"Kalau proteinnya tidak cukup, anak-anak kita bukannya jadi bonus demografi malah jadi katastrop demografi" - Prof. Ali Agus
Ia mengawali dengan konsep integrated farming sebagai ikhtiar merawat bumi sekaligus memproduksi bahan pangan yang thayyib (baik). Pangan yang baik tidak hanya mengenyangkan, tetapi menyehatkan tubuh dan menguatkan akal. Dari sinilah lahir generasi yang kokoh secara fisik dan matang secara intelektual. Pendidikan yang mengabaikan gizi dan pangan, menurutnya, akan kehilangan fondasi paling dasar.
Kekurangan protein menyebabkan tubuh lemah, mudah sakit, dan perkembangan otak terhambat. Inilah salah satu ciri stunting yang kerap diabaikan. Anak yang tidak terbiasa mengonsumsi susu sejak dini juga akan menghadapi risiko tulang rapuh di usia lanjut. Bahkan dalam contoh sederhana, kekuatan fisik yang lemah akan berpengaruh pada daya saing. Tanding basket, kata Ali, bisa cepat kalah.
Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN Eng. (LognewsTV/YouTube)
Prof. Ali mengingatkan hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dibanding mukmin yang lemah. Kekuatan yang dimaksud tidak semata kekuatan iman, tetapi juga kekuatan fisik dan akal. Anak-anak yang hari ini dididik dengan gizi baik akan menjadi aset bangsa di masa depan, bukan beban sosial. Otak mereka terisi oleh nutrisi yang cukup sehingga mampu berpikir jernih dan produktif.
Ia menegaskan bahwa sumber protein terbaik berasal dari pangan hewani seperti daging, telur, madu, dan susu. Karena itu, tanah harus disuburkan dan dimakmurkan agar mampu menopang produksi pangan tersebut. Namun realitas hari ini justru menunjukkan krisis ekologis. Lebah mengalami stres karena bunga tercemar pestisida. Mereka kembali ke sarang tanpa nektar, penyerbukan gagal, buah tidak tumbuh, dan manusia kehilangan sumber pangan sehat.
Situasi ini menjadi peringatan serius bahwa kehadiran manusia belum sepenuhnya membawa rahmat bagi alam. Tanaman dan ternak, menurut Prof. Ali, harus dimuliakan.
Pemupukan dilakukan secara berimbang agar tanah tetap hidup dan berkelanjutan. Teknologi peternakan berperan penting dalam hal ini, mulai dari teknologi pemuliaan dan breeding, teknologi reproduksi, sistem perkandangan, teknologi pakan, teknologi veteriner, hingga mesin dan peralatan peternakan. Dengan teknologi yang tepat, hewan ternak pun dapat tumbuh optimal dan terhindar dari kondisi stunting.
Menurut perspektif ekonomi, Prof. Ali menguraikan ciri bisnis pangan yang berkah. Dimulai dari tanah yang subur, benih unggul yang alami, penggunaan pupuk dan pakan non kimia, kesejahteraan petani sebagai produsen, hasil pangan yang halal dan thayyib, perdagangan yang adil, hingga menunaikan zakat setelah panen.
Rantai pangan yang adil dan beretika inilah yang akan melahirkan keberkahan sosial.
Ia juga memperkenalkan berbagai teknologi pakan yang telah diadopsi masyarakat luas, seperti formula pakan konsentrat, fermented complete feed atau yang dikenal sebagai burger pakan, serta beragam suplemen pendukung nutrisi ternak. Inovasi-inovasi ini bertujuan meningkatkan efisiensi sekaligus kualitas hasil peternakan tanpa merusak lingkungan.
Melalui inisiatif seperti Bengkel Sapi dan pengembangan burger pakan ternak, Prof. Ali meyakini bahwa pesantren dan lembaga pendidikan berasrama memiliki potensi besar menjadi pusat kedaulatan pangan. Pendidikan tidak hanya melahirkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang mandiri, berdaulat atas pangannya, serta memiliki kepedulian mendalam terhadap bumi dan kehidupan.
Pelatihan ini menegaskan bahwa pendidikan, pangan, dan ekologi adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dari kesadaran ini, tanah tetap subur, pangan yang sehat, hingga generasi yang tanggap. (ALR-26)
