Jurnalkitaplus - Banyak cara kreatif untuk mengedukasi masyarakat agar lebih "melek literasi". Tentu saja peranan media sosial dewasa ini memudahkan setiap informasi dapat disebar untuk diserap. Seperti dalam channel Youtube Dunia Cepot melakukannya dengan memunculkan karakter ikonik "Si Cepot" - tokoh pewayangan di tanah Sunda, dalam menyampaikan informasinya melalui konten kreatif melakukan kegiatan "ngabuburit", kali ini dengan mengunjungi Bank Sampah Mandiri (BSM) di Kampung Tanjakan Muncang, Cileunyi.
Dalam kunjungannya tersebut, Cepot bersama Deni Sulaeman, S.E., pengelola BSM, mengupas tuntas inovasi pengelolaan sampah organik melalui metode bank sampah tematik maggot. Tak ketinggalan dengan guyonan khas "ala si Cepot". Program edukasi ini bertujuan mengedukasi masyarakat agar lebih produktif selama bulan Ramadan dengan memahami cara mengubah sampah yang awalnya dianggap kotor menjadi komoditas yang bernilai ekonomi tinggi.
Edukasi yang disampaikan menekankan bahwa larva yang digunakan berasal dari lalat Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam, yang berbeda dengan lalat hijau pembawa penyakit. Lalat BSF dewasa hanya minum dan tidak makan, sementara larvanya (maggot) sangat rakus dalam mengurai sampah organik seperti sisa nasi, sayuran, dan buah-buahan. Proses budidaya dilakukan secara sistematis, mulai dari perkawinan lalat di dalam kandang karantina (inseknet) hingga pemanenan telur yang kemudian menetas menjadi maggot pengurai sampah dalam siklus hidup sekitar 45 hari.
Selain membersihkan lingkungan, budidaya ini menghasilkan berbagai produk turunan yang menguntungkan secara finansial. Maggot segar digunakan sebagai pakan ternak tinggi protein untuk ikan dan unggas, sementara maggot kering dan tepung maggot menjadi solusi pakan yang tahan lama. Bahkan, maggot juga diolah menjadi maggot oil (minyak maggot) yang berfungsi sebagai serum kecantikan untuk menghilangkan flek hitam di wajah dengan harga jual mencapai Rp100.000 per 60 ml. Inovasi ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah berbasis maggot dapat menjadi pilar ekonomi baru bagi masyarakat. (FG12)

