Di film Korea Untangled, saya belajar satu hal yang terdengar sederhana tapi sangat sulit dipraktikkan: mencintai diri sendiri harus datang lebih dulu sebelum kita berharap dicintai orang lain.
Film ini terlihat ringan di permukaan. Tentang seorang perempuan dengan rambut keriting yang merasa dirinya "tidak cukup menarik". Ia percaya bahwa jika ia bisa meluruskan rambutnya, mengubah penampilan, dan menjadi versi yang lebih "diterima", maka laki-laki yang ia sukai akan mencintainya.
Dan mungkin itu juga cerminan banyak dari kita.
Ketika kita mencintai orang lain tanpa mencintai diri sendiri, fokus kita bukan lagi pada kebahagiaan, tapi pada penerimaan. Kita sibuk bertanya:
"Apa yang harus aku ubah supaya dia suka?"
"Apa yang kurang dari diriku?"
"Apa yang harus aku korbankan supaya aku layak dicintai?"
Di film ini, si tokoh utama benar-benar meluruskan rambutnya—secara harfiah dan simbolis. Ia mengubah sesuatu yang alami dari dirinya demi menjadi seseorang yang ia pikir akan lebih dicintai. Tapi setelah perubahan itu terjadi, ia tidak merasa lebih bahagia. Yang ada justru kecemasan. Keraguan. Perasaan asing terhadap dirinya sendiri.
Seolah-olah ia sedang hidup dalam tubuh orang lain.
Yang paling menyentuh justru bukan kisah cintanya dengan laki-laki yang ia kejar. Tapi hubungan diam-diam dengan temannya sendiri. Seorang yang melihat dirinya sejak awal. Yang mencintainya bukan karena rambut lurus atau keriting, tapi karena kehadirannya sebagai manusia utuh.
Dan di situ saya merasa film ini menampar pelan: bahwa cinta sejati sering kali tidak datang dari tempat yang kita kejar mati-matian, melainkan dari tempat yang selama ini kita abaikan.
Teman itu mencintainya dengan apa adanya. Tanpa syarat. Tanpa tuntutan perubahan. Tanpa syarat "kalau kamu begini, aku akan mencintaimu".
Sementara laki-laki yang ia kejar justru mencintai versi palsu dirinya—versi yang ia bangun karena takut tidak cukup.
Dari sini saya belajar: mencintai diri sendiri bukan berarti egois, bukan berarti merasa paling sempurna. Tapi berarti berhenti membenci bagian-bagian diri yang sebenarnya membentuk siapa kita.
Karena saat kita mencintai diri sendiri, kita tidak lagi memohon cinta. Kita tidak lagi menukar jati diri demi penerimaan. Justru ada semacam magnet alami. Energi tenang. Rasa utuh. Yang membuat orang lain datang bukan karena kita berubah, tapi karena kita nyaman dengan diri kita sendiri.
Untangled mengajarkan saya bahwa perubahan fisik bisa dilakukan siapa saja. Tapi perubahan hati jauh lebih sulit.
Kita bisa meluruskan rambut.
Kita bisa mengganti baju.
Kita bisa membentuk citra.
Tapi kalau kita belum berdamai dengan diri sendiri, semua itu hanya jadi topeng. Dan cinta yang datang ke topeng, tidak akan pernah benar-benar mencintai kita.
Karena pada akhirnya, orang yang tepat tidak jatuh cinta pada versi terbaik kita. Mereka jatuh cinta pada versi paling jujur kita. Versi yang tidak berusaha terlihat sempurna, tapi berani berkata: "Ini aku, dengan semua kurang dan lebihnya."
FAI-32
