Tolok Ukur Ini Bikin Karyawan Produktif Alami Burnout -->

Header Menu

Tolok Ukur Ini Bikin Karyawan Produktif Alami Burnout

Jurnalkitaplus
03/06/26

Instagram (2).png

Kita makin sering mengalami kelelahan bekerja atau burnout. Bagaimana cara kita bisa tetap bangga dengan hasil kerja, tanpa merasa seluruh hidup kita tersita habis oleh pekerjaan? 

Dulu tanda orang sibuk cuma terlihat di kantor. Sekarang berbeda, semua orang bisa mengawasi kita lewat setiap email yang dikirim atau seberapa aktifnya kita balas-balasan chat di WA.

Kerjaan jadi bisa dibawa ke mana-mana; pas berangkat kerja, jalan pulang, di rumah, sampai pas akhir pekan. 

"Cukup sudah. Kita ini makin lama makin diperas dan kelelahan." kata ilmuwan komputer sekaligus penulis asal AS, Cal Newport, dalam pernyataannya di YouTube Big Think + pada 17 Juli 2024. 

Menurutnya, kita memiliki definisi produktivitas yang salah, dan yang perlu dilakukan sebagai gantinya adalah mengalihkan fokus kita pada hasil

Pencipta buku "Slow Productivity: Seni yang Hilang untuk Meraih Prestasi Tanpa Kelelahan Kerja." tersebut menceritakan bagaimana sektor pengetahuan muncul di pertengahan abad kedua puluh. 

Ketika muncul, pemahaman terbaik kita tentang produktivitas berasal dari manufaktur. Kalau di dunia pabrik (manufaktur), mengukur produktivitas itu gampang dan angkanya kelihatan jelas. Contohnya, kita bisa langsung hitung: 'Berapa banyak mobil Model T yang berhasil dirakit dalam satu jam kerja?' Angka itulah penentunya. 

Tapi begitu masuk ke era kerja pakai otak (pekerjaan berbasis pengetahuan), cara hitung-hitungan seperti itu sudah tidak berlaku lagi. Kenapa? Karena orang yang bekerja pakai pikiran tidak menghasilkan satu barang fisik yang sama secara berulang-ulang setiap jamnya.

Kita mungkin mengerjakan tujuh atau delapan hal yang berbeda pada saat yang sama. Ini bisa berbeda dengan tujuh atau delapan hal yang dikerjakan oleh orang di sebelah kita. 

Cal Newport menerangkan sebuah istilah bernama pseudo-produktivitas (alias produktivitas palsu). Karena perusahaan bingung cara mengukur hasil kerja otak kita, mereka akhirnya memakai jalan pintas: menilai kerja dari apa yang kelihatan mata. 

Prinsip mereka sederhana: 'Kalau saya lihat kamu lagi sibuk ngapa-ngapain, itu jauh lebih baik daripada kamu kelihatan diam.' 

Makanya, standar kerja zaman sekarang menurut Cal sangatlah kuno. Kita disuruh datang ke kantor cuma biar bisa diawasi kalau kita lagi kerja. Kalau kantor menuntut kita 'lebih produktif', solusinya cuma disuruh datang lebih pagi dan pulang lebih telat. 

Kantor menganggap kesibukan fisik itu adalah tanda utama kalau kita sudah menghasilkan sesuatu yang berguna. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Makin banyak waktu dan energi kita habis cuma buat kelihatan sibuk (seperti sibuk bolak-balik rapat atau cepat-cepatan balas chat), makin sedikit sisa waktu kita untuk benar-benar menyelesaikan pekerjaan penting yang sesungguhnya.

Solusinya? ialah slow productivity (produktivitas lambat). Sebuah cara untuk mengukur usaha yang bermanfaat, yang lebih terfokus pada kualitas yang kita hasilkan dari waktu ke waktu, alih-alih aktivitas kita yang terlihat pada saat itu. 

image.png
Big Think + (YouTube)

Cal Newport mendefinisikannya berdasarkan tiga prinsip utama: do fewer things at once, work at natural pace, dan obsess over quality.

Do fewer things at once (kerjakan lebih sedikit hal dalam satu waktu)
Gagasan ini menakuti banyak orang saat pertama kali mendengarnya karena mereka mengartikan "melakukan lebih sedikit hal" itu sebagai "mencapai lebih sedikit hal". Padahal yang sebenarnya dimaksud adalah melakukan lebih sedikit hal dalam satu waktu. 

Kita mengetahui hal ini dari neurosains dan psikologi organisasi, bahwa ketika kita mengalihkan target perhatian kita dari satu titik ke titik lain, butuh waktu bagi otak kita untuk menyesuaikan kembali. 

Hal-hal yang kita pikirkan sebelumnya meninggalkan apa yang dikenal sebagai sisa perhatian (attention residue). Ini adalah penurunan kapasitas kognitif yang kita paksakan pada diri sendiri, sehingga kita menghasilkan pekerjaan yang lebih buruk. Lebih buruk lagi, ini adalah kondisi melelahkan dan membuat frustrasi, sehingga pengalaman kerja itu sendiri terasa negatif. 

Lalu, apa yang terjadi jika mengerjakan lebih sedikit hal dalam satu waktu? Lebih banyak waktu dalam sehari yang benar-benar dapat dihabiskan untuk mencoba menyelesaikan komitmen-komitmen tersebut, yang berarti kita akan menyelesaikannya lebih cepat. Dan kemungkinan tingkat kualitasnya juga akan lebih tinggi karena kita dapat memberikan konsentrasi tanpa gangguan kepada hal-hal tersebut. 

Work at natural pace (Bekerja dengan ritme yang alami)
Prinsip kedua dari konsep ini adalah bekerja dengan ritme yang alami. Kalau kita melihat sejarah aktivitas ekonomi manusia selama ratusan ribu tahun terakhir, salah satu ciri utamanya adalah hidup kita itu sangat bergantung pada musim. Dulu, ada musim migrasi di mana kita harus pergi berburu hewan. Ada juga musim tanam di mana kita sibuk menanam, lalu beralih ke musim panen saat kita memanen hasilnya. 

Menariknya, ada juga musim tenang di mana kedua aktivitas (tanam dan panen) itu tidak terjadi sama sekali. Artinya, sepanjang tahun itu tingkat beban kerja kita selalu berubah-ubah dan bervariasi; ada kalanya kita bekerja sangat keras, ada kalanya kita bisa menurunkan tempo. 

Cal Newport merasa cara kerja alami seperti ini harus dibawa ke dunia pekerja otak atau pekerja pengetahuan (knowledge work) zaman sekarang. Jika waktu-waktu tertentu dalam setahun dibuat lebih intens dan sibuk daripada waktu lainnya, hal ini justru akan menghasilkan karya yang jauh lebih bagus dan membuat performa kerja kita bertahan lama dalam jangka panjang.

Jadi, tidak apa-apa untuk tidak bekerja dengan kapasitas maksimal selama 50 minggu setahun, lima hari seminggu. Kita bisa memiliki hari-hari yang sibuk dan hari-hari yang tidak terlalu sibuk. Kita bisa memiliki musim yang sibuk dan musim yang tidak terlalu sibuk. 

Obsess over quality (terobsesi pada kualitas)
Prinsip ketiga dari slow productivity adalah terobsesi pada kualitas. Maksudnya, kita harus mengenali hal-hal dalam pekerjaan kita yang menghasilkan nilai paling besar dan benar-benar peduli untuk menjadi lebih baik dalam hal tersebut. 

Setiap upaya untuk terobsesi pada kualitas harus dimulai dengan penyelidikan yang mungkin cukup menyeluruh terhadap pekerjaan kita sendiri. Dan setelah kita memahaminya, mulailah memberikan perhatian sebanyak mungkin pada aktivitas tersebut. Sebagai contoh, berinvestasilah pada peralatan yang lebih baik sehingga kita dapat memberi sinyal pada diri sendiri bahwa kita berkomitmen untuk melakukan hal ini dengan baik. 

Cal Newport sendiri melakukan ini saat menjadi peneliti pascadoktoral. "Saya berada di MIT (Institut Technology Massachusetts), tidak punya banyak uang saat itu, tetapi saya memutuskan membeli sebuah buku catatan laboratorium seharga lima puluh dolar (saat ini setara Rp880.147). Dengan ini saya bertekad menanggapi pekerjaan saya di buku catatan dengan lebih serius. Dan itu terbukti berhasil.

Saat kita punya modal alat kerja yang bagus dan berkualitas, secara psikologis otak kita akan ikut terpicu untuk menghasilkan ide-ide yang berkualitas juga.

Jadi, gagasan bahwa kita ingin memperlambat tempo, melakukan lebih sedikit hal, dan memiliki ritme yang lebih alami, sangatlah wajar ketika kita benar-benar fokus untuk melakukan apa yang kita kuasai dengan baik. Kita mulai melihat semua rapat, email, dan daftar tugas yang penuh sesak itu bukan sebagai tanda produktivitas, melainkan sebagai hambatan bagi apa yang sebenarnya ingin kita lakukan. 

Ilmuwan komputer tersebut meyakini jika kita menerapkan prinsip-prinsip ini, beberapa hal akan terjadi: tempo penyelesaian hal-hal penting akan meningkat. Kualitas dari apa yang kita hasilkan akan meningkat, dan kebahagiaan kita juga akan meningkat. Ini akan menjadi lingkungan kerja yang jauh lebih berkelanjutan, dan kita akan melakukan pekerjaan yang akan membuat kita lebih baik. (ALR-26)