REMONTANDA FROM WITHIN & NOVUM GRADUM DALAM PENDIDIKAN -->

Header Menu

REMONTANDA FROM WITHIN & NOVUM GRADUM DALAM PENDIDIKAN

Jurnalkitaplus
03/06/26



Ungkapan Remontada from Within dan Novum Gradum menjadi landasan filosofis sekaligus spirit penggerak dalam penulisan Grand Desain 500 Pusat Pendidikan Nasional Berasrama Terintegrasi (PBT) yang diinisiasi oleh Lembaga pendidikan atau Ma’had Al Zaytun. Kedua konsep tersebut merepresentasikan visi besar transformasi pendidikan Indonesia yang bertumpu pada kekuatan internal bangsa dan keberanian melakukan lompatan kemajuan melalui inovasi yang berkelanjutan.  


Remontada from Within menegaskan bahwa kebangkitan pendidikan nasional harus dimulai dari pembangunan manusia Indonesia yang berkarakter, berintegritas, berdaya saing, dan memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.  Sementara itu, Novum Gradum mencerminkan tekad untuk memasuki tahapan baru pembangunan pendidikan melalui model-model pembelajaran yang lebih modern, terintegrasi, dan relevan dengan tantangan abad ke-21.  


Dalam kerangka tersebut, Pendidikan Nasional Berasrama Terintegrasi (PBT) hadir sebagai salah satu model pendidikan strategis yang memadukan keunggulan sistem berasrama dengan pendekatan sekolah terintegrasi. PBT tidak sekadar menghadirkan sekolah yang memiliki asrama, melainkan membangun sebuah ekosistem pendidikan komprehensif. 


Yaitu menyatukan pembelajaran akademik, pembentukan karakter, penguatan spiritualitas, pengembangan kepemimpinan, wawasan kebangsaan, serta keterampilan hidup dalam satu sistem pendidikan yang utuh, berkesinambungan, dan berorientasi pada lahirnya generasi unggul Indonesia menuju peradaban maju. 


Kebangkitan dan Inovasi 


Ungkapan “Remontada from Within” dan “Novum Gradum” relatif baru digunakan dalam berbagai diskursus kepemimpinan, pendidikan, dan transformasi pendidikan. Keduanya bukan konsep baku dalam literatur akademik klasik, melainkan lebih merupakan ungkapan atau motto yang mengandung makna filosofis tertentu. Kata remontada berasal dari bahasa Spanyol yang berarti comeback, kebangkitan, atau kemampuan membalikkan keadaan setelah mengalami ketertinggalan. Dalam dunia sepak bola, istilah ini menjadi sangat populer untuk menggambarkan t im yang mampu bangkit dari posisi yang hampir kalah menjadi pemenang. Secara harfiah, remontada berarti “naik kembali” atau “mengatasi ketertinggalan.”  Ketika digabungkan dengan frasa from within (dari dalam), maknanya berubah menjadi lebih filosofis. 


Remontada from Within dapat diartikan sebagai kebangkitan yang bersumber dari kekuatan internal, bukan karena bantuan eksternal. Perubahan tidak dimulai dari lingkungan, teknologi, atau kebijakan, melainkan dari kesadaran diri, karakter, pola pikir, dan kemauan untuk berubah. Dalam konteks pendidikan, konsep ini mengandung pesan bahwa transformasi peserta didik harus dimulai dari dalam diri mereka sendiri. Kurikulum, guru, dan fasilitas hanya berfungsi sebagai katalis. Faktor utama yang menentukan keberhasilan adalah tumbuhnya motivasi intrinsik, disiplin, integritas, dan semangat belajar yang lahir dari kesadaran pribadi. 


Dalam konteks organisasi atau kepemimpinan, Remontada from Within menekankan bahwa reformasi sejati tidak dapat hanya mengandalkan perubahan struktur atau regulasi. Organisasi akan bangkit apabila terjadi perubahan budaya kerja, etos pelayanan, dan komitmen anggota dari dalam. Dengan demikian, kebangkitan institusi merupakan hasil transformasi mental kolektif. Sedangkan Istilah Novum Gradum berasal dari bahasa Latin. Kata novum berarti sesuatu yang baru, inovasi, pembaruan, atau terobosan yang belum pernah ada sebelumnya. Dalam berbagai literatur Latin dan hukum, novum selalu merujuk pada unsur kebaruan atau fakta baru yang mengubah keadaan yang sudah ada.  


Kata gradum berasal dari akar kata Latin gradus yang berarti langkah, tingkatan, jenjang, atau tahapan. Jika kedua kata digabungkan, Novum Gradum dapat diterjemahkan sebagai “langkah baru”, “tahap baru”, atau “jenjang kemajuan baru”. Secara f ilosofis, istilah ini menggambarkan lompatan menuju fase perkembangan yang lebih tinggi. Dalam konteks pendidikan, Novum Gradum dapat dimaknai sebagai paradigma baru pembelajaran yang membawa peserta didik memasuki tingkat kompetensi yang lebih maju. 


Konsep ini menekankan bahwa pendidikan tidak sekadar mempertahankan tradisi, tetapi harus terus menghasilkan inovasi yang relevan dengan perubahan zaman.  Dalam konteks pembangunan bangsa, Novum Gradum dapat dipahami sebagai ajakan untuk memasuki tahap baru peradaban Indonesia. Istilah ini menggambarkan pergeseran dari pola pembangunan yang bersifat konvensional menuju transformasi yang berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, kreativitas, dan karakter kebangsaan. Unsur novum memiliki akar kuat dalam bahasa Latin dan berbagai tradisi ilmiah yang berarti “sesuatu yang baru” atau “inovasi.”  


Remontada from Within  maknanya kebangkitan dari dalam diri; transformasi yang berawal dari kesadaran, karakter, dan kekuatan internal. Sedangkan Novum Gradum  dimaknakan seabagai langkah baru menuju tingkat kemajuan yang lebih tinggi; simbol inovasi, pembaruan, dan lompatan peradaban.  


Pendekatan di Mahad Al Zaytun 


Ma’had Al Zaytun dapat dipandang sebagai salah satu contoh menarik bagaimana sebuah lembaga pendidikan berupaya memadukan semangat Remontada from Within dan Novum Gradum dalam proses pengembangannya. Sejak berdirinya, pengembangan pesantren ini tidak hanya diarahkan pada pembangunan sarana fisik, tetapi juga pada pembentukan budaya institusi yang kuat. Dalam perspektif Remontada from Within, perubahan dipahami sebagai proses yang harus dimulai dari manusia, yakni dari perubahan pola pikir, karakter, etos kerja, dan kesadaran kolektif seluruh warga pesantren. Karena itu, pembangunan gedung, fasilitas, maupun sistem pendidikan selalu ditempatkan sebagai instrumen untuk mendukung pembangunan manusia yang menjadi pusat dari seluruh proses pendidikan. 


Penerapan prinsip tersebut dapat diamati pada upaya membangun kultur kehidupan pesantren yang tertib, teratur, dan produktif. Berbagai pihak yang pernah mengunjungi Al Zaytun sering mencatat keteraturan aktivitas harian, kebersihan lingkungan, serta kuatnya budaya disiplin dalam kehidupan santri. Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dalam keseluruhan ekosistem kehidupan pesantren. Dengan demikian, perubahan perilaku dan pembentukan karakter tidak terjadi secara instan, melainkan tumbuh melalui proses pembiasaan yang berlangsung terus-menerus. 


Prinsip kebangkitan dari dalam juga tercermin dalam sistem pendidikan berasrama yang memungkinkan proses pembelajaran berlangsung selama dua puluh empat jam. Kehidupan sehari-hari santri menjadi bagian integral dari proses pendidikan. Pengelolaan waktu, pelaksanaan ibadah, tanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan, kedisiplinan mengikuti kegiatan, hingga interaksi sosial antarsantri menjadi wahana pembentukan karakter yang efektif. Melalui proses tersebut, nilai-nilai seperti tanggung jawab, kemandirian, integritas, dan etos kerja t idak hanya dipahami secara konseptual, tetapi dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. 


Dalam aspek kelembagaan, semangat Remontada from Within tampak pada upaya membangun organisasi yang bertumpu pada kekuatan internalnya sendiri. Pengembangan sumber daya manusia, penguatan sistem manajemen, serta pembentukan budaya kerja yang produktif menjadi bagian penting dari strategi pengembangan lembaga. Berbagai unit kegiatan pendidikan, sosial, maupun ekonomi yang berkembang di lingkungan pesantren dapat dipandang sebagai sarana pembelajaran organisasi yang melibatkan partisipasi aktif seluruh warga. Melalui cara ini, pesantren tidak hanya mendidik individu, tetapi juga membangun kapasitas kelembagaan secara berkelanjutan. 


Konsep kebangkitan dari dalam juga terlihat pada upaya membangun rasa percaya diri kolektif di kalangan santri. Pendidikan diarahkan untuk menumbuhkan keyakinan bahwa setiap peserta didik memiliki potensi untuk berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan peradaban. Berbagai kegiatan kepemimpinan, forum diskusi, latihan pidato, organisasi pelajar, dan kegiatan akademik menjadi ruang aktualisasi yang mendorong santri berani menyampaikan gagasan, bekerja sama, serta mengambil keputusan. Pengalaman-pengalaman tersebut berfungsi sebagai proses pembelajaran sosial yang memperkuat kepercayaan diri dan kemampuan kepemimpinan mereka. 


Pada saat yang sama, pengembangan pendidikan di Al Zaytun juga memperlihatkan karakteristik Novum Gradum, yaitu keberanian melakukan langkah-langkah baru dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren. Salah satu ciri yang menonjol adalah upaya mengintegrasikan Pendidikan keagamaan dengan pendidikan umum, penguasaan bahasa, teknologi, kewirausahaan, dan wawasan kebangsaan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa tradisi pesantren tidak diposisikan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan modernitas, melainkan sebagai fondasi untuk membangun inovasi pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman. 


Semangat Novum Gradum juga tercermin dalam pengembangan kurikulum yang berorientasi pada masa depan. Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga memiliki kompetensi akademik, kemampuan berpikir kritis, keterampilan komunikasi, dan kesiapan menghadapi perubahan global. Penguatan penguasaan bahasa asing, literasi digital, sains, dan wawasan internasional menjadi bagian dari upaya mempersiapkan santri agar mampu berinteraksi dalam lingkungan yang semakin terbuka dan kompetitif. 


Dalam konteks pengelolaan pendidikan, Novum Gradum diwujudkan melalui pembangunan ekosistem pembelajaran yang terintegrasi. Asrama, sekolah, fasilitas olahraga, pusat kegiatan sosial, area pertanian, serta berbagai unit pendukung lainnya dikembangkan sebagai satu kesatuan lingkungan belajar. Pendekatan ini memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang tidak terbatas pada teori, tetapi juga melalui praktik langsung dalam kehidupan nyata. Lingkungan pesantren berfungsi sebagai laboratorium sosial tempat santri belajar menghubungkan pengetahuan dengan tindakan.


Dimensi pembaruan lainnya tampak dalam penguatan wawasan kebangsaan yang berjalan seiring dengan pendidikan keagamaan. Al Zaytun berupaya menanamkan nilai-nilai keislaman yang selaras dengan semangat kebangsaan, persatuan, dan penghargaan terhadap keberagaman. Berbagai kegiatan pendidikan dirancang untuk menumbuhkan kesadaran bahwa identitas keagamaan dan identitas kebangsaan bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berkembang secara harmonis dalam diri peserta didik. Pendekatan ini menjadi salah satu bentuk inovasi pendidikan karakter yang relevan dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. 


Remontada from Within dan Novum Gradum sesungguhnya merupakan dua sisi yang saling melengkapi dalam pengembangan pendidikan di Ma’had Al Zaytun. Yang pertama menekankan pentingnya transformasi manusia dan budaya organisasi sebagai sumber perubahan, sedangkan yang kedua menekankan keberanian melakukan inovasi untuk menjawab tantangan masa depan. Perpaduan keduanya menghasilkan model pengembangan pendidikan yang berupaya menjaga keseimbangan antara pembentukan karakter, penguatan kelembagaan, dan pembaruan sistem pendidikan.  


Pengalaman Ma’had Al Zaytun dapat dipandang sebagai salah satu studi kasus menarik dalam pengembangan pendidikan pesantren kontemporer di Indonesia. Berbagai praktik yang berkembang menunjukkan bahwa pendidikan berbasis pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia, inovasi sosial, dan pembentukan karakter kebangsaan. Dalam perspektif ini, Remontada from Within menjadi fondasi transformasi internal, sementara Novum Gradum menjadi arah strategis menuju kemajuan. Keduanya bersama-sama membentuk kerangka pendidikan yang berupaya melahirkan generasi yang berkarakter, berilmu, mandiri, serta siap menghadapi tantangan peradaban abad ke-21. 


Peluang & Tantangan 


Apabila semangat Remontada from Within dan Novum Gradum dikembangkan secara nasional dalam sistem pendidikan Indonesia, peluang terbesar yang dapat diperoleh adalah lahirnya paradigma pendidikan yang lebih berpusat pada pembangunan manusia seutuhnya. Selama beberapa dekade, berbagai kebijakan pendidikan cenderung berfokus pada aspek kurikulum, sarana, teknologi, dan pengukuran capaian akademik. Kedua konsep tersebut mengingatkan bahwa fondasi utama kemajuan pendidikan sesungguhnya terletak pada pembangunan karakter, budaya belajar, integritas, kepemimpinan, dan kesadaran kebangsaan peserta didik. Pengalaman Ma’had Al Zaytun menunjukkan bahwa pembentukan karakter dapat dilakukan secara sistematis melalui kehidupan berasrama, pembiasaan disiplin, budaya kebersihan, penghargaan terhadap waktu, serta keterlibatan peserta didik dalam berbagai kegiatan sosial dan kepemimpinan. Praktik-praktik tersebut memberikan contoh bahwa pendidikan karakter akan lebih efektif apabila dibangun melalui budaya institusi yang hidup dan bukan sekadar melalui mata pelajaran tersendiri. 


Peluang berikutnya adalah terciptanya percepatan pemerataan kualitas pendidikan nasional. Melalui pengembangan model Pendidikan Berasrama Terintegrasi (PBT) di berbagai wilayah Indonesia, peserta didik dari latar belakang sosial, ekonomi, budaya, dan geografis yang beragam dapat memperoleh akses terhadap lingkungan pendidikan yang relatif setara. Dalam jangka panjang, model ini berpotensi memperkuat integrasi nasional, mengurangi kesenjangan kualitas sumber daya manusia antarwilayah, serta melahirkan generasi muda yang memiliki identitas kebangsaan yang kuat sekaligus mampu berkompetisi pada tingkat global. Salah satu praktik baik yang dapat dipelajari dari Al Zaytun adalah kehidupan pendidikan yang mempertemukan peserta didik dari berbagai daerah Indonesia dalam satu lingkungan belajar bersama. Interaksi tersebut menciptakan ruang pembelajaran lintas budaya yang membantu santri memahami keberagaman sekaligus memperkuat semangat persatuan dan kebangsaan. 


Konsep Novum Gradum membuka peluang bagi lahirnya inovasi pendidikan yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Perkembangan kecerdasan buatan, digitalisasi, ekonomi hijau, transformasi industri, dan globalisasi menuntut sistem pendidikan yang mampu bergerak lebih cepat dibandingkan perubahan yang terjadi di masyarakat. Pendekatan ini mendorong sekolah dan lembaga pendidikan untuk tidak hanya mempertahankan praktik-praktik lama, tetapi juga berani melakukan pembaruan kurikulum, metode pembelajaran, tata kelola, serta pemanfaatan teknologi pendidikan secara kreatif dan bertanggung jawab. Dalam konteks ini, Ma’had Al Zaytun memberikan contoh praktik baik melalui upaya mengintegrasikan pendidikan agama, pendidikan umum, penguasaan bahasa asing, kewirausahaan, literasi digital, dan wawasan global ke dalam satu sistem pendidikan yang terpadu. Model integratif semacam ini menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan dalam pengembangan pendidikan masa depan. 


Implementasi kedua konsep tersebut secara nasional juga menghadapi sejumlah tantangan yang t idak ringan. Tantangan pertama adalah masih kuatnya budaya birokratis, rutinitas administratif, dan orientasi jangka pendek dalam sebagian praktik pengelolaan pendidikan. Remontada from Within menuntut perubahan pola pikir, budaya kerja, dan komitmen seluruh pemangku kepentingan pendidikan, mulai dari pemerintah, kepala sekolah, guru, orang tua, hingga peserta didik. Pengalaman ma’had Al Zaytun memperlihatkan bahwa membangun budaya disiplin, budaya mutu, dan budaya kerja kolektif memerlukan proses yang panjang, konsisten, dan berkesinambungan. Tidak semua lembaga pendidikan memiliki kesiapan sumber daya manusia maupun kepemimpinan yang mampu menggerakkan perubahan budaya secara menyeluruh seperti yang dilakukan dalam lingkungan pendidikan berasrama. 


Tantangan berikutnya berkaitan dengan kesiapan sumber daya, kapasitas kelembagaan, dan keberlanjutan kebijakan. Pengembangan pendidikan yang mengintegrasikan karakter, akademik, kepemimpinan, teknologi, dan keterampilan hidup memerlukan guru yang kompeten, kepemimpinan yang visioner, dukungan pendanaan yang memadai, serta sinergi antarlembaga. Pengalaman ma’had Al Zaytun menunjukkan bahwa keberhasilan membangun ekosistem pendidikan terpadu ditopang oleh kesinambungan visi kelembagaan, pengembangan infrastruktur pendidikan yang terencana, serta pembentukan kultur organisasi yang relatif kuat. Tantangan bagi implementasi nasional adalah bagaimana praktik-praktik baik tersebut dapat direplikasi secara kontekstual sesuai kondisi daerah tanpa kehilangan esensi dasarnya. Apabila mampu diterjemahkan ke dalam kebijakan yang sistematis dan berkelanjutan, Remontada from Within dan Novum Gradum berpotensi menjadi fondasi lahirnya paradigma baru pendidikan Indonesia yang berkarakter, inovatif, inklusif, dan berdaya saing global. 


Penulis : Dinn Wahyudin

Guru Besar (em) Universitas Pendidikan Indonesia dan Warek1 Ikopin University. Salah seorang Guru Besar yang menandatangani Grand Desain Pendidikan Nasional Berasrama Terintegrasi Poros Human Capital Menuju Indonesia Jaya Abadi, 1 Juni 2026. 


Bahan Pustaka 
- Dewey, J. (1938). Experience and Education. New York: Macmillan.  
- Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum Publishing.  
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2022). Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 5 Tahun 2022 tentang Standar Kompetensi Lulusan pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Jakarta: Kemendikbudristek.  
- Gumilang, Panji (2008). Pesantren Rahmatan Lil 'Alamin: Pendidikan Berbasis Budaya Damai dan Toleransi. Indramayu: Yayasan Pesantren Indonesia.  
- Gumilang, Panji. (2022). Remontada from Within dan Novum Gradum: Gagasan Pembaruan Pendidikan dan Peradaban. Indramayu: Ma'had Al Zaytun.  
- Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.  
- Republik Indonesia. (2025). Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko dan Tata Kelola Pendidikan. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.  
- Senge, P. M. (2006). The Fifth Discipline: The Art and Practice of the Learning Organization (Revised Edition). New York: Doubleday.