuatu yang akhirnya membuat mereka kehilangan kemanusiaannya sendiri.
FAI-32
