Gimana Otak Mengelola Bahan Bakar Biar Kamu Tetap Bisa Fokus -->

Header Menu

Gimana Otak Mengelola Bahan Bakar Biar Kamu Tetap Bisa Fokus

Jurnalkitaplus
27/04/26

Screenshot (72).png
Ted-Ed

Sebuah mitos mengatakan bahwa kita hanya menggunakan 10% dari otak kita. Penjual di jalanan waktu itu berjanji menyingkap potensi tersembunyi di sana dengan metode "berdasarkan ilmu saraf," tetapi yang sebenarnya mereka singkap hanyalah dompetmu. 

Dua pertiga dari masyarakat dan hampir setengah dari guru sains secara keliru percaya mitos 10% ini. 

Ahli ilmu Syaraf Amerika, Richard E. Cytowic, menjelaskan dalam Ted-Ed "What percentage of your brain do you use?" pada 30 Januari 2014 silam.

Pada tahun 1890-an William James, bapak psikologi Amerika, mengatakan "Kebanyakan dari kita tidak memenuhi potensi mental kita." James memaknai ini sebagai tantangan, bukan sebagai tuduhan penggunaan otak yang minim. Namun kesalahpahaman itu terus melekat.

Dulu para ilmuwan juga sempat bingung dengan fungsi bagian depan otak (lobus frontal) dan bagian samping-atas (lobus parietal) yang ukurannya sangat besar. Karena saat bagian ini cedera, kemampuan gerak dan indra tubuh tetap normal, mereka sempat mengira area tersebut tidak punya pengaruh apa pun.

Selama beberapa dekade bagian-bagian ini disebut area diam atau silent mode, fungsinya sulit dipahami. Kita tahu bahwa otak mengontrol kemampuan eksekutif dan integratif, yang tanpa itu, kita bukanlah manusia. Mereka sangat penting untuk penalaran abstrak, perencanaan, menimbang keputusan, dan beradaptasi dengan keadaan. 

Gagasan 9 dari 10 otak kita duduk menganggur di tengkorak jadi tampak konyol ketika kita menghitung bagaimana otak menggunakan energi

Otak hewan pengerat dan anjing mengkonsumsi 5% dari total energi tubuh. Otak monyet menggunakan 10%. Otak manusia dewasa, yang hanya menyumbang 2% dari massa tubuh, mengkonsumsi 20% dari glukosa harian yang dibakar. Pada anak-anak, angka itu 50%, dan pada bayi, 60%. Ini jauh lebih banyak dari yang diharapkan untuk ukuran otak relatif mereka, yang berskala sebanding dengan ukuran tubuh. 

Otak manusia beratnya 1,5 kilogram, otak gajah 5 kg, dan otak paus 9 kg, namun berdasarkan beratnya, manusia memiliki lebih banyak neuron daripada spesies lain. Kepadatan ini yang membuat kita begitu pintar

Ada pertukaran antara ukuran tubuh dan jumlah neuron yang dialami oleh primata, termasuk kita sebagai manusia. Seekor kera seberat 25 kg harus makan 8 jam sehari untuk menopang otak dengan 53 miliar neuron. Penemuan memasak, satu setengah juta tahun yang lalu, memberi kita keuntungan besar. Makanan yang dimasak menjadi lunak dan dicerna. Usus kita lebih mudah menyerap energinya. 

Memasak mempersingkat waktu dan menyediakan lebih banyak energi daripada jika kita makan bahan makanan mentah dan karenanya kita dapat menopang otak dengan 86 miliar neuron yang padat. 40% lebih banyak dari kera. 

Begini cara kerjanya. Otak kita adalah organ yang luar biasa boros energi karena separuh kalorinya habis terbakar hanya demi menjaga struktur sel tetap utuh dengan memompa ion natrium dan kalium melintasi membran. Di sini, kalori berperan sebagai bahan bakar mentah yang kita makan, yang kemudian diolah tubuh menjadi ATP. Si "batu bara" siap pakai untuk metabolisme. 

Bak mesin raksasa yang melahap 3,4 x 10^21 molekul ATP setiap menitnya, otak menghabiskan energi berharga ini untuk mempertahankan muatan listrik pada 86 miliar neuron agar tetap siaga. Namun, biaya perawatan yang ini menyisakan kenyataan pahit: energi yang tersisa untuk benar-benar mengirimkan sinyal saraf dan menyelesaikan tugas berpikir justru menjadi sangat sedikit.

Iya, otak menjaga dirinya tetap "menyala" sebelum akhirnya bisa mulai bekerja.

Jika terlalu banyak saraf menyala bersamaan, beban energinya akan meledak dan membuat sistem menjadi tidak stabil. Di sinilah efisiensi energi yang disebut sparse coding berperan; alih-alih menyalakan semua saraf, otak hanya mengirimkan sedikit sinyal namun kaya akan informasi melalui ribuan jalur kemungkinan. Meski cara ini cerdas dalam menghemat tenaga, tantangan terbesarnya tetaplah pada biaya energi yang tinggi. Jika proses berpikir ini terjadi terlalu masif secara bersamaan, otak akan tetap kewalahan menanggung bebannya.

Lebih buruk lagi, jika sebagian besar otak tidak pernah dipakai maka mereka menjadi tidak berguna. Evolusi seharusnya sudah membuang mereka sejak lama. 

Solusinya adalah mencari tahu berapa banyak sel dengan proporsi optimum yang bisa diaktifkan otak dalam satu waktu. Untuk efisiensi maksimum setidaknya 1% sampai 16% sel di dalam otak harus terus aktif. Itulah batasan energi yang diperlukan agar kita tetap hidup dalam keadaan sadar. 

Screenshot (75).png
Ted-Ed

Pentingnya menghemat energi menjadi alasan sebagian besar kerja otak harus berlangsung secara tidak sadar. Itulah mengapa multitasking sebaiknya dihindari. Kita kekurangan energi untuk melakukan dua hal sekaligus, apalagi tiga atau lima. Hasil pengerjaan multitasking akan lebih buruk daripada kita menaruh fokus pada satu hal. 

Otak kita sudah pintar dan kuat. Sangat kuat sehingga otak memerlukan banyak energi untuk tetap kuat. Dan sangat pintar sehingga bisa merencanakan penggunaan energi secara efisien. 

Jangan biarkan mitos membuatmu merasa bersalah atas otak yang kamu anggap malas itu. Menyalahkan diri adalah hal percuma. Sadarkah kamu akan sangat buruk jika menyia-nyiakan energi mental? kamu memiliki miliaran neuron haus energi yang harus dijaga. Jadi, tetaplah fokus. (ALR-26)