Belajar dari Romawi: Mengapa Program Makan Gratis Tetap Dipertahankan Meski Membebani Anggaran? -->

Header Menu

Belajar dari Romawi: Mengapa Program Makan Gratis Tetap Dipertahankan Meski Membebani Anggaran?

Jurnalkitaplus
23/06/26



Jurnalkitaplus - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan pemerintahan Prabowo Subianto dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak, menekan angka stunting, serta memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam jangka panjang. Pemerintah menilai investasi pada asupan gizi generasi muda merupakan fondasi penting untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Namun, sebagaimana program sosial berskala besar lainnya, MBG juga memunculkan perdebatan terkait besarnya kebutuhan anggaran negara dan keberlanjutannya di masa depan.


Perdebatan semacam itu sejatinya bukan hal baru dalam sejarah. Jauh sebelum negara modern lahir, Kekaisaran Romawi telah menjalankan program pembagian makanan gratis yang dikenal sebagai grain dole atau annona. Program ini bahkan berlangsung selama berabad-abad meskipun menyedot biaya besar dan menuntut sistem logistik yang rumit. 


Di Roma kuno, pemerintah mendistribusikan gandum gratis kepada ratusan ribu warga kota. Awalnya program tersebut hanya berupa subsidi pangan murah yang diperkenalkan oleh tokoh politik Romawi pada abad ke-2 sebelum Masehi. Namun seiring waktu, bantuan itu berkembang menjadi pembagian gandum gratis yang diterima sekitar 200.000 hingga 250.000 warga setiap bulan. 


Meski menguras kas negara, para penguasa Romawi tidak berani menghentikannya. Alasannya sederhana: stabilitas sosial. Kota Roma saat itu dihuni jutaan penduduk yang sangat bergantung pada pasokan pangan dari luar wilayah. Kelangkaan makanan berpotensi memicu kerusuhan, protes massa, hingga mengguncang legitimasi pemerintah. Karena itu, memastikan rakyat tetap mendapatkan bahan pangan menjadi bagian penting dari strategi mempertahankan ketertiban publik. 


Program tersebut juga memiliki dimensi politik yang kuat. Bagi para kaisar dan pejabat Romawi, distribusi pangan bukan sekadar bantuan sosial, melainkan instrumen untuk menjaga loyalitas warga. Dari sinilah lahir ungkapan terkenal panem et circenses atau "roti dan hiburan", yang menggambarkan cara pemerintah menjaga dukungan rakyat melalui pemenuhan kebutuhan dasar dan penyediaan hiburan publik. 


Di sisi lain, program makan gratis Romawi mendorong terbentuknya sistem administrasi dan logistik yang sangat maju untuk ukuran zamannya. Pasokan gandum didatangkan dari wilayah Mesir dan Afrika Utara, diangkut melalui jalur laut, disimpan di gudang-gudang besar, lalu didistribusikan secara teratur kepada warga yang terdaftar. Seluruh rantai pasokan itu menjadi tulang punggung keberlangsungan ibu kota kekaisaran. 


Pengalaman Romawi menunjukkan bahwa program bantuan pangan sering kali tidak hanya dinilai dari besarnya biaya yang dikeluarkan, tetapi juga dari manfaat sosial dan politik yang dihasilkan. Ketika negara memandang ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan stabilitas sosial sebagai prioritas strategis, program semacam ini cenderung dipertahankan meski membutuhkan anggaran besar. 


Bagi Indonesia, pelajaran dari Romawi bukan berarti meniru secara utuh model masa lalu. Namun sejarah menunjukkan bahwa investasi negara dalam pemenuhan kebutuhan dasar rakyat selalu menjadi bagian penting dari pembangunan peradaban. Tantangan sesungguhnya bukan sekadar soal mahal atau murahnya program, melainkan bagaimana memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat serta dikelola secara efektif, transparan, dan berkelanjutan. |FG12 


Sumber National Geographic