Jurnalkitaplus – Piala Dunia 2026 tak hanya menghadirkan persaingan sengit di lapangan hijau, tetapi juga menegaskan posisi turnamen sepak bola terbesar dunia itu sebagai mesin ekonomi global bernilai miliaran dolar. Di balik euforia kemenangan Spanyol atas Argentina di partai final, Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) justru muncul sebagai pihak yang meraih keuntungan terbesar dari penyelenggaraan ajang empat tahunan tersebut.
Spanyol yang sukses mengalahkan Argentina 1-0 pada laga final berhak membawa pulang hadiah sebesar 51 juta dollar AS. Sementara Argentina sebagai runner-up menerima 34 juta dollar AS. Secara keseluruhan, FIFA menggelontorkan hadiah mencapai 871 juta dollar AS kepada seluruh peserta turnamen.
Namun, nilai hadiah tersebut hanya sebagian kecil dari total perputaran uang yang terjadi selama Piala Dunia berlangsung. Berdasarkan laporan yang dikutip BBC, ekonom senior Deutsche Bank Research sekaligus pengajar Harvard University, Marion Laboure, memperkirakan pendapatan FIFA dari Piala Dunia 2026 mendekati 13 miliar dollar AS atau sekitar Rp270 triliun.
Angka itu melonjak tajam dibandingkan pendapatan FIFA pada Piala Dunia Qatar 2022 yang mencapai 7,6 miliar dollar AS. Dengan lonjakan tersebut, FIFA menjadi pihak yang paling diuntungkan secara finansial dari penyelenggaraan turnamen.
Pendapatan FIFA berasal dari berbagai sumber, mulai dari penjualan hak siar televisi, kontrak sponsor global, lisensi produk resmi, layanan perhotelan, hingga penjualan tiket pertandingan. Format baru Piala Dunia yang melibatkan 48 negara turut menjadi faktor utama meningkatnya pendapatan karena menghadirkan lebih banyak pertandingan dan memperluas jangkauan pasar.
Bertambahnya jumlah laga menciptakan lebih banyak slot siaran, ruang iklan, dan eksposur merek bagi sponsor. Situasi ini membuat nilai komersial Piala Dunia terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penonton dan keterlibatan pasar global.
Piala Dunia: Dari Turnamen Olahraga Menjadi Industri Global
Piala Dunia modern kini telah berkembang jauh melampaui sekadar kompetisi olahraga. Turnamen ini menjadi industri hiburan global yang melibatkan perusahaan media, sponsor multinasional, operator perhotelan, maskapai penerbangan, hingga pelaku usaha kecil di negara tuan rumah.
Bagi FIFA, model bisnis tersebut terbukti sangat menguntungkan. Organisasi yang mengatur sepak bola dunia itu tidak menanggung biaya pembangunan stadion maupun infrastruktur utama yang umumnya menjadi tanggung jawab negara penyelenggara. Sebaliknya, FIFA memperoleh sebagian besar keuntungan dari hak komersial yang terus meningkat nilainya dari satu edisi ke edisi berikutnya.
Ekspansi peserta dari 32 menjadi 48 negara juga memperluas basis pasar. Lebih banyak negara berarti lebih banyak penggemar yang terlibat, lebih banyak penyiar yang membeli hak siar, serta lebih banyak perusahaan yang bersedia membayar mahal untuk menjadi sponsor resmi.
Lonjakan Komersialisasi Sepak Bola
Fenomena ini menunjukkan bahwa sepak bola telah menjadi salah satu industri hiburan paling menguntungkan di dunia. Nilai ekonomi turnamen tidak lagi hanya diukur dari prestasi olahraga, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan pendapatan melalui konten digital, siaran televisi, pemasaran global, dan aktivasi merek.
Di sisi lain, besarnya keuntungan FIFA juga memunculkan perdebatan mengenai distribusi manfaat ekonomi. Sejumlah pengamat menilai negara tuan rumah dan federasi anggota seharusnya memperoleh porsi manfaat yang lebih besar mengingat investasi infrastruktur dan biaya operasional yang mereka keluarkan selama turnamen berlangsung.
Meski demikian, satu hal yang sulit dibantah adalah bahwa Piala Dunia 2026 kembali membuktikan sepak bola sebagai bisnis raksasa lintas negara. Saat para pemain dan tim nasional bersaing memperebutkan trofi, di belakang layar FIFA berhasil mengukuhkan diri sebagai pemenang terbesar dalam industri olahraga paling populer di planet ini. | FG12

