The Real Life Do Kang Woo: Menjinakkan Monster di Dalam Diri Sebagai Detektif -->

Header Menu

The Real Life Do Kang Woo: Menjinakkan Monster di Dalam Diri Sebagai Detektif

Jurnalkitaplus
02/02/26



Jurnalkitaplus - Sebenarnya dua karakter ini sangat melekat, terlebih lagi kehadiran Do Kang Woo dalam dua musim, ialah Voice 2 dan 3. Semua penonton sangat terheran: apakah dia pembunuh yang dicari-cari atau justru bukan?

 

Di dunia ini, kita tidak terlepas dari jeratan prasangka. Mau di dunia kerja, sekolah, kuliah bahkan mengasingkan diri saja. Prasangka tidak pernah lepas. Begitu Pula dengan karakter Do Kang Woo, setiap musim yang hadir sampai dia pergi, prasangka itu tidak lepas. 

 

Tapi yang menjadi pertanyaan besarnya adalah: Jika Tuhan menciptakanku dengan kepribadian anti-sosial cenderung psikopat, apakah aku harus menahan ini? Bukankah takdir ini mengunci ku untuk bisa hidup sama hal dengan orang normal?

 

Do Kang Woo merasa tidak adil. Setiap dirinya hidup dihantui oleh fitnah yang menyudutkan bahwa dialah pelakunya. Tapi, apakah dia diam diri saja? Menyerahkan semuanya pada hukum yang berjalan di negaranya? Justru tidak!

 

Kita adalah tokoh utamanya, mau seperti apa hidup kita tentu kita yang menjalaninya. Jika menyerah dan pasrah, lantas dia sendiri tidak mengingat bahwa dirinya yang membunuh, bahkan tidak ada bukti konkret yang membuktikan 'itu adalah dirinya' jelas itu yang dia kejar selama ini. 

 

Persoalan pertanyaan Do Kang Woo, dia memanglah berbeda dari manusia pada umumnya. Dia harus gila-gila untuk menahan diri supaya tidak fatal. Karena yang ada di pandangannya adalah monster, jelas kita tidak mempercayai itu. Tapi, itulah dia. Di hadapannya adalah monster, dia cenderung ingin membunuh monster itu walaupun yang kita lihat adalah manusia biasa. 

 

Tapi dari kepribadiannya, atau sakit jiwa yang diderita olehnya, bisa menjadi penuntun dalam menyelamatkan orang lain. Dia mengetahui dengan cermat dan teliti tanpa terlewatkan bahkan insting detektif yang berbeda dari yang lain, justru ia miliki. Hal itu, jauh lebih mudah baginya untuk menyelamatkan siapa yang berhak diadili. 

 

Dunia ini kejam karena ada manusia yang mengubahnya. Semua berlomba-lomba: Kita yang benar, kamu salah! 

 

Tapi? Ya, kita yang punya banyak keterbatasan dalam segi apapun itu yang menjadi hambatan. Lantas yang menjadi pertanyaan saat ini: Apakah kamu ingin mengenalnya atau justru mengabaikannya? Bahkan itu tetap menjadi bagian dirimu juga. 

 

Dari Do Kang Woo, kita belajar satu hal penting: menjadi orang baik bukanlah sifat bawaan yang mudah, melainkan keputusan yang harus diambil setiap hari, terutama saat kita memiliki alasan untuk menjadi jahat. Dia sering berkata bahwa ia berbeda dari para psikopat yang ia buru karena ia memiliki "keinginan untuk tetap menjadi manusia." Justru kita mendapatkan pengingat bahwa meski lingkungan atau masa lalu kita buruk, kendali atas Tindakan kita tetap ada di tangan kita sendiri. 

Penerimaan terhadap luka sangatlah penting. Seseorang tidak perlu menjadi sempurna untuk memberikan dampak bagi dunia. Kita harus sakit duluan justru hal ini menjadi alat yang paling tajam untuk memahami penderitaan orang lain.


FAI-32