Jurnalkitaplus - Di tengah kehidupan yang bergerak cepat, berhenti sering kali terasa seperti kemewahan. Waktu seakan selalu kurang, dan jeda dianggap sebagai sesuatu yang bisa ditunda. Kita terbiasa melakukan banyak hal sekaligus, bahkan saat beristirahat pun pikiran masih bekerja. Dalam kondisi seperti ini, relaksasi sering dipahami sebagai sesuatu yang besar dan terencana, padahal ketenangan bisa hadir dari hal yang sederhana, salah satunya melalui secangkir teh.
Berbeda dengan minuman instan yang bisa langsung dikonsumsi, teh mengharuskan kita untuk menunggu. Air perlu dipanaskan, daun teh diseduh, dan beberapa menit dibiarkan hingga rasanya keluar. Proses ini, meski singkat, menciptakan jarak dari rutinitas. Tanpa disadari, kita dipaksa untuk tidak tergesa. Menyeduh teh menjadi awal dari jeda kecil yang jarang kita beri ruang dalam keseharian.
Secara umum, banyak penelitian dan kebiasaan budaya menunjukkan bahwa ritual sederhana dapat membantu tubuh dan pikiran memasuki kondisi lebih tenang. Aroma teh, misalnya, dikenal mampu memberi efek menenangkan karena melibatkan indera penciuman yang berkaitan erat dengan emosi. Suhu hangat dari teh juga memberi sensasi nyaman pada tubuh, membantu otot-otot rileks, dan menciptakan rasa aman. Bahkan sebelum teh diminum, prosesnya sudah memberi dampak yang menenangkan.
Selain itu, kegiatan menyeduh dan menikmati teh sering kali membuat seseorang lebih hadir pada momen, yaitu menikmati waktu saat ini. Tanpa perlu menyebutnya sebagai latihan khusus, minum teh secara perlahan memiliki kesamaan dengan praktik kesadaran penuh (mindfulness), yaitu memperhatikan apa yang sedang dilakukan tanpa tergesa. Fokus pada uap hangat, aroma, dan rasa membantu pikiran berhenti sejenak dari kekhawatiran atau rencana yang terus berputar.
Jeda-jeda kecil seperti ini memiliki peran penting bagi kesehatan mental. Secara umum, istirahat singkat di sela aktivitas diketahui dapat membantu mengurangi stres, memperbaiki fokus, dan menjaga keseimbangan emosi. Jeda tidak harus panjang atau rumit. Bahkan beberapa menit yang digunakan dengan sadar sudah cukup membantu tubuh dan pikiran beradaptasi dari tekanan sehari-hari.
Dalam konteks ini, teh tidak perlu dipandang sebagai solusi atas semua kelelahan. Ia bukan obat mujarab, melainkan sarana. Teh memberi alasan yang sederhana dan diterima secara sosial untuk berhenti sejenak. Tidak ada tuntutan produktivitas di dalamnya. Hanya waktu yang melambat, meski sebentar.
Pada akhirnya, seni menikmati jeda bukan tentang seberapa lama kita berhenti, tetapi tentang kesediaan untuk melakukannya. Secangkir teh mungkin terlihat sepele, namun di dalamnya tersimpan kesempatan kecil untuk kembali bernapas dengan tenang. Di antara kesibukan yang terus berjalan, teh mengingatkan kita bahwa berhenti sejenak juga bagian dari hidup yang perlu dijalani. *(NM)
