Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa -->

Header Menu

Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Jurnalkitaplus
11/07/26



Tanggal 13 Juli kini resmi ditetapkan sebagai Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Bagi sebagian orang, kabar ini mungkin hanya lewat di beranda. Tapi bagi banyak penghayat kepercayaan, ini adalah pengakuan yang diperjuangkan puluhan tahun bahwa mereka juga warga negara, juga punya martabat, dan juga berhak hidup tanpa dipandang sebagai “warga kelas dua.” 


Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 135 Tahun 2026, ditandatangani pada 30 Juni 2026 dan diserahkan secara simbolis pada 6 Juli 2026 kepada Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI). 


Kenapa dipilih tanggal 13 Juli?


Tanggal itu merujuk pada momentum sejarah tahun 1945, ketika Mr. Wongsonegoro mengusulkan frasa “dan Kepercayaannya” dalam pembahasan dasar negara oleh BPUPKI dan PPKI.


Frasa itu penting karena memperlihatkan bahwa sejak masa awal perumusan Indonesia, keberadaan orang-orang yang berkepercayaan kepada Tuhan YME sudah masuk dalam cakrawala kebangsaan bukan sesuatu yang baru muncul belakangan. Jadi 13 Juli bukan hari untuk mengangkat satu kelompok di atas kelompok lain. Ia adalah pengingat bahwa Indonesia sejak awal dibangun dari banyak jalan, banyak bahasa, banyak adat, dan banyak cara manusia memuliakan Yang Maha Kuasa. 


Siapa yang menggagas hari ini?


Usulan penetapan Hari Kepercayaan telah dibahas sejak 2005. Pengusul utamanya adalah Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI), organisasi payung bagi banyak komunitas penghayat di Indonesia.


Ketua Presidium MLKI Pusat, Naen Suryono, menerima SK penetapan tersebut dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan kemudian memproses dan menetapkannya sebagai bagian dari agenda pengakuan, penghormatan, pelindungan, dan pemajuan kebudayaan. Jadi ini bukan hadiah yang tiba tiba turun dari langit. Ini hasil dari suara yang lama meminta didengar. 


Kenapa Negara Menyetujui?


Alasannya bukan untuk menciptakan agama baru. Bukan juga untuk mengganti agama yang sudah ada. Penetapan ini adalah bentuk pengakuan bahwa para penghayat kepercayaan merupakan bagian sah dari bangsa Indonesia dan memiliki hak setara sebagai warga negara. Kementerian Kebudayaan menyebutnya sebagai upaya memperkuat penghormatan terhadap keberagaman, pelindungan kebudayaan, serta persatuan nasional. 


Kita perlu ingat: banyak laku kepercayaan Nusantara telah hidup jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara modern. Ada yang diwariskan lewat adat, ada yang lewat tutur, ada yang lewat laku batin, dan ada yang bertahan di tengah tekanan sosial yang panjang.


Hari ini bukan berarti semua orang wajib mengikuti laku tersebut. Tapi semua orang perlu belajar menghormati hak orang lain untuk hidup dengan keyakinannya, selama tidak melukai dan merampas hak sesama. Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan YME bukan hari libur nasional. Ini adalah hari peringatan yang ditetapkan oleh Menteri Kebudayaan. Status sebagai hari libur nasional belum diputuskan. Ada pembahasan bahwa bila suatu saat dipertimbangkan, bentuknya bisa berupa libur fakultatif, tapi itu belum menjadi keputusan resmi. 


Jadi tgl 13 Juli nanti, kantor, sekolah, pasar, dan grup WA kerjaan kemungkinan besar tetap berjalan seperti biasa he he.... Tapi semoga ada satu hal yang ikut bergerak: cara kita memandang sesama warga Indonesia.


Pengakuan terhadap penghayat bukan cerita yang selesai dalam satu surat keputusan. Ada perjalanan panjang soal administrasi kependudukan, pendidikan, perkawinan, pemakaman, hingga stigma sosial. Banyak penghayat pernah mengalami kesulitan karena keyakinannya tidak mudah masuk ke kotak-kotak administrasi yang tersedia.


Salah satu tonggak penting terjadi pada 2017, ketika Mahkamah Konstitusi memutus bahwa penghayat kepercayaan dapat dicantumkan dalam kolom identitas sebagai “Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.” Putusan itu membuka jalan bagi pengakuan administratif yang lebih setara. 


Maka penetapan 13 Juli bukan akhir perjuangan. Ia lebih seperti tanda di jalan: negara mulai mengingat bahwa keberagaman bukan masalah yang harus diseragamkan, tapi kenyataan yang harus dijaga. 


Apa Makna Hari Ini Gai Kita Semua


Bagi penghayat, ini adalah pengakuan.

Bagi masyarakat luas, ini adalah undangan untuk belajar. Bukan belajar agar semua orang harus setuju. Bukan pula agar semua orang harus pindah keyakinan. Tapi belajar membedakan antara berbeda dan bermusuhan. Indonesia tidak akan runtuh hanya karena kita mengakui bahwa jalan spiritual manusia beragam. Justru bangsa ini rapuh kalau setiap perbedaan selalu dianggap ancaman. 


Mungkin inilah makna terdalam dari 13 Juli: Bukan tentang siapa yang paling benar menyebut Tuhan. Tapi tentang apakah kita cukup dewasa untuk tetap memanusiakan orang lain, bahkan ketika jalan hidupnya tidak sama dengan jalan kita. (JKP, AR-011)