Seni Menjaga Lisan: Mengapa Memilih Lawan Bicara Sama Pentingnya dengan Memilih Ucapan? -->

Header Menu

Seni Menjaga Lisan: Mengapa Memilih Lawan Bicara Sama Pentingnya dengan Memilih Ucapan?

Jurnalkitaplus
31/03/26

 


JURNALKITAPLUS – Dalam interaksi sosial, kita sering mendengar nasihat "pikirkan sebelum bicara." Namun, ternyata bukan hanya isi ucapan yang perlu dikurasi, melainkan juga kepada siapa ucapan itu disampaikan. Sebuah renungan mendalam mengingatkan kita bahwa berbicara buruk di hadapan orang baik bisa saja teredam oleh kebaikan mereka, namun berbicara di hadapan orang yang berperilaku buruk memiliki risiko yang jauh lebih besar.


​Bagaimana Islam memandang etika komunikasi ini? Berikut adalah tiga poin krusial yang perlu kita perhatikan agar lisan tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri.


1. Mengenali Karakter Lawan Bicara (Tabayyun dalam Interaksi)

​Kita tidak bisa memukul rata cara berkomunikasi kepada semua orang. Mengenal siapa yang ada di hadapan kita adalah bentuk perlindungan diri. Orang yang memiliki niat buruk bisa saja memelintir ucapan baik kita menjadi fitnah, atau menggunakan ucapan buruk kita sebagai senjata untuk menjatuhkan.


​Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman mengenai pentingnya memperhatikan kepada siapa kita berbicara dan bagaimana dampaknya:


"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik..." (QS. An-Nahl: 125)


​Ayat ini menegaskan bahwa menyampaikan kebenaran pun memerlukan "Hikmah"—salah satunya adalah ketepatan waktu, tempat, dan sasaran.


2. Kehati-hatian: Rem Pakem dalam Berkomunikasi

​Sikap waspada atau ihtiyat sangat diperlukan. Terkadang, saking nyamannya berbicara, kita lupa bahwa setiap kata memiliki bobot yang akan dimintai pertanggungjawaban. Di depan orang yang berperilaku buruk, satu kata yang salah bisa memicu konflik yang berkepanjangan.


​Rasulullah SAW memberikan standar emas dalam berkomunikasi melalui hadisnya:


"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari & Muslim)


​Hadis ini adalah pengingat bahwa jika kita ragu apakah lawan bicara kita bisa menerima ucapan dengan bijak, maka diam adalah pilihan yang lebih menyelamatkan.


3. Larangan Keras Berkata Buruk (Fakhish)

​Poin yang paling fundamental adalah menjauhi perkataan buruk (qaulan sayyian) kepada siapa pun, tanpa terkecuali. Jika kita berbicara buruk di depan orang baik, kita menodai kesucian suasana. Jika kita bicara buruk di depan orang jahat, kita hanya akan menambah bahan bakar bagi perilaku buruk mereka.


​Islam sangat melarang lisan yang tajam dan menyakitkan. Rasulullah SAW bersabda:


"Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, bukan orang yang suka melaknat, bukan orang yang suka bicara kotor, dan bukan orang yang bernada kasar." (HR. Tirmidzi)


Lisan adalah Cerminan Hati

​Menjaga lisan bukan hanya soal menjaga sopan santun, tapi soal menjaga kehormatan diri dan orang lain. Dengan mengenal lawan bicara, berhati-hati dalam berucap, dan konsisten dalam kebaikan, kita telah menjalankan salah satu ibadah lisan yang paling utama.


Ingatlah: Kata-kata yang sudah keluar tidak bisa ditarik kembali. Ia akan menjadi doa, menjadi ilmu, atau justru menjadi belenggu. 


Oleh : Ust. A. Halimi pada WAG Humas Reksa Mahardhika Utama