Kenapa Bayi Anggap Cilukba Seperti Trik Sulap yang Nyata? -->

Header Menu

Kenapa Bayi Anggap Cilukba Seperti Trik Sulap yang Nyata?

Jurnalkitaplus
12/05/26

image.png
Ted-Ed

"Ciluk...ba!" sering kita ucapkan kepada bayi untuk menarik perhatian mereka. Di Italia, ini disebut "Il gioco del cucù". Orang Palestina mengatakan "Ba’ ’éno". Dan di Jepang itu "Inai-inai...ba!

Meski bahasanya berbeda, responsnya biasanya sama. 

Ciluk ba sering bikin penerimanya tertawa dan merupakan hubungan yang universal bagi bayi dan orang dewasa. Jadi, bagian apa sebenarnya dari permainan konyol ini, yang sangat disukai bayi? 

Ted-Ed berkolaborasi dengan LEGO Group dan LEGO Foundation pada 30 April 2026 menjelaskan, meskipun bayi berkembang dengan kecepatan yang berbeda-beda, banyak kemampuan kognitif dan motorik muncul dalam urutan tertentu. 

Contohnya bayi berusia 6 bulan biasanya dapat meraih sesuatu, dan kemudian menjatuhkannya. Kemampuan berjalan dan berbicara umumnya dimulai sekitar usia 12 bulan. Linimasa ini pertama kali dipetakan secara formal pada tahun 1936 oleh psikolog Swiss, Jean Piaget. 

Meskipun sebagian besar peneliti modern setuju bahwa proses ini lebih cair daripada yang diyakini Piaget, perkembangan awal yang ia identifikasi adalah kunci untuk memahami cilukba. 

Pertama adalah pemrosesan wajah. Ini terjadi hampir seketika, bayi baru lahir yang berusia dua hari dapat mengenali wajah pengasuh mereka. Kemudian, sekitar 6 hingga 10 minggu, bayi akan mulai tersenyum sosial. Saat inilah mereka memperhatikan wajah-wajah yang tertawa atau tersenyum di dekatnya dan mulai menirunya. 

Pada usia 2 hingga 4 bulan, bayi mulai belajar tentang sebab-akibat. Lalu, saat memasuki usia 4 hingga 7 bulan, mereka mulai memahami konsep "keberadaan benda" (object permanence). Menurut pakar bernama Piaget, ini adalah masa di mana bayi sadar bahwa orang atau benda tetap ada meskipun sedang tidak terlihat. 

Sebelum fase ini, bayi benar-benar berpikir bahwa apa pun yang hilang dari pandangan mereka berarti hilang juga dari dunia. Itulah mengapa saat kita menutupi wajah, mereka merasa itu seperti trik sulap yang nyata. 

Awalnya, "aksi menghilang" ini bisa membuat mereka bingung atau malah senang. Namun, saat bayi mencapai usia 9 bulan, semua kemampuan ini menyatu sempurna, menjadikan permainan cilukba sebagai hiburan paling oke bagi mereka.

Pada usia ini, bayi dapat fokus pada permainan lebih lama, memprediksi waktu kemunculan, dan bahkan mencari benda atau orang yang tersembunyi. Dan karena bayi belajar tentang dunia melalui bermain, cilukba adalah salah satu guru pertama mereka. 

Berdasarkan video dari Ted-Ed yang berjudul "The fascinating reason you loved peek-a-boo", para peneliti melakukan sebuah eksperimen terhadap bayi berusia 11 bulan. Caranya, bayi-bayi ini diperlihatkan sebuah penghalang yang bagian bawahnya sengaja disembunyikan di balik layar. 

Kemudian, para peneliti mulai menggulirkan bola dan mobil mainan ke arah belakang layar tersebut. Setelah itu layar disingkirkan untuk menunjukkan hasilnya. Ada dua kemungkinan yang dilihat oleh bayi: 
  1. Mainan tersebut berhenti di penghalang, persis seperti yang kita harapkan secara logika. 
  2. Secara ajaib, mainan tersebut seolah-olah berhasil menembus penghalang tadi. 

Hasilnya: bayi melihat mainan yang "tampak ajaib" atau menembus benda tadi menunjukkan minat yang jauh lebih besar setelahnya. Mereka bahkan sampai mengabaikan benda-benda baru lainnya hanya demi fokus pada mainan yang sebelumnya memberikan hasil yang menantang harapan atau logika mereka.

Permainan Cilukba memiliki beberapa ciri khas yang oleh para peneliti disebut sebagai permainan sosial: kontak mata, bergantian, dan perhatian bersama. 

Keterampilan ini adalah dasar dari percakapan manusia, dan karena ini adalah sebuah percakapan, apa yang dilakukan orang dewasa itu penting. Sama seperti pengasuh belajar membaca tangisan dan isyarat verbal bayi mereka, bayi belajar bagaimana orang dewasa merespons perilaku mereka. 

Beberapa peneliti menyebut interaksi bolak-balik ini sebagai interaksi “melayani dan mengembalikan”, dan cilukba adalah contoh utamanya. 

Seiring dengan perkembangan kemampuan motorik dan kognitif lainnya, dasar keterampilan sosial dan ketetapan objek ini memengaruhi berbagai jenis permainan. Setelah anak-anak mulai bisa berjalan dan berbicara, permainan cilukba biasanya akan berubah menjadi petak umpet. Namun, cara mereka bersembunyi masih belum terlalu bagus. Hal ini terjadi karena mereka belum memiliki kontrol diri (impuls) yang kuat dan belum menguasai kemampuan yang disebut "teori pikiran" (theory of mind). 

Teori pikiran sendiri adalah kemampuan seseorang untuk memahami, membayangkan, sekaligus memprediksi apa yang ada di pikiran atau perasaan orang lain. Tanpa kemampuan ini, seorang anak kecil mungkin merasa sudah bersembunyi dengan sempurna hanya dengan menutupi mata mereka sendiri. 

Logika mereka sederhana: karena mereka tidak bisa melihat kita, maka mereka yakin kita pun pasti tidak bisa melihat mereka.

Setelah kemampuan teori pikiran ini berkembang, biasanya sekitar usia 3 atau 4 tahun, anak-anak sudah mulai bisa bermain pura-pura bersama teman-temannya. Di tahap ini, mereka semua bisa masuk dan berbagi dalam dunia imajinasi yang sama. 

Menariknya, meskipun mereka sedang asyik bermain pura-pura yang sangat kompak sekalipun, permainan tersebut sering kali masih diwarnai unsur kejutan, mirip seperti sensasi saat bermain cilukba.

Pada usia 5 dan 6 tahun, bahasa berkembang menjadi negosiasi yang lebih menyenangkan, yang mengarah pada permainan dengan aturan yang lebih rumit. Setelah titik ini, sebagian besar jenis permainan favorit anak-anak lebih ditentukan oleh kepribadian dan minat mereka daripada perkembangan kognitif mereka. (ALR-26)