Pernahkah Sobat temukan konten TKI atau influencer di luar negeri ketika mereka belanja di supermarket? Terus memperlihatkan harga barang di sana amat mahal, bisa 5-10x lipat dari Indonesia.
Fenomena ini tidak saja terjadi di satu dua barang, tapi di banyak tempat di luar negeri. Anehnya di Indonesia bisa kita temukan di sekitar rumah dan harganya sangat terjangkau.
Misalnya Gula aren di Indonesia dihargai Rp25.000/kg sedangkan di Amerika yang marketplace Amazon bisa dijual dengan harga Rp400.000/kg.
Peluang ekspor
Menurut akun Instagram yang membahas ekonomi dan bisnis @ngomonginuang (13/1), barang yang kita punya bisa lebih untung dijual ke luar negeri (ekspor) daripada di pasar atau marketplace Indonesia.
Fyi, banyak pembeli atau importir yang punya supplier dari China, mengingat dayanya yang murah dan cukup berkualitas. Namun, Perang Dagang AS-China 2018 dan Covid-19 membuat mereka was-was dan berstrategi minimal punya satu supplier lagi dari negara lain, bisa dari Vietnam, India, Indonesia, dan lainnya.
Tidak sedikit dari kita yang sukses menjual dengan profit fantastis. Misalnya, pada unggahan 9 Maret 2025 anak-anak muda dalam PT Youja Mitra Universal mengekspor arang briket sebanyak 1 x 20 ft ke Jerman.
Mempersiapkan bisnis ekspor
Bukan lagi sekedar produksi barang lalu langsung dijual, kita juga harus memikirkan: mau diekspor ke negara mana, mengetahui sistem ekspor, pergudangan, sistem logistik, hingga sistem perizinan di negara tujuan.
Tentu kita akan berhadapan dengan pemberkasan yang tidak sedikit.
Sebagai eksportir pun kita tidak menjual langsung ke ritel, tapi ke distributor atau perusahaan importir. Jadi kita tidak dibayar Rp400.000/kg. Harga ini memiliki banyak potongan:
- Pajak
- Bea masuk ke suatu negara
- Biaya logistik
- Biaya penyusutan dan barang rusak
- Biaya pengurusan dokumen
- Margin keuangan yang diambil perusahaan importir distributor, supermarket dan lain-lain.
Sama halnya seperti pedagang pemula, belum adanya network dan reputasi tidak akan mudah mencari buyer pertama. Selain itu kita jangan kaget dengan hal-hal ini:
- Banyak UMKM mengeluhkan sulitnya mendapat pendanaan dari bank untuk ekspor
- Modal besar, karena perusahaan luar negeri sering impor dalam volume besar
- Buyer sering minta sertifikat produk, bahkan kadang meminta sertifikasi yang tidak ada di Indonesia
- Masalah tak terduga dari pelabuhan (muatan melebihi kapasitas, barang busuk/rusak, hingga barang ditolak di negara tujuan)
- Banyak kasus penipuan
Pada akhirnya skill berhitung, bertahan di bawah risiko, dan memahami negara tujuan ekspor menjadi bekal utama. PT Youja Mitra Universal pun menulis, semoga ekspor ini membawa manfaat yang luas, tidak hanya untuk perusahaan, tapi juga untuk petani lokal, pekerja, dan lingkungan.
Semoga Sobat JKPers yang tertarik untuk bisnis ekspor dimudahkan selalu. (ALR-26)
