Jurnalkitaplus– Peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara, Selasa (10/3/2026), bukan sekadar seremoni keagamaan biasa. Di hadapan para ulama dan pejabat negara, Presiden Prabowo Subianto melepaskan retorika yang tajam dan berapi-api: korupsi bukan hanya musuh negara, tapi musuh Tuhan dan sejarah.
Pernyataan ini adalah sebuah kontrak politik moral yang sangat berat. Prabowo menegaskan bahwa tidak ada bangsa yang akan selamat jika pemerintahannya membiarkan praktik lancung merajalela. Namun, pertanyaannya tetap sama sejak dekade lalu: sejauh mana taring kekuasaan akan benar-benar digigitkan ke leher para "perampok" kekayaan negara?
Korupsi: Antara Khotbah dan Realitas
Prabowo benar saat menyebut korupsi bertentangan dengan semua ajaran agama. Namun, dalam konteks Indonesia, agama seringkali hanya dijadikan "kosmetik" oleh para pelaku korupsi. Membawa narasi agama ke meja perlawanan korupsi adalah langkah berani, sekaligus berisiko menjadi bumerang jika dalam perjalanannya, orang-orang di lingkaran kekuasaan justru terjerat hal yang sama.
Ada beberapa poin krusial yang digarisbawahi Presiden dalam pidatonya:
- Pembersihan Internal: "Pemerintah harus mampu membersihkan diri," tegasnya. Ini adalah syarat mutlak. Tanpa teladan dari atas, pembersihan di level bawah hanya akan menjadi sandiwara.
- Kedaulatan Sumber Daya: Presiden menyoroti kekayaan alam yang "dibawa lari" ke luar negeri. Ini adalah sentimen nasionalisme ekonomi yang kuat, namun butuh penegakan hukum yang luar biasa tangguh untuk menghadapi mafia lintas negara.
- Target Kemiskinan: Mengaitkan korupsi langsung dengan kelaparan dan kemiskinan menunjukkan bahwa Presiden memahami bahwa setiap rupiah yang dikorupsi adalah sesuap nasi yang dirampas dari mulut rakyat.
Jangan Hanya Berhenti di Mimbar
Rakyat Indonesia sudah kenyang dengan pidato antikorupsi yang menggelegar. Yang dibutuhkan saat ini bukan lagi sekadar retorika "kita tidak boleh kalah," melainkan tindakan konkret yang membuat para koruptor gemetar.
Jika Presiden mengatakan Indonesia diberikan kekayaan berlimpah oleh Tuhan, maka tata kelola adalah ibadahnya. Melawan pencurian kekayaan negara adalah bentuk jihad yang paling nyata bagi seorang pemimpin.
Kita tidak boleh membiarkan pidato di hari suci ini hanya menjadi catatan kaki di media massa. Publik akan menagih: seberapa banyak aset negara yang bisa ditarik kembali? Seberapa berani pemerintah memutus rantai birokrasi yang menjadi sarang penyelewengan? | FG12
Catatan : Keberhasilan seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa fasih ia mengutip ayat atau sejarah, tapi dari seberapa bersih meja kerjanya dan seberapa kenyang perut rakyatnya. Prabowo telah memasang standar tinggi; kini saatnya membuktikannya.

