Pendidikan Berasrama Jawab Ketimpangan dalam Negeri, Ini Penjelasan Guru Besar UPI -->

Header Menu

Pendidikan Berasrama Jawab Ketimpangan dalam Negeri, Ini Penjelasan Guru Besar UPI

Jurnalkitaplus
04/01/26



Jurnalkitaplus.com - Pendidikan bermutu di mana pun selalu mahal. Di sinilah negara hadir, tidak sekadar fokus kepada akses tetapi juga membangun ekosistem yang manusiawi. 


Guru Besar Ilmu Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Pendidikan Indonesia, Jajang W. Mahri, dalam Pelatihan Pelaku Didik yang dirilis LognewsTV, Ahad (4/1/2026) memaparkan bahwa sekolah berasrama, jika dikelola dengan baik akan mampu membina karakter, menumbuhkan kesetaraan, dan melahirkan manusia unggul tanpa memusatkan kualitas di satu titik wilayah.  


Prof. Dr. A. Jajang W. Mahri, M.Si. (LognewsTV)


Jajang menyoroti kenyataan di banyak daerah di mana akses dasar pendidikan masih menjadi perjuangan. Di sejumlah tempat, bukan internet yang sulit, melainkan perjalanan ke sekolah yang harus bergantungan di tali dengan risiko nyawa. 


Persoalan finansial pun membuat keluarga dan pendidikan berjalan sendiri-sendiri. Orang tua sibuk bekerja bahkan merasa mengambil raport anak membuang waktu. 


Kehadiran wali santri bersama para santri yang hadir dalam pelatihan di Masjid Rahmatan Ll Alamin, Pondok Pesantren Al-Zaytun, Indramayu bagi Jajang menjadi praktik baik bahwa pendidikan dengan ekosistem asrama itu urusan bersama.  


Ma'had atau pondok pesantren Al-Zaytun, yang pada periode 2023 menurut Kemenag Jawa Barat dihuni 5.014 santri menunjukkan bagaimana kemandirian dan perencanaan jangka panjang dapat menopang keberlanjutan peradaban. Pesantren ini memiliki simpanan beras hingga 20 tahun ke depan, susu hingga 18 bulan, serta layanan kesehatan yang bekerja sama dengan RS Boromeus. 


Sistem yang tertib dan disiplin memungkinkan ribuan santri makan siang dalam belasan menit, belajar tanpa harus membawa berat buku dari asrama karena telah ditata di kelas.  


Produktivitas yang lahir dari kualitas pembelajaran menjadi fondasi pembangunan. Tanpa mutu, ijazah hanya menjadi kertas, meski kurikulum terlihat sama. "Jangan jadikan anak berangkat sekolah tapi ilmu gaada yang nempel di kepala," terang Jajang. 


Gagasan pemerataan pendidikan berasrama kemudian dipertegas oleh pimpinan Al-Zaytun Abdussalam Panji Gumilang. Ia menekankan bahwa gagasan ini bukan semata untuk satu lembaga atau untuk Al-Zaytun, melainkan untuk Indonesia. 


Abdussalam Panji Gumilang, S.Sos., M.P. (LognewsTV)


Kesadaran kolektif menjadi kunci. Berangkat dari nilai yang telah disepakati bangsa yakni Pancasila sebagai dasar pendidikan yang universal.  


Panji mengemukakan gagasan 500 kampus berasrama seiring dengan jumlah kabupaten di Indonesia, dengan kebutuhan lahan sekitar 3000 hektar. 


Semua anak baik pintar atau bodoh tanpa terkecuali dimasukkan. Nama sekolah pun diusulkan sederhana dan bermakna, misalkan SIA atau Sekolah Indonesia Abadi, "Kita panggilnya nanti SIA wilayah A, SIA wilayah B."


Ia mengingatkan agar Indonesia tidak terus berkaca ke Jerman, Jepang, atau Amerika, tetapi belajar pada dirinya sendiri.  


Menurutnya, daripada penyebutan Garuda dari Burung Garuda belum tepat karena hewan tersebut memiliki masa hidup terbatas. "Kena sumpit bisa jatuh, mati. Tapi Indonesia tidak akan mati." ujarnya.


Pendidikan pun tumbuh di daerah strategis termasuk wilayah tertinggal, melalui kemitraan pesantren dan negara. Negara tidak perlu memulai dari nol, melainkan belajar memercayai ekosistem yang telah hidup dari pondok. 


Gotong royong dari level pemerintah terbawah hingga teratas menjadi penting adanya. Keberanian berinvestasi hari ini pun menurut Panji bekal realistis menuju Indonesia Emas. Sebuah transformasi yang bukan sekadar membangun sekolah, tetapi membangun peradaban manusia yang maju dan beradab. (ALR-26)