TedEd/YouTube
Pada suatu pagi di Prancis tahun 1885, seorang anak berusia 9 tahun bernama Joseph Meister diserang oleh seekor anjing hingga menderita 14 luka gigitan. Sang ibu panik karena tahu anjing tersebut mengidap rabies, penyakit mematikan yang saat itu belum ada obatnya.
Demi menyelamatkan nyawa anaknya, sang ibu nekat membawa Joseph ke Paris untuk menemui ilmuwan Louis Pasteur. Saat itu, Pasteur dan timnya sedang meneliti vaksin eksperimental menggunakan sumsum tulang belakang kelinci yang dikeringkan untuk melemahkan virus.
Meskipun prosedurnya sangat berisiko, Joseph menerima serangkaian suntikan tersebut dan berhasil selamat. Joseph Meister pun tercatat dalam sejarah sebagai manusia pertama yang selamat dari rabies berkat vaksinasi.
Apa itu rabies, bagaimana ia menyebar, dan cara mencegahnya dipaparkan oleh salah satu pakar, ilmuwan, dan peneliti rabies terkemuka di dunia Charles Rupprecht dalam Ted-Ed "Why is getting bitten by a rabid animal so dangerous?" pada 19 Mei 2026.
Mengenal Virus Rabies dan Inangnya
Hingga hari ini, rabies tetap menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia yang membunuh sekitar 59.000 orang setiap tahunnya. Penyakit ini disebabkan oleh sekitar 20 spesies virus dalam genus Lyssavirus yang menyerang sistem saraf mamalia.
Spesies yang paling banyak ditemukan adalah Rabies Lyssavirus. Di alam liar, virus ini sebagian besar bertahan lama pada populasi kelelawar, serta telah beradaptasi pada hewan karnivora seperti rubah, rakun, dan sigung. Namun, bagi manusia, sebagian besar kasus infeksi justru berasal dari gigitan anjing.
Cara Virus Masuk dan Merayap ke Otak
Infeksi dimulai ketika air liur hewan yang terinfeksi masuk ke jaringan tubuh inang baru, baik melalui luka gigitan yang dalam maupun jilatan pada area sensitif seperti mata. Di dalam tubuh, partikel utuh virus (yang disebut virion) akan langsung bergerak menuju otak.
Jika lokasi gigitan berada di dekat kepala, proses ini akan berjalan jauh lebih cepat.
Virion rabies sangat pintar bersembunyi. Mereka bisa diam selama berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun di dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala langsung. Selama masa tunggu ini, mereka menekan sistem imun lokal agar keberadaannya tidak terdeteksi. Secara perlahan, virion mulai masuk ke sel saraf dan memanfaatkan jalur transportasi saraf (akson) untuk merayap menuju otak dengan kecepatan hingga 100 milimeter per hari.
Posisi di dalam sel saraf inilah yang melindungi mereka dari kejaran sistem kekebalan tubuh.
TedEd/YouTube
Dua Jenis Gejala Rabies
Begitu virus mencapai sistem saraf pusat, fase penghancuran yang fatal dimulai. Gejala awalnya sangat mengecoh karena mirip sekali dengan flu biasa. Saat virus mulai merusak saraf, ada dua jenis gejala yang bisa terjadi pada pasien:
- Rabies Paralitik: Ditandai dengan ekspresi wajah yang kosong, tubuh melemah, hingga mengalami kelumpuhan.
- Rabies Ganas: Ditandai dengan perilaku hiperaktif, gerakan tak terkendali, halusinasi, sifat agresif, hingga berujung kelumpuhan.
Gejala Takut Air dan Cara Penularan
Ketika virion mulai menumpuk di kelenjar air liur, tubuh inang akan memproduksi air liur secara berlebihan. Pada manusia, infeksi ini juga memicu hidrofobia (takut air). Gejala ini terjadi karena otot tenggorokan mengalami kejang hebat yang membuat proses menelan air terasa sangat sakit. Kondisi ini justru menguntungkan virus, karena air liur yang penuh dengan konsentrasi virus tidak tertelan dan tetap berada di mulut, siap ditularkan ke inang lain melalui gigitan.
Meskipun hewan sangat efektif menularkan virus ini, manusia tidak. Kasus penularan antar manusia sangat jarang terjadi, kecuali melalui kasus khusus seperti transplantasi jaringan atau organ.
Langkah Bijak Pencegahan Dini
Hingga saat ini, ilmuwan masih terus meneliti terapi baru karena karakteristik virion yang pintar menghindari imun dan merusak sel, membuat penyakit ini hampir mustahil diobati jika gejala sudah muncul. Sangat sedikit orang yang bisa selamat setelah gejalanya keluar, itu pun membutuhkan perawatan intensif dan biasanya menyisakan kerusakan saraf permanen.
Karena Lyssavirus memiliki terlalu banyak inang alami di alam liar, penyakit ini juga mustahil untuk dimusnahkan total dari bumi. Oleh karena itu, tindakan pencegahan sebelum virus merusak saraf pusat menjadi satu-satunya kunci keselamatan.
Saat ini dunia medis menyediakan dua rangkaian vaksinasi yang efektif:
- Profilaksis Pra-Pajanan (PrEP): Vaksinasi pencegahan sebelum terjadinya paparan.
- Profilaksis Pasca-Pajanan (PEP): Vaksinasi darurat segera setelah terjadinya paparan.
Mengingat fatalnya dampak virus ini, segala jenis potensi paparan, bahkan yang belum dikonfirmasi sekalipun, seperti mendapati ada kelelawar di dalam kamar saat kita tertidur, wajib mendapatkan pemeriksaan medis yang serius. (ALR-26)
