MAJALAH JKP | EDISI 72 Rubrik: Masih Tentang Kopi -->

Header Menu

MAJALAH JKP | EDISI 72 Rubrik: Masih Tentang Kopi

Jurnalkitaplus
19/06/26

Menjejak Wangi Surga Hitam dari Bumi Priangan


Bumi Priangan bukan cuma kaya akan panorama alam yang memanjakan mata atau budaya yang aduhai, melainkan juga menyimpan "harta karun" hitam yang aromanya telah melanglang buana ke berbagai belahan dunia. Sejak zaman Preanger Stelsel di era kolonial Hindia Belanda, tanah vulkanik yang subur dan pelukan udara pegunungan yang sejuk di Tatar Sunda ini telah melahirkan biji kopi berkualitas tinggi dengan karakteristik rasa yang luar biasa. Mulai dari sentuhan rasa buah (fruity), kacang (nutty), hingga cecapan akhir cokelat yang lembut, kopi asal tanah Sunda sukses mengunci perhatian para pencinta kopi global.  


Tak heran, Jurnalkita+ menghimpun tujuh mutiara hitam dari Priangan bagian Selatan yang namanya sudah sangat harum di panggung internasional. Sebut saja Kopi Ciwidey dari Gunung Tilu yang sukses menyabet rekor MURI sebagai kopi termahal di Indonesia berkat bodi kuat namun lembut, serta varian "Wine"-nya yang eksotis. Lalu ada Kopi Malabar dari Pangalengan yang sejarahnya dibawa dari India dan bertahun-tahun silam berhasil memikat pasar Eropa dengan harga selangit berkat rasa manis serta tingkat keasaman segar yang ringan.  


Melipir ke timur, Kopi Khas Garut dari lereng Papandayan dan Cikuray menawarkan keseimbangan rasa floral dan karamel lewat varietas langka seperti Yellow Caturra. Sementara itu, Kopi Gunung Puntang menancapkan taringnya di kancah global setelah menyabet peringkat pertama dalam kategori rasa di ajang bergengsi Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016 di Atlanta, Amerika Serikat.  


Kekayaan ini kian lengkap dengan Kopi Palasari dari Gunung Manglayang yang tersohor dengan kualitas premium specialty-nya, serta Kopi Gunung Halu dari Bandung Barat yang memikat pasar Amerika, Eropa, hingga Asia lewat keunikan cita rasa pisang dan proses zero waste-nya. Tak ketinggalan, Kopi Mekarwangi yang ditanam di antara pepohonan buah, menghadirkan sensasi rasa ripe mango (mangga matang) dan sentuhan rempah yang menggoda di ujung lidah.  


Ketujuh kopi ini membuktikan bahwa Bumi Priangan bukan sekadar tempat menanam, melainkan rahim dari mahakarya rasa yang diakui dunia. Namun, di balik harumnya aroma yang menembus kedai-kedai kopi modern di Paris, Amsterdam, hingga New York, sebuah pertanyaan besar masih tersisa.  


Bagaimana nasib para petani lokal di balik ratusan hektar perkebunan ini dalam mempertahankan autentisitas varietas kuno di tengah gempuran perubahan iklim? Dan benarkah ada satu varietas rahasia dari ketujuh kopi di atas yang konon menjadi incaran utama para barista dunia secara sembunyi-sembunyi?


Simak penelusuran mendalam tim redaksi JKP pada halaman berikutnya...