Guru Besar UPI: Bangsa Besar Tidak Dilahirkan Oleh Angka Tetapi Oleh Kualitas Manusia -->

Header Menu

Guru Besar UPI: Bangsa Besar Tidak Dilahirkan Oleh Angka Tetapi Oleh Kualitas Manusia

Jurnalkitaplus
04/01/26


Jurnalkitaplus.com - Pesantren telah lama menjaga ilmu di kala negara berbenah menjadi mapan. Asumsi ini didasari penilaian bahwa pesantren yang menjaga akhlak ketika kekuasaan silih berganti, menjaga manusia ketika sistem sering lupa pada nilai. 


Lembaga pendidikan berasrama atau pesantren menjadi fondasi peradaban, bahkan ketika pembangunan yang ada belum merata. Dalam Pelatihan Pelaku Didik yang digelar pada Ahad (4/1/2026) Jajang W. Mahri, Guru Besar Ilmu Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Pendidikan Indonesia, mengungkapkan kekagumannya pada ekosistem pendidikan berasrama yang tumbuh di pelosok. 


Jajang membandingkan luas kampus dan dukungan negara Malaysia dengan dukungan negara Indonesia ke kampusnya. 


Luas pondok pesantren Al-Zaytun, Indramayu, yang mendekati 2000 hektar, yang melampaui kampus besar di Malaysia seperti Universitas Teknologi Malaysia (UTM) di Johor Bahru yang mencapai 1100 hektar. Di UTM, 80% mahasiswa mendapat beasiswa negara, sementara 20 persen lainnya difasilitasi pinjaman bank milik negara yang baru dibayar setelah bekerja. 


Dukungan ini mendorong peningkatan kualitas pelajar dan percepatan kemajuan Malaysia, meski pada sejarahnya Indonesia lebih dahulu merdeka.  


Guru Besar UPI tersebut lantas menegaskan pentingnya keberpihakan nyata negara kepada anak bangsa. 


Melalui siaran langsung yang diunggah LognewsTV, disebut bahwa pendidikan bukan sekadar urusan sosial, melainkan kebijakan ekonomi paling fundamental. Investasi terbesar bangsa sesungguhnya adalah manusia. Bukan karena Indonesia kekurangan anak cerdas, tetapi karena ketimpangan lingkungan belajar. 

Prof. Dr. H.A Jajang W. Mahri, M.Si. (LognewsTV)


Realitas itu tampak pada paradoks kemiskinan nasional. Lebih dari 24 juta penduduk hidup dalam kemiskinan ekstrem, dengan pengeluaran Rp600.000 per bulan berdasarkan standar nasional atau 3,65 dolar per hari, menurut standar internasional. 


Jika menggunakan standar Bank Dunia, tingkat kemiskinan mencapai 19,9% dan melonjak menjadi 68,3% bila memakai standar pengeluaran 6,85 dolar per hari. 


Kemiskinan yang dihadapi bukan hanya soal jumlah, tetapi kedalaman dan ketahanannya.  


Masalah ini diperparah oleh pengangguran terdidik. Sebanyak 7,28 juta lulusan pendidikan formal menganggur, dan jumlahnya melampaui 10 juta jika termasuk setengah menganggur dan pengangguran terselubung. 


Akar persoalannya bukan semata infrastruktur atau industri, melainkan ketimpangan kesempatan pendidikan sejak usia sekolah. 


Pendidikan belum sepenuhnya melahirkan karakter, disiplin, daya juang, dan kompetensi.  


Riset ekonomi pembangunan sejak 1990-an menunjukkan pendidikan meningkatkan produktivitas, dan produktivitas adalah mesin utama pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita. 


Temuan mutakhir menegaskan bahwa bukan lama sekolah, melainkan kualitas pembelajaran literasi, numerasi, dan sains yang menentukan kemajuan ekonomi sebagaimana dikemukakan Hanushek, Woessmann serta Bank Dunia. 


Negara yang hanya memperluas akses tanpa mutu akan melahirkan pertumbuhan rapuh dan ketimpangan wilayah yang kian melebar.  


Konteks ini mengantarkan kepada pesantren dan sekolah berasrama yang tampil sebagai model ekosistem pendidikan yang utuh. Bukan hanya mencetak lulusan, tetapi membangun manusia seutuhnya, dunia dan akhirat. 


Sebuah pengingat bahwa bangsa besar tidak dilahirkan oleh pertumbuhan angka semata, melainkan oleh kualitas manusia yang dirawat dengan kesungguhan. (ALR-26)