Seni Mengevaluasi Diri Sebelum Datangnya Kritik dari Orang Lain -->

Header Menu

Seni Mengevaluasi Diri Sebelum Datangnya Kritik dari Orang Lain

Jurnalkitaplus
26/01/26

 


وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ


Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah ayat 2)


Allah memerintahkan manusia untuk bertakwa karena di dalamnya terdapat ukuran dan kadar balasan yang adil dan tepat. Setiap amal memiliki ketentuan: kapan waktunya, berapa lama prosesnya, siapa pelakunya, dan bagaimana konsekuensinya.  


Deni Syarifudin dalam Istighosah bersama Reksa Mahardhika Utama, Ahad (25/1/2025) menjelaskan bahwa takwa bukan sekadar balas-membalas perbuatan, melainkan mensyukuri nikmat Allah berupa kelebihan akal, kecerdasan, dan kemampuan yang telah diberikan.   


Allah memberikan pelajaran melalui kisah Kaum ‘Ad. Mereka mampu membangun kota yang sangat megah dan kuat. Namun ketika mereka tidak bertakwa, Allah menurunkan azab berupa angin kencang selama tujuh malam delapan hari berturut-turut, hingga menghancurkan mereka. Begitu pula kisah bendungan yang akhirnya hancur karena hal kecil, digambarkan digerogoti tikus, tanpa disadari para penjaganya. Ini menunjukkan bahwa sebesar apa pun kekuatan manusia, tanpa takwa semuanya dapat runtuh.   


Allah mengingatkan hal ini dalam Surah Al-Māidah ayat 2, yang menegaskan agar manusia bertakwa kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Berat siksa-Nya. Ayat ini menjadi pengingat bahwa takwa adalah fondasi utama dalam setiap amal dan keputusan.  


Orang yang bertakwa adalah mereka yang bermuhasabah: melakukan evaluasi diri, pengendalian, sigap dalam membaca keadaan, cepat menangani masalah, serta segera melakukan perbaikan dan penyelamatan sebelum keadaan memburuk. Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati setiap manusia.   


Sebagai hamba-Nya, manusia juga agar mengetahui dan jujur terhadap kondisi dirinya sendiri. Dalam konteks organisasi atau lembaga, hal ini tercermin melalui transparansi. Di perusahaan, misalnya, diterbitkan laporan neraca keuangan untuk menunjukkan sehat atau tidaknya kondisi bank agar para penitip dana merasa tenang. Di yayasan, dibuat progress report yang menjelaskan berapa dana yang dihimpun dan disalurkan kepada penerima manfaat, sehingga para donatur mendapatkan gambaran yang jelas.   


Karena itu, pihak yang paling cepat dan utama dalam menangani masalah adalah diri sendiri, bukan menunggu kritik dari orang lain. Jangan pula mengikuti kebanyakan orang tanpa ilmu, karena hal itu dapat menyesatkan. Banyak manusia berjalan hanya berdasarkan prasangka dan perkiraan, bukan ilmu dan kebenaran.   


Orang-orang mukmin hendaknya bertakwa hanya kepada Allah. Setelah segala usaha dilakukan dengan perhitungan, evaluasi, dan kesungguhan, maka langkah berikutnya adalah bertawakal. Hasil akhir sepenuhnya dikembalikan kepada Allah. Dan ketika hasil itu datang, baik sesuai harapan maupun tidak, sikap yang harus ditampilkan oleh seorang hamba adalah ridha terhadap ketetapan Allah. (ALR-26)