![]() |
| Gambar AI |
Jurnalkitaplus - Pernahkah kita membayangkan dapat menyimpan cahaya matahari, untuk diambil energinya jika sewaktu‑waktu kita butuhkan di masa depan? Di laboratorium University of California, Santa Barbara (UCSB), imajinasi itu kini mulai menjadi kenyataan lewat sebuah molekul organik cair yang mampu menangkap cahaya matahari dan “mengunci” energi itu langsung di dalam ikatan kimianya. Molekul yang berbentuk cairan ini bisa bertahan dalam keadaan berenergi tinggi selama berbulan‑bulan, bahkan sampai beberapa tahun, sehingga energi tersebut bisa dilepaskan kembali sebagai panas saat dibutuhkan, tanpa mengubah komposisi dasar molekulnya.
Teknologi yang disebut Molecular Solar Thermal (MOST) ini mengandalkan molekul berbasis pyrimidone termodifikasi yang bentuknya terinspirasi dari struktur penyusun DNA. Saat terkena cahaya matahari, molekul ini berubah bentuk menjadi konfigurasi tegang yang menyimpan energi, lalu tetap stabil dalam wujud tersebut. Ketika diberi pemicu, misalnya katalis asam atau sedikit pemanasan, molekul kembali ke bentuk asalnya dan mengeluarkan panas yang cukup besar—cukup untuk menguapkan air dalam skala laboratorium. Pendekatannya ini menawarkan alternatif baru untuk menyimpan energi surya tidak hanya dalam bentuk listrik, tetapi juga sebagai panas yang bisa digunakan untuk pemanas rumah, industri, atau proses kimia.
Dibanding baterai lithium‑ion konvensional, cairan molekuler ini memiliki kepadatan energi yang sangat tinggi—sekitar 1,65 megajoule per kilogram—dan bisa di‑recycle berulang‑ulang tanpa banyak degradasi. Namun, masih ada tantangan teknis, seperti kemampuannya yang saat ini lebih dominan menyerap cahaya ultraviolet daripada cahaya tampak, serta belum matangnya katalis yang bisa digunakan dalam sistem aliran berkelanjutan. Meski demikian, terobosan ini membuka jalan bagi sistem penyimpanan energi surya yang fleksibel, stabil, dan potensial untuk digunakan dalam jaringan energi terbarukan di masa depan. | FG12
Sumber New Atlas

