Yamuti Tasikmalaya menjalankan peran kemanusiaan dengan jumlah relawan yang terbatas. Keterbatasan tersebut tidak menghalangi ikhtiar untuk tetap mandiri selama berada dalam koridor standar operasional. Pola pembinaan diterapkan secara beragam sesuai kondisi masing-masing relawan dengan satu kesepahaman, menjaga kesatuan umat dan menumbuhkan semangat fastabiqul khoirot.Refleksi pengabdian disampaikan oleh Ustadzah Irma Arlianti,AM.Pd, salah satu relawan Yamuti Tasikmalaya.
Ia menegaskan bahwa menjadi relawan merupakan pilihan sadar untuk memadukan empati dan profesionalitas.Empati tidak berhenti sebagai wacana, melainkan harus hadir sebagai dampak nyata bagi mereka yang berada dalam kondisi paling rentan.Fase pengabdian relawan dimaknai sebagai fase meneladani sosok Uwais al-Qarni.
Figur sederhana yang tidak dipandang manusia, tetapi dimuliakan Allah karena ketaatan dan baktinya kepada orang tua. Keteladanan tersebut terasa dekat dengan keseharian relawan yang masih harus berjalan kaki berkilo-kilo meter, menghadapi hujan dan panas, dalam keterbatasan yang ada.Keteladanan tersebut kerap diuji oleh pandangan sekitar.
Langkah Pengabdian relawan tidak jarang disertai cibiran dan nada sinis yang mereduksi pengabdian menjadi persoalan materi. "Ga' liat hujan ga' liat panas kenapa segitunya ibu digaji berapa sih,?" menjadi kalimat yang acap terdengar ketika relawan memilih tetap berjalan meski tubuh lelah dan kondisi tidak bersahabat.
Ucapan tersebut tidak diposisikan sebagai keluhan, melainkan sebagai bagian dari ujian keikhlasan. Jalan yang dipilih relawan seringkali tampak ganjil di mata dunia, sebagaimana Uwais yang ditertawakan ketika menggembalakan ternak dan memikul beban berat. Kesetiaan pada niat dan ketaatan kepada Allah justru menjadi sumber kekuatan batin untuk terus melangkah tanpa tergantung pada pengakuan dan imbalan yang tampak.Keterbatasan yayasan dipahami sebagai bagian dari proses memakmurkan bumi.
Kondisi yang belum mampu menghasilkan secara mandiri dan masih bergantung pada donasi menjadi ruang latihan kesabaran dan keikhlasan."Barangkali kita kecil dan kurus, tapi besar hati," ujar Irma.
Yamuti Tasikmalaya menjadi tempat bernaung bagi mereka yang datang dalam kondisi tidak berdaya. Individu dengan penyakit berat, keterbatasan ekonomi, hingga mereka yang ditinggalkan keluarga, datang membawa harapan untuk bertahan. Sebanyak 11 anak saat ini berada dalam pembinaan sebagai amanah yang dijaga dengan kesadaran bahwa hidup dijalani semata-mata untuk beribadah kepada Allah.
Internalisasi Al-Qur'an dan hadits menjadi penekanan utama dalam pembinaan relawan. Pemahaman keagamaan diharapkan tidak berhenti pada pengakuan lisan, tetapi terwujud dalam tindakan nyata. Sikap sami'na wa atha'na perlu disertai kesungguhan berbuat dan konsistensi dalam amal.
Nilai kemandirian ditanamkan kepada anak-anak binaan. Pendidikan Rasa syukur, kebiasaan berterima kasih, serta komitmen untuk memberi ditumbuhkan sebagai budaya. Kegembiraan saat menerima diarahkan agar sejalan dengan kesiapan untuk berbagi kepada sesama. Kewaspadaan terhadap hawa nafsu dan pengaruh lingkungan menjadi bagian penting dalam menjaga fokus ibadah.
Fenomena ghazwul fikri dipahami sebagai distraksi yang perlahan menjauhkan manusia dari misi pengabdian,termasuk kecenderungan menunda amal karena hiburan. Kebiasaan membaca Al-Qur'an Beserta terjemahannya kembali ditekankan sebagai upaya merawat kesadaran diri dan ketuhanan. Fokus pengabdian diarahkan untuk tetap berjalan lurus ke depan.
Kejujuran dalam menyampaikan program yayasan kepada masyarakat menjadi kunci keberlanjutan. Perjuangan tersebut dimaknai sebagai perdagangan dengan Allah Yang menuntut keberanian dan keyakinan bahwa setiap ikhtiar tidak akan sia-sia.Upaya maksimal diyakini mampu membantu yayasan mencapai target bulanannya. Aktivitas berjalan kaki berkilo-kilo meter dipandang sebagai bentuk ikhtiar yang menumbuhkan empati dan kepercayaan publik. Pengabdian tersebut tidak hanya memerdekakan ruh dan ilmu, tetapi juga menjaga kesehatan jasmani relawan.
Kehidupan dunia dipahami sebagai tempat singgah sementara.Kesadaran tersebut mendorong pilihan untuk mempercepat langkah ketaatan dibanding larut dalam keluh kesah. Keikhlasan dan kewaspadaan menjadi pondasi dalam menjalani setiap amanah.Pesan pengabdian relawan tersebut sejalan dengan firman Allah Dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 24,
"Katakanlah: Jika bapak-bapak,anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nyaserta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."
Falam ayat ini menjelaskan bahwa pengabdian sejati berakar pada kecintaan tertinggi kepada Allah dan Rasul-Nya, melampaui kepentingan duniawi apa pun. (ALR-26)
