Kita melihat dunia secara real-time, dibandingkan diri kita sendiri dengan teman dari berbagai belahan dunia, dan sering kali membentuk standar yang tak realistis dalam hidup mereka. Ketika sorotan terus menerus itu menjadi beban, kesehatan mental pun ikut terguncang.
Namun di balik tantangan itu, ada kekuatan yang sering luput dari perhatian: peer pressure yang positif— tekanan dari teman sebaya yang mendorong perilaku sehat, mendukung, dan membangun.
Bayangkan punya sahabat yang tidak hanya mendengarkan kamu ketika kamu merasa rendah, tetapi juga mendorongmu bicara ke bantuan profesional, ikut komunitas yang memberi ruang aman, atau sekadar mengajakmu keluar saat pikiranmu terasa berat. Itu bukan sekadar dukungan — itu adalah kekuatan komunitas yang nyata.
Apa Itu Positive Peer Pressure?
Seringkali kita mendengar peer pressure dalam konotasi negatif — tekanan untuk ikut merokok, minum alkohol, atau melakukan hal yang membawa dampak buruk. Namun sebenarnya, peer pressure bisa menjadi sesuatu yang positif, ketika teman dan komunitas mendorong kamu untuk melakukan hal-hal bermanfaat:
menguatkan dukungan emosional
motivasi untuk mencari bantuan ketika sedang berat
mendorong kebiasaan sehat
membuat kamu merasa diterima dan dihargai
Contoh sederhana: ketika temanmu mengajak ikut komunitas diskusi santai, seminar kesehatan mental, atau sekadar ngobrol jujur tentang hari-harimu — itu semua adalah bentuk tekanan sosial yang memberdayakan, bukan melemahkan.
Peran Komunitas dalam Menguatkan Gen Z
Komunitas—baik itu kelompok kecil teman, komunitas hobi, hingga kelompok dukungan kesehatan mental—menyediakan ruang aman di mana Gen Z bisa merasa didengar, dihargai, dan tidak sendirian. Dukungan peer seperti ini berkaitan kuat dengan kesejahteraan mental:
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa dukungan teman sebaya berhubungan kuat dengan penurunan risiko ideasi bunuh diri, di mana 97,3% peserta yang merasakan dukungan kuat memiliki risiko rendah dibanding yang merasa kurang dukungan.
Studi dari budaya kolektivis seperti Indonesia menunjukkan bahwa peer support justru memperkuat efek dari mencari bantuan psikologis—artinya motivasi teman dapat mendorong lebih banyak anak muda untuk mencari pertolongan bila diperlukan.
Studi internasional lainnya pun menunjukan bahwa ketika pesan tentang kesehatan mental datang dari teman sejawat — bukan hanya figur ahli — stigma berkurang dan keterbukaan mencari bantuan meningkat.
Mengapa Gen Z Membutuhkan Peer Support Sekarang?
Generasi Z bukan hanya menghadapi tantangan hidup tradisional — sekolah, karier, cinta — tetapi juga:
paparan konstan media sosial yang membuat perbandingan pribadi semakin tajam
tekanan sosial untuk selalu "bahagia", "produktif", dan memenuhi standar keberhasilan yang tidak realistis
kemampuan mental yang diuji dalam lingkungan digital yang kompetitif dan cepat berubah
Dukungan emosional dari teman yang dapat memahami, mendengarkan, dan membantu kamu merasa berharga—jauh dari sekadar ikut tren—sangat membantu dalam membentuk kemampuan regulasi diri dan kepercayaan diri.
Bayangkan ini:
Seorang dari kita merasa hancur karena perbandingan di media sosial membuatnya merasa tidak cukup baik. Temannya mengajaknya ikut sebuah komunitas diskusi rutin—bukan untuk membandingkan prestasi, tetapi sekadar berbagi cerita. Di situlah ia menemukan bahwa ada banyak orang yang merasa seperti dirinya. Perlahan, dunia terasa tidak terlalu berat lagi.
Hal kecil seperti itu—uluran tangan seorang teman, canda ringan saat suasana sendu, ajakan nongkrong—bisa menjadi awal dari perubahan besar dalam cara seseorang melihat dirinya sendiri dan tantangan yang dihadapi.
Membangun Budaya Komunitas yang Sehat
Untuk menguatkan positive peer pressure, kita perlu:
menciptakan ruang aman bagi Gen Z untuk berbicara tanpa takut dinilai.
mendorong dialog terbuka tentang emosi, tekanan, dan kegagalan.
mengajarkan nilai mendengarkan, tidak sekadar menjawab.
memanfaatkan komunitas digital dan offline sebagai tempat saling mendukung.
Komunitas bukan hanya sekadar perkumpulan — ia bisa menjadi fondasi kuat yang membantu Generasi Z tumbuh secara mental dan emosional.
Positive peer pressure dan komunitas memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental Generasi Z. Ketika tekanan sosial tidak lagi hanya berupa tuntutan atau ekspektasi, tetapi menjadi sumber dukungan, motivasi, dan rasa aman — itu bukan sekadar tekanan, tetapi kekuatan yang mendorong perubahan.
Dalam dunia yang sering terasa terlalu cepat dan terlalu berat, memiliki teman, kelompok, atau komunitas yang bisa diandalkan bisa menjadi perbedaan antara hari yang gelap dan hari yang penuh harapan.
FAI-32
sumber referensi :
https://www.pewarta.org/index.php/JPI/article/download/151/86/333
https://www.reddit.com/r/u_fortismentalhealth/comments/t5k3bu
https://jik.stikesalifah.ac.id/index.php/jurnalkes/article/download/1504/pdf
https://ejournal.uinsalatiga.ac.id/index.php/pamomong/article/view/5646
https://lldikti5.kemdikbud.go.id/home/detailpost/gen-z-dan-kesehatan-mental
https://ojs.bakrie.ac.id/index.php/arunika/article/view/326
https://www.antaranews.com/berita/4190355/gen-z-bersikap-proaktif-menjaga-kesehatan-mental
https://kumparan.com/pengetahuan-umum/kesehatan-mental-generasi-z-di-dunia-digital-22hY7BDxLb6
