Sering BAB atau Sering Sembelit? Penelitian Ungkap Risikonya bagi Tubuh -->

Header Menu

Sering BAB atau Sering Sembelit? Penelitian Ungkap Risikonya bagi Tubuh

Jurnalkitaplus
21/04/26



Jurnalkitaplus -  Berapa lama kotoran (tinja) berada di dalam tubuh ternyata bukan sekadar soal “nyaman” atau “tidak nyaman” saat BAB. Sebuah rangkaian penelitian terbaru menunjukkan bahwa gut transit time—waktu yang dibutuhkan makanan dari mulut sampai keluar sebagai tinja—berhubungan erat dengan kesehatan mikrobioma usus, metabolisme, dan risiko penyakit jangka panjang.


Apa itu transit time usus?


Gut transit time adalah ukuran lamanya proses pencernaan, mulai dari saat makanan masuk ke mulut hingga dikeluarkan sebagai tinja. Pada orang dewasa sehat, waktu transit usus utuh rata‑rata sekitar 24–48 jam, meskipun rentang normalnya cukup luas, biasanya antara 10 hingga 73 jam.


Transit yang terlalu cepat (diare) atau terlalu lambat (sembelit) sama‑sama menandakan perubahan fisiologis yang dapat memengaruhi keseimbangan bakteri di usus.


Mikrobioma dan metabolit yang berubah


Sebuah tinjauan komprehensif 2023 yang diterbitkan di jurnal Gut menggabungkan data dari puluhan studi dan menemukan bahwa orang dengan transit lambat memiliki komposisi bakteri usus yang berbeda dari orang dengan transit cepat.


Pada individu dengan transit lambat, peneliti melihat lebih banyak bakteri yang memfermentasi protein, sehingga berpotensi meningkatkan produksi metabolit sampingan yang kurang menguntungkan, seperti senyawa berbau kuat atau bahan yang bersifat pro‑inflamasi.


Risiko kesehatan jangka panjang


Transit yang terlalu lama juga dikaitkan dengan peningkatan kadar sejumlah metabolit tertentu dan tanda‑tanda kerusakan hati atau peradangan sistemik, yang merupakan faktor risiko penyakit metabolik dan kardiovaskular.


Sebaliknya, orang dengan transit sangat cepat (diare kronis) cenderung mengalami penurunan penyerapan nutrisi dan perubahan pola bakteri, di mana lebih banyak bakteri dari bagian atas saluran cerna “terlihat” pada tinja, bukan hanya bakteri usus besar yang seharusnya dominan.


Frekuensi BAB “ideal” menurut penelitian


Sejumlah studi baru (2024–2026) menemukan bahwa individu dengan kebiasaan buang air besar sekitar 1–2 kali per hari cenderung memiliki pola mikrobioma dan biomarker kesehatan yang lebih baik dibandingkan mereka yang sangat jarang atau sangat sering BAB.


Status ini kemudian dijuluki peneliti sebagai “Goldilocks zone” frekuensi BAB: tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat, melainkan berada pada kisaran yang seimbang dan sehat.


Kapan harus ke dokter?


Jika BAB menjadi sangat jarang (kurang dari 3 kali per minggu), atau sangat sering dengan pola diare kronis, ditambah gejala seperti nyeri perut, darah dalam tinja, penurunan berat badan, atau perubahan pola yang bertahan lebih dari beberapa minggu, kondisi ini perlu diwaspadai.


Perubahan transit time yang bermakna bisa menjadi sinyal awal masalah seperti sindrom iritasi usus, penyakit inflamasi usus, penyakit hati, atau kondisi lain yang memerlukan evaluasi medis lebih lanjut.


Cara sederhana menjaga transit usus sehat


Perubahan gaya hidup kecil ternyata berdampak besar. Pola makan tinggi serat (sekitar 25–50 g/hari dari sereal gandum utuh, kacang‑kacangan, buah, dan sayuran), minum cukup air, olahraga teratur, serta kebiasaan ke toilet yang teratur dapat membantu menjaga waktu transit usus di kisaran yang sehat.


Dengan memperhatikan bagaimana tinja Anda bergerak di dalam tubuh, Anda bukan hanya menjaga kenyamanan pencernaan, tetapi juga ikut memelihara keseimbangan mikrobioma dan kesehatan jangka panjang. | FG12


Sumber Science Alert