43 Guru Besar Teken Deklarasi Pendidikan Berasrama -->

Header Menu

43 Guru Besar Teken Deklarasi Pendidikan Berasrama

Jurnalkitaplus
05/06/26

image.png
LognewsTV/YouTube

Jurnalkitaplus.com. Indramayu- Simposium Pendidikan Indonesia yang diselenggarakan di Masjid Rahmatan Lil Alamin pada Senin (1/6/2026) mengangkat tema besar "Menuju Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama Demi Terwujudnya Indonesia Modern di Abad XXI dan Usia 100 Tahun Kemerdekaan". 

Forum ini mempertemukan 43 orang jajaran pakar, akademisi, dan pejabat pemerintahan dari berbagai penjuru negeri untuk mendiskusikan masa depan sistem pendidikan nasional jangka panjang. Berbagai pandangan komprehensif berhasil dirumuskan sebagai kelanjutan dari rangkaian simposium sebelumnya demi menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045. 

Sebagai pembuka pemikiran, Prof. Dr. Akhiruddin Maddu, M.Si. (Guru Besar Fisika IPB University) menegaskan bahwa target capaian Indonesia Emas 2045 harus diwujudkan dalam waktu yang tidak lama lagi melalui penguatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Karakter SDM yang unggul ini harus menjadi ciri khas utama yang melekat pada setiap generasi penerus bangsa. 

Menambahkan esensi karakter tersebut, Prof. Dr. Paschalis Maria Laksono, M.A. (Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada) mengingatkan kembali pentingnya implementasi tiga semboyan klasik Ki Hajar Dewantara, yaitu ing ngarso sung tulodo (di depan memberi contoh), ing madyo mangun karso (di tengah memberi gaya/semangat), serta tut wuri handayani

Semboyan ini perlu didukung bersama melalui fleksibilitas serta pemahaman lintas dan antarbudaya agar nilai-nilai kebangsaan dapat abadi. Di sisi lain, tantangan riil dalam implementasi sekolah berasrama juga menjadi sorotan penting para ahli makroekonomi dan kebijakan publik. 

Prof. Dr. H. A. Jajang W. Mahri, M.Si. (Guru Besar Ilmu Ekonomi dan Keuangan Islam UPI) memaparkan beban APBN yang saat ini sudah cukup ketat akibat alokasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga rencana investasi pendanaan untuk 500 titik pendidikan berasrama baru membutuhkan pertimbangan yang matang, termasuk dalam mengantisipasi potensi konflik agraria pembebasan lahan. 

Beliau juga menggarisbawahi tantangan akademik agar para santri tidak terisolasi dari perkembangan luar, melainkan mampu menyeimbangkan sektor produksi mandiri dengan dunia akademik melalui trial project di beberapa kabupaten terpilih. 

Selaras dengan itu, Setyo Tri Wahyudi, S.E., M.Ec., Ph.D. (Pakar Ekonomi Universitas Brawijaya) menyatakan setuju bahwa investasi pendidikan adalah jalan terbaik mendongkrak kualitas SDM, namun memerlukan kajian spasial yang mendalam agar lulusan yang dihasilkan nantinya tidak mengalami fenomena salah urus atau mismatch di pasar kerja. 

Memasuki tantangan zaman baru, Dr. Hanif Fakhrurroja, M.T. (Peneliti Pusat Riset Sains Data dan Informasi BRIN) mengingatkan bahwa kita telah berada di era disruptif di mana segalanya berubah dengan sangat cepat. Pada era ini, modal kecerdasan intelektual (IQ) dan emosional (EQ) saja tidak lagi cukup, melainkan harus ditopang kuat oleh survival skill atau kemampuan bertahan hidup. 

Menanggapi kondisi disrupsi global tersebut, drh. Arif Amin, M.Sc. (Akademisi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB) menekankan pentingnya sikap rendah hati (bukan rendah diri) sebagai bangsa yang besar demi mewujudkan tatanan masyarakat yang beradab dan sejahtera sesuai prinsip Baldatun thayyibatun wa rabbun Ghafur

Semangat ini pun diperkuat oleh Prof. Dr. Dinn Wahyudin, M.A. (Guru Besar Kurikulum UPI) yang menekankan perlunya keberanian kolektif untuk menatap langkah baru melalui inovasi-inovasi kurikulum yang transformatif. 

Keunggulan praktis dari sistem sekolah berasrama kemudian diulas lebih dalam dari sudut pandang pembentukan moral religius dan kemandirian sosial. Prof. Dr. Imam Ali Suprayogo, M.Pd. (Guru Besar Pendidikan Islam/Mantan Rektor UIN Malang) menjabarkan nilai tambah pendidikan berasrama, di mana anak didik diajarkan langsung untuk mempraktikkan ibadah sosial, seperti berqurban dan mendistribusikannya secara langsung kepada masyarakat, agar terhindar dari murka Allah akibat hanya sekadar berteori (kabura maqtan indallahi... Surah As-Saff ayat 3). 

Pola didik mandiri ini diamini oleh Achmad Faqih, S.P., M.Si. (Dosen/Dekan Fakultas Pertanian Universitas Swadaya Gunung Jati) yang menyatakan bahwa indikator keberhasilan generasi unggul adalah ketika murid atau mahasiswa mampu lebih pintar dari pengajarnya. 

Melalui modal investasi seperti ini, pembentukan karakter berbasis produk berkualitas tinggi akan menjadi ladang amal jariyah yang siap dipanen di masa depan. Dukungan nyata terhadap model tata kelola pendidikan ini datang dari pihak regulator wilayah setempat. Caridin (Wakil Bupati Indramayu) menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada Ma'had Al-Zaytun yang telah berhasil menghadirkan para profesor dari seluruh penjuru Indonesia. 

Beliau menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Indramayu untuk terus memajukan pendidikan secara terpadu melalui kolaborasi erat bersama perguruan tinggi dan menyambut gagasan ini dengan penuh optimisme. 

Melengkapi dukungan tersebut, Dr. Amich Alhumami, MA, M.Ed. (Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Bappenas) memberikan testimoni bahwa jika ingin melihat prototipe nyata kesuksesan konsep pendidikan berasrama modern, maka Ma'had Al-Zaytun adalah jawaban konkretnya. 

Secara ideologis, Ir. Ilham Aidit (Pakar Multikulturalisme/Arsitek) memandang bahwa ekosistem yang dibangun di lembaga ini sangat dekat dengan nilai-nilai Pancasila dan prinsip keberagaman, salah satunya tercermin dari pembiasaan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 Stanza yang setiap baitnya memiliki daya gugah yang sama baiknya. 

Beliau menilai rencana duplikasi model pendidikan ini menjadi 500 titik sebagai langkah bagus untuk membangun bangsa, terlepas dari banyaknya dinamika eksternal berupa kecemburuan sosial atau musuh yang dihadapi. Sejalan dengan perspektif inklusivitas tersebut, Drs. Ch. Robin Simanullang (Tokoh Wartawan Senior) mengkategorikan simposium seperti tempat kerja praktik yang terbuka bagi siapa saja atau laboratorium inklusif, di mana kita bisa langsung mengamati dan memahami bagaimana masyarakat zaman sekarang berubah dan berkembang.

Sebagai penutup rangkaian gagasan, Syekh Abdussalam Panji Gumilang, S.Sos., M.P. (Pendiri dan Pimpinan Ma'had Al-Zaytun) menceritakan kembali rekam jejak perjalanan panjang dalam merintis sistem pendidikan berasrama. 

Beliau mengungkapkan bahwa Universitas Madinah menjadi salah satu titik inspirasi awal untuk membangun "Universitas Madinah Indonesia", di mana para santri tidak hanya belajar secara teoritis tetapi juga diajarkan memanage sektor pertanian modern secara strategis. Meskipun selama proses berdiri diterpa berbagai macam tantangan berat, pegangan teguh pada ajaran Ilahi menjadi bekal utama untuk terus konsisten memberikan kontribusi pendidikan terbaik bagi bangsa.

Simposium pendidikan di peringatan Hari Lahir Pancasila ini pun ditutup dengan deklarasi bersama.

Liputan: Alivva Rahmani, Firda Nur Laila, Wulan Nuryati