Lima Hal Ini Sebabkan Pahala Berpindah Ke Orang Lain -->

Header Menu

Lima Hal Ini Sebabkan Pahala Berpindah Ke Orang Lain

Jurnalkitaplus
03/01/26


Jurnalkitaplus.com - Kebangkrutan tidak selalu berkaitan dengan harta. Dalam tausiyah di istighosah bersama Reksa Mahardhika Utama, Sabtu (3/1/2026) Ustadz Hasan Maftuh, S.Pd mengajak jamaah mensyukuri nikmat iman yang hingga hari ini masih Allah titipkan, berupa kekuatan hati, kejernihan niat, dan kesempatan untuk terus merawat nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan.  


Rasulullah SAW pernah memberikan peringatan tentang sosok yang disebut sebagai orang yang muflis. Peringatan ini diriwayatkan secara sahih dari Abu Hurairah RA dan tercantum dalam Shahih Muslim nomor 2581 dalam Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab


Orang yang muflis bukanlah mereka yang meninggalkan ibadah, melainkan seseorang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat yang lengkap. Namun bersamaan dengan itu, hadir pula orang orang yang pernah ia sakiti. Ada yang terluka oleh lisannya, ada yang hartanya diambil tanpa hak, ada yang dirugikan oleh utang yang tak pernah dikembalikan, bahkan ada yang kehidupannya dirusak melalui kekerasan, baik secara fisik maupun karakter. 


Satu per satu pahala ibadahnya kemudian diberikan kepada mereka yang pernah dizalimi. 


Ketika pahala itu habis, sementara kezaliman belum tertutupi, dosa dosa justru dilimpahkan kepadanya. Di situlah kebangkrutan itu benar benar terjadi.  


Pesan ini mengingatkan bahwa ibadah ritual tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berjalan beriringan dengan akhlak sosial. Ustadz Hasan menegaskan bahwa kelalaian menjaga lisan dan sikap terhadap sesama dapat merusak amal yang selama ini dirawat dengan susah payah. 


Karena itu, setiap individu dituntut lebih cermat dalam bertutur dan bertindak, terlebih dalam kehidupan bersama dan kerja kolektif di dalam organisasi.  


Ketakwaan bukan sekadar kesungguhan dalam ibadah pribadi, melainkan juga kesediaan menjaga perasaan, hak, dan martabat orang lain. Doa dan teladan Rasulullah SAW sejatinya mengarahkan manusia pada langkah hidup yang lebih tenang, lebih adil, dan tidak menyisakan luka.  


Tatkala seseorang terus berusaha bertakwa, Allah menjaganya dari kebangkrutan yang tidak disadari. Ia dijauhkan dari perbuatan yang merusak amal, sekaligus dituntun untuk menata hubungan dengan sesama sebagai bagian dari ibadah itu sendiri. (ALR-26)