Dulu Pemerintah Jerman Takut Pada Taman Kanak-Kanak -->

Header Menu

Dulu Pemerintah Jerman Takut Pada Taman Kanak-Kanak

Jurnalkitaplus
22/05/26

image.png
Ted-Ed/YouTube

Pada tahun 1840 lalu seorang tokoh pendidikan asal Jerman, Friedrich Fröbel, mendirikan sekolah khusus anak usia dini yang disebut Kindergarten, yang berarti taman kanak-kanak. Ia sengaja menghindari nama "sekolah" biasa karena ingin menciptakan tempat yang menyenangkan, bukan tempat belajar yang kaku dengan sistem hafalan.

Anak-anak di TK ini diberikan kebebasan untuk bermain, bernyanyi, dan bersosialisasi agar mereka bisa tumbuh dan berkembang secara alami. Namun, metode pembelajaran yang bebas ini justru membuat pemerintah Kerajaan Prusia merasa terancam

Sebagai informasi, pada masa Friedrich Fröbel (tahun 1851), negara Jerman modern yang bersatu seperti sekarang belum terbentuk. Jerman saat itu masih terpecah menjadi puluhan kerajaan kecil. Prusia adalah kerajaan Jerman yang paling mendominasi di wilayah utara. Dan  Fröbel mendirikan sekolah TK pertama tersebut tepat di dalam wilayah hukum Kerajaan Prusia.

Ted-Ed berkolaborasi bersama LEGO Foundation menjelaskan dalam "The missing ingredient in how we learn" pada 12 Mei 2026. Bahwa pemerintah takut anak-anak yang dididik dengan cara bebas akan tumbuh menjadi orang yang kritis dan berani memberontak melawan kerajaan

Karena ketakutan politik ini, pemerintah Prusia menganggap sekolah Fröbel berbahaya bagi masyarakat dan akhirnya melarang operasional TK di negara mereka. Menyanyi dan menari, berkebun, melukis, dan bermain dianggap sebagai kurikulum kontroversial. 

Prusia melarang taman kanak-kanak, memberlakukan sistem kelas yang diawasi secara ketat dan pelajaran yang disetujui pemerintah yang secara jelas memisahkan waktu belajar dari waktu bermain. Dan selama abad berikutnya, model Prusia menginspirasi sistem sekolah umum di seluruh dunia. 

Meskipun saat ini bermain dan belajar sering dianggap sebagai dua hal yang bertolak belakang, pemikiran tersebut muncul dalam beberapa abad terakhir. 

Sejak zaman dahulu, anak-anak di seluruh dunia justru selalu belajar melalui cara bermain. Mereka secara alami memahami hal-hal baru dengan cara mengamati dan meniru kegiatan orang dewasa, menjelajahi lingkungan sekitar, serta membagikan pengalaman tersebut kepada teman dan keluarga mereka.

image.png
Ted-Ed/YouTube

Banyak komunitas dan pendidik masih percaya bahwa bermain adalah salah satu guru terbaik yang kita miliki, dan mereka telah mengambil berbagai pendekatan untuk menjaga agar pembelajaran mandiri semacam ini tetap hidup. 

Fröbel di TK nya menyediakan mainan yang dirancang khusus membantu anak-anak mempelajari konsep-konsep seperti volume, kepadatan, bahkan prinsip-prinsip geometri. Dan kini, sekolah Montessori (sekolah yang menerapkan metode pendidikan ramah anak yang diciptakan dokter dan pendidik asal Italia, Maria Montessori, pada awal abad ke-20) terus menerapkan pembelajaran berbasis mainan. 

Mainan Montessori atau materi, sebagaimana mereka menyebutnya, dirancang secara cermat untuk mengisolasi dan mengajarkan konsep-konsep spesifik. Sebagai contoh, untuk belajar matematika, bayi dan balita menjelajahi dimensi dengan silinder kayu yang gemuk, kemudian membuka penalaran spasial lebih lanjut dengan satu set balok-balok merah muda yang dapat ditumpuk. 

Anak-anak yang lebih besar menaiki tangga cokelat untuk belajar tentang tinggi, sementara serangkaian batang merah mengungkapkan rahasia panjang dan keseimbangan. 

Guru secara lembut membimbing eksplorasi ini dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa dan menyarankan kegiatan khusus materi, seperti menyusun batang-batang sesuai urutan ukuran. Namun, ruang kelas Montessori juga memiliki rentang usia yang beragam dan rasio guru-murid yang rendah untuk mendorong siswa menjelajahi materi bersama dan belajar satu sama lain. 

Sekolah Reggio Emilia, metode pendidikan anak usia dini dari kota di Italia bernama Reggio Emilia, yang dikembangkan psikolog Loris Malaguzzi juga memberikan siswa objek sensorik untuk dieksplorasi bersama, tetapi mereka terutama berfokus pada membiarkan siswa mengarahkan pembelajaran mereka. 

Setiap sudut kelas Reggio dirancang untuk menghargai rasa ingin tahu, memungkinkan siswa untuk mengikuti minat mereka dan mengekspresikan diri mereka dengan berbagai alat artistik. 

Bahkan ketika guru-guru Reggio memberikan tugas proyek formal, mereka memulainya dengan mengajukan pertanyaan terbuka kepada siswa, mulai dari bagaimana cara membuat model kapal mengapung atau tenggelam hingga bagaimana mereka harus mendekorasi studio seni. 

Kemudian mereka merancang proyek untuk mengeksplorasi asumsi dan minat siswa, sambil menyelaraskan kurikulum mereka. 

Screenshot (91).png
Ted-Ed/YouTube

Para skeptis mungkin berpendapat bahwa pembelajaran mandiri memungkinkan anak-anak menghindari mata pelajaran yang tidak mereka minati, yang menyebabkan beberapa siswa tertinggal. Tetapi, sebagian besar sekolah ini menggunakan pendekatan interdisipliner (menggabungkan dua atau lebih disiplin ilmu) untuk memastikan tidak ada mata pelajaran yang tertinggal. 

Contohnya, di Sekolah Laboratorium berbasis proyek, hari dimulakan dengan memecahkan teka-teki angka, kemudian menggunakan jawaban untuk menyusun karya musik atau seni tiga dimensi. Dengan memilih untuk menjelajahi konsep-konsep yang tumpang tindih melalui berbagai proyek, guru dapat menunjukkan aplikasi praktis yang berbeda, membuat ide-ide abstrak terasa konkret dan berguna. Dalam semua model ini, memberikan siswa lebih banyak keleluasaan datang dengan tantangan.

Anak-anak yang berbeda memiliki kebutuhan yang berbeda, jadi pendidik harus sensitif dan mampu beradaptasi. 

Mulai dari menata ulang ruangan hingga mengalihkan perhatian, guru perlu menanggapi setiap siswa sambil menjaga lingkungan yang aman dan menyenangkan bagi semua. Ini membutuhkan banyak kecerdasan emosional, waktu persiapan, dan kepercayaan dari kedua orang tua dan administrasi sekolah. Namun bagi banyak pendidik dan peserta didik, usaha ini worth it,sepadan. 

Sebuah analisis tahun 2023 terhadap lebih dari 30 penelitian menemukan bahwa pendidikan Montessori mengungguli sekolah tradisional dalam pembelajaran bahasa dan matematika, serta dalam mengembangkan kreativitas dan keterampilan sosial. 

Manfaat ini lebih dari sekadar pembelajaran dini. Banyak universitas beralih dari pembelajaran berbasis kuliah menuju proyek jangka panjang dan diskusi meja bundar. 

Lifelong Kindergarten MIT, atau kelompok riset terkenal di laboratorium Institut Teknologi Massachusetts AS, mencoba memperluas pendekatan bermain dan mengutamakan kreativitas kepada peserta didik dari segala usia, memberi siswa berbagai alat fisik dan digital untuk menjelajah, bereksperimen, dan mengekspresikan diri. 

Beberapa mahasiswa arsitektur dan teknik bahkan menggunakan mainan khusus Fröbel untuk mengasah prinsip-prinsip desain dan penalaran spasial mereka. Menunjukkan bahwa bukan anak-anak saja yang belajar melalui bermain. (ALR-26)