Jurnalkitaplus - Pertanian modern kini semakin mengandalkan sistem protected cropping—mulai dari rumah kaca berteknologi tinggi hingga penggunaan jaring buah—untuk melindungi tanaman dari cuaca ekstrem akibat perubahan iklim. Sistem ini membantu mengendalikan suhu, intensitas cahaya, curah hujan, dan serangan hama, sehingga produktivitas tanaman tetap stabil meski di musim hujan deras, panas menyengat, atau hujan es. Di banyak negara, pendekatan semacam ini tidak hanya mengurangi risiko gagal panen, tetapi juga menekan penggunaan air dan pestisida secara signifikan.
Dilansir dari laman The Conversation, konsep protected cropping berkembang dari perlindungan sederhana seperti jaring buah dan naungan hingga fasilitas rumah kaca otomatis yang dilengkapi sensor iklim dan irigasi presisi. Di Australia, misalnya, sekitar 14.000 hektare lahan digunakan untuk tanaman sayuran dan buah di bawah perlindungan, sebagian besar masih memanfaatkan jaring dan shade house. Di Eropa, negara seperti Belanda menunjukkan bahwa sistem rumah kaca modern dapat menghasilkan sekitar dua kali lipat produksi dengan separuh sumber daya, sambil memperkecil emisi dan kerentanan terhadap gelombang panas maupun hujan ekstrem.
Bagi Indonesia yang beriklim tropis dan kerap menghadapi banjir, kekeringan, dan perubahan musim yang tidak menentu, penerapan protected cropping bisa menjadi strategi kunci ketahanan pangan. Namun, tantangannya tak ringan, mulai dari biaya investasi awal, keterbatasan akses teknologi bagi petani skala kecil hingga kebutuhan pelatihan manajemen rumah kaca yang baik. Dengan kombinasi insentif kebijakan, pendampingan teknis, dan pilot projek di sentra produksi, model ini berpotensi menjadi pilar utama pertanian yang lebih tangguh di tengah iklim yang makin ganas. (FG12)

