Jurnalkitaplus - Media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, namun pertanyaan besar muncul: apakah platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook benar-benar bersifat adiktif? Para ahli psikologi menyatakan ya, karena fitur-fitur seperti notifikasi, infinite scroll, dan sistem like dirancang untuk memicu pelepasan dopamin di otak, mirip efek zat adiktif seperti nikotin atau alkohol.
Studi dari Stanford Medicine menjelaskan bahwa gratifikasi instan ini menciptakan siklus reward yang membuat pengguna sulit berhenti, bahkan merasa cemas saat tidak aktif .
Bukti ilmiah semakin kuat mendukung klaim ini, dengan survei global 2026 menunjukkan 5-31% pengguna mengalami kecanduan media sosial, termasuk 12,5% pengguna Facebook yang penggunaannya mengganggu tidur dan produktivitas.
Penelitian Johns Hopkins dan Nature mengaitkan penggunaan lebih dari 3 jam sehari dengan risiko dua kali lipat depresi serta kecemasan pada remaja dan mahasiswa. Pola kompulsif ini bahkan menyerupai gangguan mental, meski belum resmi diklasifikasikan sebagai kecanduan dalam DSM.
Dampak negatifnya patut diwaspadai, mulai dari penurunan harga diri akibat perbandingan sosial hingga gangguan tidur dan isolasi nyata.
Namun, tidak semua pengguna terdampak sama; faktor seperti usia dan durasi penggunaan berperan besar. Para pakar menyarankan pengaturan waktu layar dan detox digital untuk meminimalkan risiko, agar media sosial tetap jadi alat komunikasi tanpa menguasai hidup.
Sumber : TheConversation.com

