Jurnalkitaplus Kota Sukabumi : Selasa 30/6/2026. Isu tahunan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) kembali menyisakan duka mendalam bagi ratusan keluarga di Kota Sukabumi. Gelombang pengumuman hasil seleksi masuk SMP Negeri tahun ini disambut dengan tangis kecewa dari para siswa dan raut wajah pias dari orang tua yang mendapati nama anak-anak mereka tersisih dari sistem.
Suasana haru sempat terlihat di beberapa sudut Sekolah. Banyak anak yang mengurung diri di kamar karena syok dan sedih melihat impian mereka bersekolah di SMP Negeri pilihannya harus kandas.
"Anak saya menangis seharian, bahkan sampai tidak mau makan. Dia sudah belajar keras dan berharap sekali bisa masuk sekolah negeri dekat rumah, tapi ternyata namanya tergeser di hari terakhir," ujar Neneng (40), salah satu orang tua murid di Kecamatan Citamiang dengan mata berkaca-kaca.
Apa Penyebab Utama Gugurnya Ratusan Calon Siswa?
Berdasarkan hasil evaluasi dan keluhan para orang tua di lapangan, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan tingginya angka siswa yang tidak lolos ke SMP Negeri di Kota Sukabumi:
1. Ketatnya Persaingan Jalur Zonasi (Kuota Terbatas)
Jalur zonasi tetap menjadi momok terbesar. Jarak rumah yang hanya terpaut beberapa ratus meter dari sekolah kerap kali kalah bersaing dengan pendaftar lain yang memiliki domisili jauh lebih dekat. Banyak orang tua yang tidak menyangka bahwa batas jarak aman (cut-off) zonasi tahun ini menjadi jauh lebih pendek dibanding tahun-tahun sebelumnya.
2. Ketimpangan Daya Tampung Sekolah vs Jumlah Lulusan SD
Jumlah lulusan Sekolah Dasar (SD) di Kota Sukabumi setiap tahunnya jauh melampaui total daya tampung (kuota) bangku yang tersedia di seluruh SMP Negeri yang ada. Ketidakseimbangan ini secara otomatis mendepak ribuan calon siswa ke luar sistem sekolah negeri.
3. Akumulasi Nilai Prestasi yang Sangat Tinggi
Bagi siswa yang mencoba peruntungan lewat jalur prestasi (akademik maupun non-akademik), standar nilai minimal tahun ini melonjak drastis. Akibatnya, siswa dengan nilai yang sebenarnya sudah cukup baik pun tetap kalah bersaing dengan ketatnya nilai dari para kompetitor.
Dilema Sekolah Swasta: Terbentur Biaya
Kesedihan para orang tua tidak hanya karena anaknya gagal masuk sekolah negeri, melainkan juga karena kebingungan finansial yang menghadang di depan mata. Mengalihkan anak ke SMP Swasta menjadi satu-satunya pilihan agar anak tidak putus sekolah, namun biayanya dinilai terlalu berat bagi sebagian kalangan.
Uang Pangkal yang Tinggi: Sekolah swasta membutuhkan biaya gedung dan pendaftaran awal yang tidak sedikit.
Biaya Bulanan (SPP): Berbeda dengan sekolah negeri yang gratis, sekolah swasta menuntut biaya operasional bulanan yang cukup menguras kantong pekerja dengan penghasilan pas-pasan.
"Kalau mau ke swasta, uang pangkalnya dari mana? Suami saya hanya buruh harian. Kami sangat berharap ada kebijakan atau solusi dari Dinas Pendidikan untuk anak-anak kami yang tidak tertampung ini," keluh Rani (45), warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat dan para orang tua di Kota Sukabumi sangat berharap pemerintah daerah dapat segera mengevaluasi sistem SPMB, menambah kuota rombongan belajar (rombel), atau memberikan subsidi bantuan bagi siswa kurang mampu yang terpaksa masuk ke sekolah swasta agar tidak ada anak yang putus sekolah. ( NS-15)

