Puncak di Ambang Kiamat Ekologis: Mengapa Kita Masih Membangun di Atas Tanah yang Siap 'Menelan' Kita? -->

Header Menu

Puncak di Ambang Kiamat Ekologis: Mengapa Kita Masih Membangun di Atas Tanah yang Siap 'Menelan' Kita?

Jurnalkitaplus
26/01/26


Jurnalkitaplus  – Kabar duka kembali menyapa dari dataran tinggi Cisarua. Longsor yang terjadi bukan lagi sekadar "musibah alam" biasa, melainkan sebuah proklamasi kegagalan kita dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Selama puluhan tahun, Puncak dieksploitasi atas nama estetika dan ekonomi, namun kini alam mulai mengirimkan "tagihannya".


Data Sudah Bicara, Tapi Kita Memilih Tuli


Jika kita melihat peta risiko bencana, kawasan Cisarua bukanlah wilayah yang "aman-aman saja". Peta geologi jelas menunjukkan warna merah dan kuning—simbol kerentanan gerakan tanah menengah hingga tinggi. Masalahnya, mengapa izin bangunan (IMB) tetap keluar di zona merah? Mengapa beton-beton villa tumbuh lebih subur daripada pohon-pohon penahan air?


Tragedi ini membuktikan bahwa peta risiko bencana seringkali hanya berakhir sebagai pajangan di dinding kantor birokrasi, tanpa benar-benar menjadi kompas dalam pengambilan kebijakan tata ruang.


Dosa Alih Fungsi Lahan yang Tak Berujung


Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan hujan yang turun dari langit. Hujan adalah fenomena alam, namun longsor adalah akibat dari perilaku manusia. Hutan yang seharusnya berfungsi sebagai spons raksasa untuk menyerap air, kini telah berubah menjadi lantai-lantai semen dan aspal.


Tanah di lereng Cisarua kehilangan pegangan. Akar pohon digantikan oleh pondasi bangunan yang justru menambah beban berat pada lereng yang labil. Ketika hujan ekstrem melanda, tanah yang sudah jenuh air tak lagi punya pilihan selain luruh ke bawah, menyapu apa pun yang ada di depannya.


Wisata atau Bunuh Diri Massal?


Sektor pariwisata memang menjadi urat nadi ekonomi warga lokal. Namun, apa artinya cuan jika harus dibayar dengan nyawa? Kita terjebak dalam siklus pembangunan yang rakus. Kawasan resapan air diperkosa demi penginapan dengan view gunung, tanpa sadar bahwa gunung tersebut sedang menatap kita dengan ancaman maut.


Saatnya Audit Total


Pemerintah tidak boleh lagi hanya datang untuk memberikan bantuan sosial saat bencana terjadi. Yang kita butuhkan adalah ketegasan.


  • Audit Total: Periksa kembali izin bangunan di kawasan rawan longsor.


  • Moratorium Pembangunan: Hentikan izin pembangunan baru di zona merah tanpa kompromi.


  • Restorasi Ekologis: Kembalikan fungsi hutan, bukan sekadar menanam bibit pohon di depan kamera untuk pencitraan.


Jika kita terus mengabaikan peringatan alam dan peta bencana, maka tragedi Cisarua hanyalah pembukaan dari rangkaian bencana yang lebih besar di masa depan. Jangan tunggu sampai Puncak benar-benar rata dengan tanah baru kita tersadar.