Jurnalkitaplus – Pemerintah memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 melebar menjadi Rp734,3 triliun atau setara 2,85 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Meski lebih tinggi dibandingkan target awal APBN sebesar Rp689,15 triliun atau 2,68 persen PDB, angka tersebut masih berada di bawah batas maksimal 3 persen sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara.
Proyeksi tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat Badan Anggaran DPR mengenai Laporan Pelaksanaan APBN Semester I-2026 dan Prognosis Semester II-2026. Pemerintah juga memperkirakan realisasi belanja negara hingga akhir tahun mencapai Rp3.942,4 triliun atau 102,6 persen dari pagu APBN sebesar Rp3.842,7 triliun. Angka itu meningkat sekitar 14,8 persen dibandingkan realisasi belanja tahun 2025.
Belanja pemerintah pusat diperkirakan mencapai Rp3.245,5 triliun atau 103 persen dari pagu yang telah ditetapkan. Sementara itu, transfer ke daerah diproyeksikan terealisasi sebesar Rp696,9 triliun atau 100,6 persen dari target. Kenaikan belanja tersebut diarahkan untuk menjaga keberlanjutan program prioritas pemerintah, mempertahankan daya beli masyarakat, mengendalikan harga pangan, mendukung pemerintahan daerah, hingga membiayai penanganan bencana dan tambahan dana otonomi khusus.
Di sisi pendapatan, pemerintah justru memperkirakan penerimaan negara mampu melampaui target APBN. Hingga akhir 2026, pendapatan negara diproyeksikan mencapai Rp3.208,1 triliun atau 101,7 persen dari target. Rinciannya terdiri atas penerimaan perpajakan sebesar Rp2.631,4 triliun dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp575,1 triliun.
Selain memaparkan outlook fiskal, pemerintah juga menyiapkan sejumlah penyesuaian dalam aturan pengelolaan anggaran yang memberikan ruang lebih besar bagi kementerian dan lembaga untuk menggunakan serta mengalihkan alokasi belanja sesuai kebutuhan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan fleksibilitas pelaksanaan program pemerintah di tengah berbagai tantangan ekonomi dan kebutuhan pembiayaan yang terus berkembang.
Meski defisit diproyeksikan meningkat, pemerintah optimistis ruang fiskal masih dapat dijaga. Purbaya menyatakan kondisi APBN berpotensi membaik apabila harga minyak dunia menurun, penerimaan perpajakan dan kepabeanan meningkat, serta pertumbuhan ekonomi berjalan sesuai perkiraan. Dengan demikian, pemerintah masih memiliki peluang untuk menekan defisit hingga berada di bawah proyeksi saat ini. | fg12

