Menilik Pendidikan Berasrama Sebagai Pemerata Ekonomi Nasional -->

Header Menu

Menilik Pendidikan Berasrama Sebagai Pemerata Ekonomi Nasional

Jurnalkitaplus
29/12/25


Jurnalkitaplus - Guru Besar Bidang Manajemen dan Manajemen Bisnis, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Halu Oleo Kendari, Prof. Buyung Sarita, S.E., M.Si., Ph.D. berbagi pandangan mengenai pendidikan berasrama sebagai ruang penyetaraan kualitas pembelajaran di seluruh wilayah Indonesia, menjangkau daerah terdepan, terluar, dan tertinggal.

Gagasan pemerataan pendidikan mengemuka dalam Pelatihan Pelaku Didik ke 30 yang berlangsung di Masjid Rahmatan lil Alamin, Ma'had Al-Zaytun, Indramayu pada 28 Desember 2025. Disiarkan dalam kanal YouTube LognewsTV.

Prof Buyung menggambarkan bahwa pendidikan berasrama bisa mempertemukan peserta didik dalam pengalaman hidup yang sama. Selama 24 jam nilai disiplin, interaksi sosial, kebersihan, ibadah, dan pengendalian emosi tumbuh melalui pembiasaan sehari hari. 

Melalui ruang inilah karakter integritas, empati, kerjasama, dan ketangguhan memperkaya cara berpikir atas perjumpaan lintas suku, budaya, dan latar sosial. Apabila gagasan sentra pendidikan berasrama hadir di 500 kabupaten dan kota, dampaknya akan meluas ke luar ruang kelas. 

Aktivitas ekonomi daerah ikut bergerak, mulai dari UMKM, logistik, teknologi, pendidikan, hingga penciptaan lapangan kerja. Pendidikan berjalan seiring dengan denyut pertumbuhan daerah dan membuka mobilitas ekonomi lintas wilayah. 

Angka pertumbuhan 8-9% yang kerap diperdebatkan dinilai memiliki ruang untuk dicapai, ketika kualitas pendidikan diratakan melalui sentra pendidikan berasrama di 500 kabupaten dan kota. Bonus demografi hingga 2045 membuka peluang tersebut, ketika penduduk usia produktif dibekali pendidikan merata dan tumbuh sebagai productive human capital. 

Pengalaman Korea Selatan, Finlandia, dan China menunjukkan bagaimana pemerataan pendidikan beriringan dengan lonjakan ekonomi yang besar dan berkelanjutan. Data Human Capital Index Bank Dunia juga mencatat bahwa peningkatan kualitas pendidikan satu poin mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 1,4%. 

Ketika pendekatan ini diterapkan secara serentak dan dikelola dengan prinsip L-STEAM dampaknya bergerak berlipat dan saling menguatkan. Infrastruktur berkembang, konsumsi rumah tangga meningkat, UMKM bergerak, ekonomi digital tumbuh, dan industri kreatif menemukan ruangnya. 

Prof. Buyung Sarita, S.E., M.Si., Ph.D. (LognewsTV)

Pendidikan menjadi bagian dari ekosistem pembangunan yang hidup dan berkelanjutan. Pandangan tersebut sejalan dengan Islamicity Economic Index oleh Hossein Askary pada 2010 yang memperlihatkan keterkaitan antara pendidikan etika dan kesejahteraan ekonomi. Ketika nilai kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab tumbuh bersama pendidikan, institusi menjadi lebih dipercaya, pasar bergerak lebih efisien, dan iklim ekonomi menguat.

Pada kesempatan yang sama Pimpinan Pondok Pesantren Al-Zaytun Panji Gumilang menyampaikan pandangan mengenai pendidikan yang tersebar merata dengan ukuran, ruas, dan isi yang sama di seluruh daerah. Pendekatan L-STEAM yang mengintegrasikan hukum, sains, teknologi, rekayasa (engineering), seni, matematika, dan spiritualitas dipandang sebagai kerangka yang menyatukan kecerdasan keterampilan dan akhlak.

Berangkat dari ssentra pendidikan berasrama inilah tumbuh generasi yang lincah di ruang pengetahuan ekonomi dan etika. Karena hakikatnya pendidikan tidak berdiri sendiri tetapi menyatu dengan arah pembangunan manusia dan masa depan Indonesia. (ALR-26)