Dilema Kemasan E-commerce: Gunungan Sampah di Balik Euforia "Checkout" -->

Header Menu

Dilema Kemasan E-commerce: Gunungan Sampah di Balik Euforia "Checkout"

Jurnalkitaplus
24/07/26



Jurnalkitaplus - Lonjakan aktivitas belanja daring di Indonesia kini membawa konsekuensi lingkungan yang serius dengan menghasilkan limbah kemasan hingga 4,8 kali lebih banyak dibandingkan belanja konvensional untuk jumlah pengeluaran yang sama. 

Berdasarkan data tahun 2025, sekitar 62 persen masyarakat Indonesia berbelanja daring dua hingga tiga kali setiap bulan, yang memicu penumpukan sampah masif karena sekitar 96 persen paket e-commerce masih menggunakan plastik, bubble wrap, dan selotip sebagai bahan utama pengemasan. 

Krisis ini menempatkan Indonesia dalam posisi mengkhawatirkan sebagai penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia pada tahun 2019 dengan total limbah plastik mencapai 64 juta ton setiap tahunnya. 

Skala permasalahan ini terlihat jelas dari volume pengiriman harian perusahaan logistik besar di Indonesia, di mana J&T mampu mengirimkan sekitar 2 juta paket, disusul JNE dengan 1,6 juta paket, dan SiCepat sebanyak 1 juta paket per hari.

Selain tumpukan sampah fisik, industri e-commerce global juga menyumbang jejak karbon yang signifikan dengan emisi CO2 yang diperkirakan 30 persen lebih tinggi per produk dibandingkan pembelian di toko tradisional. 

Masalah lingkungan ini diperparah oleh selera konsumen akan kenyamanan pengiriman instan atau satu hari sampai yang seringkali membutuhkan transportasi udara yang jauh lebih intensif emisi dibandingkan transportasi darat. 

Pada tahun 2030, jumlah kendaraan pengantar barang diprediksi akan meningkat sebesar 36 persen mencapai sekitar 7,2 juta kendaraan yang berpotensi menambah beban sekitar 6 juta ton emisi karbon ke atmosfer. 

Di sisi lain, infrastruktur digital seperti pusat data yang memproses jutaan transaksi e-commerce juga menyumbang sekitar 2 hingga 4 persen emisi gas rumah kaca global, setara dengan seluruh sektor penerbangan dunia.

Upaya transisi menuju kemasan ramah lingkungan di Indonesia saat ini masih menghadapi kendala ekonomi yang besar, terutama bagi pelaku UMKM yang margin keuntungannya sudah tergerus biaya admin platform hingga 23-24 persen. 

Harga kemasan hijau yang jauh lebih mahal memaksa banyak pelaku usaha kecil tetap bertahan menggunakan plastik demi menekan biaya produksi agar tetap kompetitif di mata konsumen yang sensitif terhadap harga. 

Meskipun demikian, beberapa inisiatif mulai muncul seperti konsep Rantai Pasok Tertutup atau Closed Loop Supply Chain (CLSC) yang mengusulkan sistem logistik untuk mengembalikan kemasan kepada produsen agar dapat diproses kembali atau digunakan lagi.

Di tingkat global, tekanan regulasi internasional mulai mendorong perubahan nyata seperti Uni Eropa yang telah menetapkan aturan ambisius untuk mewajibkan 100 persen kemasan dapat didaur ulang pada tahun 2030. 

Perusahaan raksasa e-commerce seperti Amazon mengklaim telah mengurangi penggunaan plastik globalnya sebesar 11,6 persen pada tahun 2022, sementara Walmart berkomitmen untuk menghapus pengiriman menggunakan kantong plastik di berbagai pasar mereka. 

Pada akhirnya, keberlanjutan sektor e-commerce hanya dapat dicapai melalui kolaborasi erat antara pemerintah melalui regulasi yang ketat, inovasi teknologi dari pelaku usaha, serta peningkatan kesadaran konsumen dalam memilih praktik belanja yang lebih bertanggung jawab terhadap kelestarian bumi. | FG12 

Sumber :

Suara.com: Di Balik Ledakan Belanja Online, Mengapa Transisi Kemasan Ramah Lingkungan Masih Berliku?

Asosiasi Riset Ilmu Manajemen dan Bisnis Indonesia: E-Commerce dan Kelestarian Lingkungan: Analisis Dampak dan Upaya Berkelanjutan

BandungBergerak: MAHASISWA BERSUARA: Inisiatif Pengurangan Sampah di Industri Logistik dengan Rantai Pasok Tertutup

Oceana: The e-commerce giant's plastic packaging problem persists in the US, its largest and home market